Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Cabai Sulut Tembus Rp120 Ribu, Pasokan Didatangkan Lagi dari Probolinggo
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Cabai Sulut Tembus Rp120 Ribu, Pasokan Didatangkan Lagi dari Probolinggo

Nugroho P.
Last updated: September 21, 2026 11:09 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi cabai mahal.
SHARE

BACAAJA, MANADO – Harga cabai rawit merah di Sulawesi Utara (Sulut) kembali bikin kantong pedas. Setelah sempat turun ke sekitar Rp57.000 per kilogram, harganya kini melonjak lagi hingga Rp120.000 per kilogram di tengah pasokan yang mulai seret.

Contents
Cabai Probolinggo Dinilai CocokDistribusi Diawasi Sampai Pedagang

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulut bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia kembali mendatangkan cabai dari Probolinggo, Jawa Timur. Kali ini, sekitar 2,5 ton cabai rawit merah dikirim melalui Surabaya dan tiba di Sulut pada Senin (21/9/2026) malam.

Pasokan tambahan itu diharapkan bisa segera masuk pasar dan membantu menahan lonjakan harga. Langkah tersebut sekaligus dilakukan untuk menjaga kebutuhan cabai masyarakat tetap terpenuhi saat produksi di sejumlah daerah sedang menurun akibat kemarau dan fenomena El Nino.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulut, Rahel Ruth Rotinsulu, mengatakan pasokan dari Probolinggo merupakan distribusi tahap kedua. Pengiriman dilakukan sebagai bagian dari upaya mengendalikan inflasi sekaligus menjaga harga pangan tetap terjangkau.

“Fasilitasi cabai rawit merah tahap II dari Probolinggo-Surabaya ini dalam rangka menekan inflasi daerah dan memastikan pasokan pangan terpenuhi untuk masyarakat Sulut dengan harga yang terjangkau,” ujar Rahel, Senin (21/9/2026).

Menurut Rahel, masuknya cabai dari luar daerah bukan berarti pemerintah mengesampingkan produksi petani lokal. Pasokan tambahan hanya digunakan untuk menutup kekurangan barang di pasar ketika kebutuhan masyarakat lebih besar dibandingkan ketersediaan.

“Bukan untuk menggantikan produksi petani lokal. Kita hanya membantu menambah pasokan agar semua kebutuhan masyarakat Sulut bisa terpenuhi dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Cabai Probolinggo Dinilai Cocok

Rahel menjelaskan, cabai dari Probolinggo-Surabaya dipilih salah satunya karena dinilai sesuai dengan selera konsumen di Sulut. Bentuk dan rasa cabai dari wilayah tersebut disebut cukup familiar bagi masyarakat setempat.

Namun, pemerintah tidak ingin terus bergantung pada pasokan dari luar Sulut. Untuk jangka panjang, koordinasi dengan Dinas Pertanian dan pihak terkait akan dilakukan untuk mengatur pola tanam cabai rawit.

Pola tanam yang lebih teratur diharapkan bisa membuat produksi berlangsung secara berkesinambungan. Dengan begitu, pasokan cabai dapat tersedia secara rutin dan ketergantungan terhadap daerah sentra produksi di luar Sulut bisa dikurangi.

“Ke depan, kami akan berkoordinasi dengan dinas pertanian dan pihak terkait lainnya agar bisa mengatur pola tanam cabai rawit sehingga setiap bulan atau setiap saat bisa menghasilkan produksi cabai rawit yang menjadi kebutuhan masyarakat Sulawesi,” jelas Rahel.

Distribusi Diawasi Sampai Pedagang

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Purwanto, mengatakan distribusi cabai tahap kedua diprioritaskan untuk daerah yang masuk kelompok kota sampel Indeks Harga Konsumen (IHK).

“Untuk saat ini memang kami utamakan daerah-daerah yang masuk dalam kelompok kota sampling IHK. Ke depan, kalau memungkinkan, tentu kami pikirkan juga untuk daerah-daerah sekitar,” ujar Purwanto.

