BACAAJA, SEMARANG– Ada kalanya hasil pembinaan olahraga tidak perlu banyak teori. Cukup lihat siapa yang berdiri di podium. Empat atlet sepak takraw Jateng berhasil membawa pulang medali dari Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Yang bikin bangga, mereka bukan atlet yang tiba-tiba muncul ketika panggung internasional sudah terbuka.
Mereka ditempa sejak usia pelajar melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Jawa Tengah. Empat nama itu yakni Yudha Aswinatama dari Demak, Dini Mitasari dan M Ubaidur Rohman dari Jepara, serta Frisca Kharisma dari Banyumas.
Yudha berhasil menyabet medali perak dari nomor quadrant event putra. Sementara Dini, Ubaidur, dan Frisca masing-masing ikut menyumbangkan medali perunggu. Total ada empat medali dari sepak takraw yang masuk ke kantong kontingen Indonesia.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jateng, Aria Chandra Destianto menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan atlet sejak usia pelajar bisa menghasilkan prestasi hingga level Asia.
Baca juga: Dua Atlet PSE Semarang Bawa Pulang Medali Asian Games 2026
“Empat medali dari sepak takraw menjadi kebanggaan bagi Jawa Tengah. Yang membanggakan, atlet-atlet ini merupakan hasil pembinaan PPLOP Jawa Tengah,” ujar Aria.
Buat Aria, prestasi tersebut bukan sekadar kabar bagus yang selesai setelah seremoni penyambutan atlet. Justru ini menjadi semacam rapor untuk sistem pembinaan yang sudah berjalan.
Sebab, membentuk atlet tidak bisa seperti memasak mi instan. Masuk pembinaan hari ini, besok langsung jadi juara. Ada proses panjang, latihan berulang, pertandingan, evaluasi, sampai akhirnya seorang atlet siap menghadapi tekanan di level internasional.
Aria menilai keberhasilan empat atlet tersebut menunjukkan bahwa proses pembinaan secara berjenjang mulai membuahkan hasil. Karena itu, keberlanjutan pembinaan menjadi pekerjaan berikutnya.
Terus Didampingi
Atlet yang sudah menunjukkan potensi harus terus didampingi agar tidak berhenti hanya karena pernah meraih medali. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pembinaan yang dilakukan secara berjenjang mulai membuahkan hasil di level internasional,” katanya.
Pesan serupa datang dari Ketua Umum Pengprov Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jateng, Agung Hariyadi. Ia mengapresiasi perjuangan para atlet sekaligus mengingatkan agar capaian di Asian Games tidak membuat pembinaan berhenti di titik nyaman.
“Ini menjadi bukti bahwa tradisi prestasi sepak takraw Jateng masih terjaga. Namun, hasil ini tidak boleh membuat kami cepat puas. Pembinaan harus terus ditingkatkan agar ke depan bisa naik podium dengan medali emas,” ujar Agung.
Kalimat “belum puas” itu memang penting. Sebab, empat medali memang patut dirayakan. Tetapi olahraga tidak mengenal kata selesai. Hari ini perunggu, besok harus mengejar perak. Setelah itu, target berikutnya tentu emas.
Baca juga: Atlet Jateng Sabet 11 Medali di Asian Games 2026
Agung berharap keberhasilan Yudha, Dini, Ubaidur, dan Frisca bisa menjadi pemantik semangat bagi atlet-atlet muda Jateng lainnya yang kini masih menjalani proses pembinaan.
Mereka bisa melihat bahwa perjalanan dari bangku pelajar menuju panggung olahraga internasional bukan sekadar cerita motivasi. Ada jalannya. Ada sistemnya. Dan ada proses panjang yang harus dilewati.
Selain mengejar prestasi internasional, pembinaan atlet juga dipersiapkan menghadapi berbagai kejuaraan nasional, termasuk PON 2028. Artinya, setelah Asian Games selesai, pekerjaan rumah berikutnya sudah menunggu. Karena prestasi hari ini seharusnya bukan garis akhir, melainkan bahan bakar untuk mengejar prestasi berikutnya.
Empat atlet ini membuktikan bahwa bibit juara memang bisa tumbuh sejak bangku pelajar. Tinggal jangan sampai setelah mereka sukses, semua orang baru sibuk mengaku ikut “membina”.
Sebab atlet tidak tumbuh dari seremoni, tepuk tangan, atau spanduk ucapan selamat. Mereka tumbuh dari latihan, fasilitas, pelatih, kompetisi, dan pembinaan yang konsisten, jauh sebelum medali akhirnya menempel di leher. (tebe)

