BACAAJA, BATANG – Korban keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mencapai 276 orang.
Bahkan, Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Satgas MBG Batang, Suyono, menyatakan pendataan masih terus berlangsung, sehingga tak menutup kemungkinan adanya korban tambahan.
Korban berasal dari berbagai jenjang. Mulai dari anak TK, siswa SD, SMP, SMA, hingga santri pondok pesantren. Wali murid juga ikut terdampak.
Bacaaja: 276 Orang Keracunan MBG di Batang, dari Siswa hingga Orang Tua
Bacaaja: Buruh Kompak Teriak ‘Tidak!’ soal MBG di Hadapan Prabowo, Bos Buruh Sibuk Klarifikasi
Sejumlah fasilitas kesehatan juga mulai kewalahan menangani siswa dan wali murid yang mengalami gejala diduga akibat makanan MBG.
Hingga Rabu (23/9/2026), tercatat 276 siswa dan wali murid dari 11 lokasi penerima manfaat mengalami keluhan setelah menyantap makanan yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang.
Makanan tersebut dikonsumsi sekitar pukul 11.00 WIB pada Selasa (22/9/2026). Namun, gejala pada sebagian penerima manfaat baru muncul pada Rabu sore hingga malam.
Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Satgas MBG Batang, Suyono, mengatakan kapasitas sejumlah fasilitas kesehatan mulai terbatas.
Puskesmas Limpung dilaporkan sudah penuh. Kondisi serupa juga terjadi di RSUD Batang.
“Di Puskesmas Limpung sudah penuh korban yang keracunan, RSUD Batang juga sudah penuh kamarnya meskipun per 21.00 ada 20 korban yang dirujuk ke sini,” kata Suyono saat ditemui di RSUD Batang, Rabu (23/9/2026) malam.
Pantauan di RSUD Batang menunjukkan ambulans terus berdatangan membawa korban.
Anak-anak hingga orang tua terlihat masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Petugas rumah sakit kemudian melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap para korban.
Namun, penanganan tidak hanya dilakukan di RSUD Batang. Sejumlah korban juga dirawat di fasilitas kesehatan lain, termasuk Puskesmas Subah, Puskesmas Limpung, dan Rumah Sakit Baitus Syifa Limpung.
“Ada yang di puskesmas-puskesmas. Ada yang di Puskesmas Subah yang dirawat inap, ada di Puskesmas Limpung, ada di Rumah Sakit Baitus Syifa Limpung,” ujar Suyono.
Siapkan rumah sakit rujukan
Pemerintah Kabupaten Batang kini mulai menyiapkan skema rujukan untuk mengantisipasi jika jumlah korban terus meningkat.
Suyono mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan rumah sakit agar korban yang tidak bisa ditampung dapat segera diarahkan ke fasilitas kesehatan lain yang masih memiliki kapasitas.
“Nanti kalau tetap ada yang ke RSUD Batang nanti dari rumah sakit akan membuat rujukan ke mana,” katanya.
Dengan jumlah korban yang sudah mencapai ratusan, pemerintah masih harus memastikan seluruh pasien mendapat penanganan medis dan tidak ada korban yang terlambat mendapatkan pertolongan.
Sementara itu, penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan penerima manfaat masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut. (*)