Distribusi ini menjadi perhatian karena harga cabai sebelumnya sempat turun cukup jauh setelah pasokan tahap pertama masuk. Saat itu, harga berada di kisaran Rp57.000 per kilogram pada awal pekan, tetapi kemudian kembali merangkak hingga Rp120.000 per kilogram.

Menurut Purwanto, tambahan pasokan diharapkan bukan cuma memberi efek sesaat. Ketersediaan barang di pasar harus dijaga agar harga tidak kembali melonjak ketika pasokan dari daerah produksi menurun.

“Kita harapkan ini menjadi bagian dari upaya agar pasokan tersedia dan harga bisa terjangkau oleh masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Satgas Pangan ikut mengawal perjalanan cabai sejak tiba hingga masuk ke pasar. Pengawasan dilakukan untuk memastikan komoditas tersebut benar-benar bergerak sampai pedagang dan konsumen, bukan berhenti di tengah rantai distribusi.

Perwakilan Satgas Pangan, Ipda Dony Samel, mengatakan pengawalan dilakukan setelah cabai tiba di Sulut. Distribusi diarahkan ke Pasar Bersehati sebelum diteruskan ke sejumlah daerah.

“Kami Satgas Pangan terus mengawal sampai ke pendistribusian, sampai ke pedagang, dan sampai ke konsumen,” ujarnya.

Cabai tersebut disalurkan ke Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Kotamobagu. Khusus Manado, distribusi dilakukan melalui Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan.

Pengawasan sampai tingkat konsumen dilakukan untuk mencegah adanya penahanan pasokan maupun gangguan distribusi yang bisa membuat harga kembali naik. Pemerintah bersama TPID juga menyiapkan pembahasan lanjutan jika lonjakan harga kembali terjadi.

Dengan tambahan pasokan dari daerah sentra produksi, pengawasan distribusi, serta rencana penguatan produksi lokal, pemerintah berharap stok cabai rawit di Sulut lebih aman. Target akhirnya, kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa membuat harga cabai kembali melonjak tajam. (*)

You Might Also Like

Ribuan Kasus Anak Keracunan MBG, Puan Ngegas: Harus Dievaluasi Total!

Sidang Isbat 19 Maret Jadi Penentu 1 Syawal 1447 H

Pemadaman Listrik Bergilir Bikin Peternak Ayam Ketar-ketir, PLN Jateng Buka Suara

Persiapan Porprov 2026 Capai 90 Persen

Nah! Kapolres Sukoharjo Dicopot dan Diperiksa, Buntut Penggeledahan Ponpes Putri Hamalatul Quran

TAGGED:cabaicabai mahalharga cabai
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Geger! Mata Air Gunung Sindur Mendadak Merah
Next Article Tapir Muncul Lagi di Mesuji, BKSDA Langsung Turun

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Buya Yahya Tolak Kotak Amal Keliling, Ini Alasannya

Gus Baha Ingatkan Takbir, Salah Panjang Bisa Berbahaya

Ditanya Penyadapan Listyo Sigit, Jokowi Pilih Diam

Dari SBY hingga Macron, Deretan Pemimpin Dunia yang Pernah Disadap

Semarang Bakal Punya Festival Sastra Besar, Agustina Ingin Puisi Turun ke Jalan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Semarang (tengah) menerima Remisi Khusus Hari Raya Imlek, Selasa (17/2/2026). Foto: Dok. Lapas Semarang.
HukumInfo

Warga Binaan Lapas Semarang Terima Remisi Khusus Imlek

Februari 17, 2026
Nasional

Riuh Reuni 212 Mereda, Sampah Menggunung Menyisakan Cerita Baru Malam Itu

Desember 3, 2025
Hukum

Bukan Sekadar Tanam, Lapas Purwodadi Rawat Bayam, Kangkung hingga Pakcoy

September 8, 2026
Hukum

Empat Pemuda Banyumas Diciduk Bawa Tembakau Sinte di Cilacap

September 25, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Cabai Sulut Tembus Rp120 Ribu, Pasokan Didatangkan Lagi dari Probolinggo
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?