BACAAJA, JAKARTA – Cuaca kering belum sepenuhnya pergi dari Indonesia. Meski mayoritas daerah masih minim hujan, BMKG mengingatkan sejumlah wilayah tetap perlu bersiap menghadapi hujan lebat yang bisa datang bareng petir dan angin kencang.
Peringatan ini berlaku untuk periode akhir September 2026. BMKG memprediksi beberapa kawasan bakal mengalami peningkatan aktivitas hujan dalam sepekan, sehingga masyarakat diminta tidak lengah meski kondisi harian di banyak daerah masih terasa panas dan kering.
Berdasarkan laporan BMKG pada Sabtu, 19 September 2026, curah hujan pada Dasarian III September sampai Dasarian II Oktober 2026 secara umum masih berada di kategori rendah hingga menengah. Angkanya berkisar 0–150 milimeter per dasarian karena pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan masih relatif terbatas.
Kondisi kering tersebut salah satunya dipengaruhi El Nino kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi pasokan kelembapan ke wilayah Indonesia. Namun, bukan berarti seluruh daerah bakal terus kering.
BMKG justru memprakirakan hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian berpotensi terjadi di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara pada Dasarian I dan II Oktober 2026.
Gelombang Atmosfer Mulai Aktif
Untuk periode 18–24 September 2026, potensi hujan diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah sampai selatan, serta Papua Pegunungan dan Papua.
BMKG menyebut peningkatan hujan tersebut tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah dinamika atmosfer yang ikut mendorong terbentuknya awan hujan di berbagai daerah.
Salah satunya adalah Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat. Selain itu, Gelombang Kelvin juga diperkirakan aktif di Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara.
Kedua gelombang atmosfer tersebut dapat membantu proses pertumbuhan awan hujan. BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di Laut China Selatan yang memicu perlambatan sekaligus pertemuan angin di sejumlah wilayah.
Situasi tersebut makin diperkuat labilitas atmosfer lokal yang cukup tinggi. Akibatnya, proses pengangkatan massa udara menjadi lebih kuat dan peluang terbentuknya awan hujan pun ikut meningkat.
Ini Wilayah yang Perlu Waspada
Pada 18–20 September 2026, cuaca Indonesia secara umum diprediksi cerah berawan hingga hujan ringan dan sedang. Meski begitu, hujan dengan intensitas sedang berpotensi meningkat di sejumlah daerah.
Wilayah tersebut meliputi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat, BMKG menetapkan status Siaga untuk Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sementara itu, peringatan Waspada Angin Kencang berlaku untuk Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua Selatan.
Masuk 21–24 September, Peta Hujan Berubah
Memasuki 21–24 September 2026, kondisi cuaca diprakirakan berkisar dari cerah berawan hingga hujan sedang. Sejumlah wilayah masih berpeluang mendapatkan hujan dengan intensitas sedang.
Daerah yang masuk dalam prakiraan tersebut yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Untuk hujan lebat hingga sangat lebat, status Siaga diberikan kepada Papua Tengah. Sedangkan peringatan Waspada Angin Kencang ditujukan untuk Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.
BMKG meminta masyarakat di wilayah yang masuk kategori Siaga maupun Waspada tetap memperhatikan perkembangan cuaca. Hujan deras yang turun dalam waktu singkat bisa memicu sejumlah dampak, mulai dari banjir, tanah longsor hingga pohon tumbang.
Masyarakat juga disarankan tidak menganggap remeh perubahan cuaca, terutama saat langit mulai gelap dan angin mendadak menguat. Informasi peringatan dini dari BMKG penting dipantau supaya aktivitas tetap aman di tengah perubahan cuaca akhir September. (*)

