BACAAJA, SEMARANG – Pondok Pesantren (Ponpes) Sahabat Mata di Dawung, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, resmi berdiri. Pesantren ini khusus untuk penyandang tunanetra yang ingin belajar agama sekaligus mengembangkan keterampilan.
Kejaksaan ikut terlibat dalam peresmian karena ingin menunjukkan kepedulian kepada penyandang disabilitas.
Peresmian dilakukan Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani, bersama Kepala Kejati Jawa Tengah dan jajarannya, Selasa (29/9/2026).
Bacaaja: Jangan Asal Pilih Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Bacaaja: Rumah Terapi Gratis untuk ABK, Bupati Agus Gondrong: Bentuk Cinta Warga Temanggung
Reda mengatakan, keberadaan Sahabat Mata perlu terus didukung karena memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Menurutnya, dukungan tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas.
“Komunitas Sahabat Mata ini hanya perlu teman yang untuk bisa mendukung prestasinya, kinerjanya,” kata Reda.
Ia berharap pesantren tersebut bisa menjadi contoh dukungan terhadap penyandang disabilitas di daerah lain. Kejaksaan juga akan mendorong jajarannya di daerah untuk memberikan dukungan jika menemukan komunitas yang membutuhkan.
“Ini akan kita jadikan percontohan. Kalau memang ada di daerah lain yang memang membutuhkan seperti ini, ya insyaallah nanti saya juga akan menggerakkan teman-teman saya yang ada di daerah situ atau Kejaksaan yang di daerah sana,” ujarnya.
Pengasuh Ponpes Sahabat Mata, Basuki, mengatakan pembangunan pesantren merupakan cita-cita yang dirintis sejak Sahabat Mata berdiri pada 2008. Setelah mendapatkan tanah wakaf, pembangunan pesantren akhirnya bisa direalisasikan.
“Dan kami ingin membuktikan bahwa bantuan ini insyaallah betul-betul bermanfaat bagi penyandang disabilitas sehingga mereka bisa berdaya, bermartabat dan mulia,” kata Basuki.
Para santri nantinya menjalani program selama tiga tahun. Mereka diharapkan memiliki bekal yang cukup untuk hidup mandiri setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Di sela peresmian, PMI Kota Semarang bersama Sahabat Mata juga meluncurkan kartu donor darah dan kartu golongan darah Braille. Kartu ini membantu penyandang tunanetra mengenali identitas kartunya sendiri. (bae)

