BACAAJA, SEMARANG — Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H. mendorong mahasiswa baru untuk aktif mencari pengalaman dan mengembangkan diri di luar ruang kelas. Rektor tak ingin, mahasiswa baru (maba) UPGRIS hanya jadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang, tak aktif mengembangkan diri di kampus.
Karena itu, menjadi mahasiswa baru bukan cuma soal duduk di kelas dan mulai mengerjakan tugas. Di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), para maba juga mulai dikenalkan dengan berbagai kegiatan dan organisasi yang bisa menjadi ruang mereka berkembang.
Rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun ini dimulai dari kuliah perdana, pembekalan karakter, pengenalan fakultas, hingga pengenalan organisasi mahasiswa.
Bacaaja: Rektor UPGRIS Minta Maba Tak Jadi Mahasiswa Kupu-kupu: Perluas Pengalaman
Bacaaja: Ospek Maba UPGRIS Angkat Konflik Agraria, Caping Jadi Simbol Sikap
Ketua pelaksana kegiatan, Zidan Try Kusuma, mengatakan persiapan rangkaian kegiatan tersebut kini sudah mencapai sekitar 70 persen.
“Untuk persiapan sekarang itu sekitar 70 persen,” kata Zidan, Selasa (22/9/2026).
Setelah kuliah perdana dan upacara penyerahan mahasiswa baru, kegiatan berlanjut dengan Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual Quotient (PIESQ) dan Pekan Orientasi Mahasiswa (POEMA).
PIESQ menjadi momen bagi mahasiswa baru untuk mendapat pembekalan sebelum benar-benar masuk ke rutinitas perkuliahan. Materinya tidak hanya soal akademik, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter.
Steering Committee 1 BEM UPGRIS, Senopati Mahesa, mengatakan mahasiswa baru akan mendapat berbagai kegiatan seperti kultum hingga workshop.
“PIESQ ini melatih bagaimana mereka menjadi pribadi yang berkarakter, kritis, kreatif, dan juga dapat bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan,” ujarnya.
Setelah itu, mahasiswa baru akan mengikuti POEMA. Di tahap ini, mereka mulai diajak mengenal lingkungan fakultas dan program studi masing-masing.
Mulai dari mengenal dosen, gedung, hingga lokasi perkuliahan bakal diperkenalkan.
Masuk pekan kedua, giliran dunia organisasi mahasiswa yang mulai dikenalkan.
Mahasiswa baru akan bertemu dengan sejumlah lembaga seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), BEM Universitas, hingga lembaga kemahasiswaan lainnya.
Berikutnya, mereka akan dikenalkan dengan BEM fakultas dan himpunan mahasiswa program studi.
Nah, bagian yang kemungkinan paling ditunggu adalah expo organisasi mahasiswa dan lembaga mahasiswa yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Oktober 2026.
Sebelum masuk ke arena expo, mahasiswa baru bakal mengikuti karnaval. Mereka akan diarak menuju lokasi sambil membawa bendera dan menyanyikan lagu-lagu wajib mahasiswa.
Sesampainya di lokasi, berbagai organisasi akan membuka stan masing-masing. Di sinilah mahasiswa baru bisa melihat langsung aktivitas organisasi, bertanya soal kegiatannya, sampai mencari tahu organisasi mana yang paling cocok dengan minat mereka.
“Expo ini nanti mengenalkan ormawa dan lemawa kepada mahasiswa baru agar mereka dapat mengenal organisasi yang ada dan tertarik untuk bergabung,” kata Zidan.
Senopati mengatakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut tidak sekadar bertujuan mengenalkan kampus kepada mahasiswa baru.
Lebih dari itu, maba diharapkan mulai berani berpikir kritis, aktif berorganisasi, dan memahami lingkungan sosial di sekitar kampus.
“Harapannya para mahasiswa baru dapat menjadi mahasiswa yang lebih kritis dan juga memahami terkait lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dengan rangkaian tersebut, masa penyambutan maba UPGRIS tahun ini bukan cuma soal mengenal gedung dan ruang kelas.
Mahasiswa baru juga mulai diajak mengenal karakter, kehidupan akademik, dan berbagai pilihan organisasi yang nantinya bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka selama kuliah. (dul)

