Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Stunting Jateng Turun Jadi 9,93 Persen, Tapi Kesenjangan Daerah Masih Jadi PR
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Stunting Jateng Turun Jadi 9,93 Persen, Tapi Kesenjangan Daerah Masih Jadi PR

Pemprov Jateng mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan stunting, mulai dari pendampingan ibu hamil, pencegahan pernikahan dini hingga intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan.

T. Budianto
Last updated: September 22, 2026 9:38 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
DELEGASI SETWAPRES: Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menerima audiensi delegasi Sekretariat Wakil Presiden di Kantor Gubernur Jateng, Senin (21/9/2026). (Foto: Pemprov Jateng)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Angka prevalensi stunting di Jateng terus menunjukkan tren penurunan. Namun, pekerjaan rumah belum selesai. Disparitas antarwilayah masih cukup lebar sehingga penanganan stunting membutuhkan kerja bersama lintas sektor.

Berdasarkan data triwulan II 2026, prevalensi stunting Jateng berada di angka 9,93 persen. Data tersebut juga menunjukkan masih adanya daerah dengan prevalensi di atas angka rata-rata provinsi, sementara sejumlah daerah lainnya sudah berada di bawah 10 persen.

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengatakan, penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi. Diperlukan kerja kolaboratif mulai dari tingkat provinsi hingga desa.

Hal itu disampaikan Luthfi saat menerima audiensi delegasi Sekretariat Wakil Presiden di Kantor Gubernur Jateng, Senin (21/9/2026), menjelang kegiatan konsolidasi teknis percepatan penurunan stunting dan advokasi pencegahan stunting regional Jawa-Bali-Nusa Tenggara (Jabanusa) di Kota Semarang, 22-23 September 2026.

Baca juga: Lawan Stunting dari Hulu, Pemprov Jateng Gandeng BKKBN

Menurut Luthfi, kolaborasi tersebut mencakup pendampingan, pencegahan pernikahan dini, hingga penguatan intervensi terhadap kelompok yang berisiko mengalami stunting.

Ia berharap keterlibatan berbagai pihak terus diperkuat, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), bupati/wali kota, pemerintah desa hingga PKK.

“Jateng akan paling depan memerangi stunting. Seluruh kepala daerah di Jateng dituntut untuk menurunkan stunting,” ujar Luthfi. Dikatakan, pencegahan stunting merupakan bagian penting dalam menyiapkan kualitas generasi mendatang. Karena itu, intervensi perlu dilakukan sejak sebelum pernikahan, masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Zulfachmi Wahab mengatakan, upaya tersebut telah dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berdasarkan siklus hidup.

Faktor Risiko

Salah satunya dengan mengidentifikasi faktor risiko sejak masa kehamilan dan memberikan pendampingan kepada ibu hamil yang memiliki risiko. “Dari ibu hamil itu kita bisa prediksi risiko stuntingnya, 85 persen stunting itu bisa diketahui sejak kehamilan, intervensinya berlanjut sampai 1.000 hari kehidupan pertama,” katanya. Meski angka rata-rata provinsi sudah 9,93 persen, kondisi antardaerah belum seragam.

Wonosobo tercatat memiliki prevalensi 18,05 persen, disusul Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen. Di sisi lain, Kabupaten Demak tercatat berada di angka 2 persen.

“Penurunan stunting di Jateng bervariasi antardaerah dan disparitasnya masih cukup tinggi. Kalau rata-rata prevalensi stunting di Jawa Tengah sudah 9,93 persen,” ujar Zulfachmi.

Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Setwapres, Eddy Cahyono Sugiarto mengatakan, konsolidasi teknis di Semarang merupakan bagian dari upaya memperkuat koordinasi penanganan stunting sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga: Jateng Ngebut Tekan Kemiskinan, Tapi Udah Cukup Belum?

“Salah satu pilar pembangunan SDM ini adalah penanganan stunting. Jadi kita harus siapkan generasi emas Indonesia. Kita ingin pastikan seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama dan berkolaborasi untuk menurunkan stunting,” katanya.

Mengacu pada SSGI 2024, prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen. Pemerintah kemudian menetapkan target penurunan hingga sekitar 15 persen pada 2029 dalam keterangan yang disampaikan Setwapres.

Eddy juga mengajak berbagai komponen masyarakat, termasuk media, ikut mengambil peran dalam advokasi pencegahan stunting. “Mari kita turunkan stunting untuk memastikan kesiapan SDM unggul. Gubernur Jateng sudah punya komitmen tinggi untuk menurunkan stunting. Kami juga ajak seluruh komponen bangsa termasuk media untuk berperan dalam advokasi pencegahan stunting,” katanya.

Dengan angka provinsi yang sudah satu digit, tantangan Jateng kini bukan sekadar menurunkan rata-rata. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan daerah yang masih tinggi tidak tertinggal terlalu jauh. Sebab, dalam urusan tumbuh kembang anak, angka rata-rata boleh turun, tetapi ketimpangan tetap perlu dicari jalan keluarnya. (tebe)

You Might Also Like

Jangan Asal Konten, Aturan Saudi Buat Jemaah Ternyata Ketat Banget

Kemenkum Jateng: Penyusunan Perda Jangan Asal Ketok Palu

Mongol Bikin Natal Lapas Semarang Jadi Penuh Tawa

Gubernur Apresiasi Peran Relawan Tangani Bencana

Kluivert Masih Buka Peluang Panggil Pemain Anyar

TAGGED:ahmad luthfipemprov jatengstunting
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Lapas Purwodadi Razia Blok Hunian, 20 Orang Jalani Tes Urine
Next Article Semarang Jaga Toleransi hingga Tempat Peristirahatan Terakhir

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kolase lambang Partai Gerindra dan PDIP.

Menakar Peluang Koaliasi Gerindra-PDIP pada 2029, Pengamat: Cukup Terbuka, Bisa Muncul Tiga Poros

Bawaslu “Latih” Mahasiswa UIN Walisongo Selesaikan Sengketa Pemilu

Luthfi Klaim Pengisian Jabatan di Pemprov Tak Pakai “Jasa Titip”

Semarang Jaga Toleransi hingga Tempat Peristirahatan Terakhir

Stunting Jateng Turun Jadi 9,93 Persen, Tapi Kesenjangan Daerah Masih Jadi PR

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Buruh melintas di depan pabrik Sritex, saat pabrik tekstil tersebut masih beroperasi. Kini, ribuan buruh menunggu pesangon.
Hukum

Pesangon Masih Mimpi? Lelang Aset Sritex Jadi Penentu Nasib Ribuan Eks Karyawan

Januari 31, 2026
Hukum

Kemendagri Belum Terima Laporan Ormas Terlibat Kekerasan

September 1, 2026
EDUKASI KONSUMEN - Wakil Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Semarang, Ngargono, menyampaikan edukasi terkait hak-hak konsumen. (dul)
Info

Mau Glowing Malah Boncos? Ngargono Ingatkan Konsumen Lakukan Langkah Ini

Mei 19, 2026
Hukum

HUT RI Beda Nasib: Sambo Gigit Jari, Putri Candrawathi Dapat Remisi

Agustus 21, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Stunting Jateng Turun Jadi 9,93 Persen, Tapi Kesenjangan Daerah Masih Jadi PR
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?