KUDUS, BACAAJA- Pembinaan olahraga xiangqi di Kabupaten Kudus mulai bergerak keluar dari pusat kota. Persatuan Xiangqi Indonesia (Pexi) Kudus akan mengukuhkan kepengurusan Pexi Kecamatan Dawe pada 27 September 2026.
Pembentukan pengurus di tingkat kecamatan ini menjadi langkah awal memperluas basis pembinaan sekaligus mencari bibit atlet sejak usia sekolah.
Dawe dipilih karena dinilai punya modal yang cukup. Ada sekolah, pelajar, dan masyarakat yang dianggap memiliki antusiasme terhadap olahraga xiangqi.
Ketua Pexi Kudus, Priskilla mengatakan, pembinaan tidak mungkin hanya mengandalkan wilayah perkotaan. Justru sekolah dan kecamatan dinilai menjadi pintu masuk paling penting untuk menemukan potensi atlet sejak dini.
“Pembinaan olahraga harus dimulai dari akar rumput. Kecamatan dan sekolah merupakan tempat terbaik untuk menemukan serta mengembangkan potensi anak-anak,” ujarnya.
Baca juga: Kudus Jadi Medan Tempur Kejurprov Xiangqi Jateng
Setelah kepengurusan terbentuk, Pexi Kecamatan Dawe bakal didorong aktif berkomunikasi dengan sekolah, membangun komunitas atau klub, serta menggelar latihan dan kompetisi secara rutin.
Untuk tahap awal, kepengurusan Pexi Kecamatan Dawe terdiri atas lima orang. Jumlah tersebut diharapkan berkembang seiring dengan makin banyaknya aktivitas pembinaan.
Tak berhenti di pembentukan organisasi, Pexi Kudus juga menyiapkan liga rutin antarpelajar. Kompetisi ini tidak sekadar menjadi arena perebutan gelar, tetapi juga bagian dari proses mencetak atlet muda.
Lewat pertandingan rutin, pelajar akan terbiasa menghadapi lawan, mengelola tekanan, membaca permainan, sekaligus membangun kepercayaan diri. “Kompetisi ini menjadi tempat mencari bibit atlet, meningkatkan minat bermain xiangqi, sekaligus mempersiapkan atlet yang nantinya dapat mengikuti kejuaraan tingkat daerah, provinsi hingga nasional,” kata Priskilla.
Pexi Kudus melihat xiangqi punya nilai lebih dari sekadar permainan tradisional. Respons sekolah dan pelajar terhadap pengembangannya juga dinilai cukup positif.
Permainan ini menuntut pemain membaca situasi, menghitung kemungkinan langkah lawan, lalu mengambil keputusan dengan tepat. Dari proses itu, pemain dilatih untuk berkonsentrasi, berpikir logis, menyusun strategi, sekaligus belajar sabar.
“Xiangqi mengajarkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Anak-anak belajar berpikir sebelum bertindak,” tuturnya. Nilai tersebut menjadi bagian dari semangat Pexi Kudus melalui gagasan “Bersama Membangun Generasi, Melalui Xiangqi.”
Hiburan Digital
Tantangannya jelas. Xiangqi harus berhadapan dengan dunia yang membuat generasi muda jauh lebih mudah terpikat oleh game online, media sosial, dan berbagai hiburan digital.
Karena itu, pendekatan melalui sekolah, komunitas, latihan, dan kompetisi dinilai penting agar xiangqi tidak sekadar menjadi permainan yang dikenal generasi lama.
Pexi Kudus pun berencana membentuk kepengurusan kecamatan secara bertahap. Target akhirnya bukan cuma memperbanyak struktur organisasi, tetapi juga memperluas jaringan klub, menambah atlet binaan, serta membangun jalur pembinaan dari sekolah, klub, kecamatan hingga kabupaten.
Dengan begitu, bibit yang ditemukan di sekolah tidak berhenti sebagai peserta lomba. Mereka diharapkan bisa berkembang menjadi atlet yang mampu tampil di tingkat daerah, provinsi hingga nasional.
Pexi Kudus ingin ekosistem tersebut ikut berkontribusi terhadap prestasi olahraga Kabupaten Kudus melalui KONI. “Kami ingin Kudus memiliki ekosistem xiangqi yang kuat, mulai dari sekolah, klub, kecamatan hingga atlet berprestasi. Harapannya, xiangqi semakin dikenal masyarakat dan mampu melahirkan generasi muda yang unggul,” katanya.
Baca juga: Catur Cina Nggak Main-main: Kudus Jadi Arena, Anak-anak Jadi Jagoan
Pengurus Pexi Kecamatan Dawe nantinya diharapkan menjadi motor pembinaan di wilayah tersebut. Fokusnya bukan cuma berburu piala, tetapi membuka ruang seluas-luasnya agar pelajar mengenal xiangqi dan menemukan kemampuan mereka.
Sebab, ukuran keberhasilan pembinaan tidak melulu soal berapa banyak piala yang memenuhi lemari. Bertambahnya sekolah yang terlibat, munculnya komunitas, naiknya minat pelajar, hingga lahirnya atlet muda dengan kemampuan dan karakter baik juga menjadi tanda bahwa xiangqi mulai punya tempat di Kudus.
Kalau biasanya anak muda diajak berpikir lewat game online, Pexi Kudus punya versi offline-nya: duduk, pegang bidak, baca lawan, lalu pikirkan akibatnya. Bedanya, di xiangqi kalau salah langkah tidak ada tombol “restart” yang bisa langsung menyelamatkan. (tebe)

