Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Agustina: Wayang Sudah Jadi Napas Kota Semarang
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Agustina: Wayang Sudah Jadi Napas Kota Semarang

Wayang tak lagi harus menunggu panggung megah untuk bisa ditonton. Di Kota Lama Semarang, seni tradisi itu justru turun ke jalan dan bertemu langsung dengan warga.

T. Budianto
Last updated: September 15, 2026 1:24 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
WAYANG ON THE STREET: Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat menghadiri Wayang On The Street dalam rangkaian Festival Kota Lama 2026 di kawasan Kota Lama, Minggu (13/9/2026) malam. (Foto: Pemkot Semarang)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Wayang disebut sudah menjadi bagian dari napas kehidupan Kota Semarang. Karena itu, pelestariannya tak cukup hanya dengan menyimpannya sebagai warisan budaya, tetapi harus terus diberi ruang untuk tampil dan berinteraksi dengan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat menyaksikan Wayang On The Street dalam rangkaian Festival Kota Lama 2026 di kawasan Kota Lama, Minggu (13/9/2026) malam.

Menurut Agustina, wayang bukan sekadar tontonan. Seni tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Semarang. “Karena kita sebagai masyarakat sangat menghargai wayang, menjadikan wayang adalah bagian dari napas hidup kita,” kata Agustina.

Baca juga: Agustina Ajak Warga Ikut “Nostalgia” di Festival Kota Lama 2026

Ia menilai konsep Wayang On The Street justru memiliki daya tarik tersendiri karena membawa pertunjukan tradisional keluar dari ruang konvensional. Wayang tak lagi berjarak dengan penonton, tetapi hadir di tengah keramaian dan bisa dinikmati siapa saja.

Antusiasme warga yang memadati kawasan pertunjukan, bahkan tanpa disediakan tempat duduk, menurut Agustina menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ketertarikan terhadap seni tradisi.

“Wayang On The Street ini menjadi ikonik dan jika ini menjadi sesuatu yang terus-menerus dilakukan di waktu tertentu maka akan menjadi momen yang ditunggu,” ujarnya.

Bagi Agustina, menjaga wayang tetap hidup juga harus dibarengi kemampuan Semarang merawat keberagaman budaya. Kota ini sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya, sehingga akulturasi menjadi bagian dari perjalanan identitasnya.

Akar Budaya

Namun, keterbukaan terhadap budaya lain tidak boleh membuat akar budaya Jawa justru hilang. “Budaya asli kita tetap harus kita pelajari supaya proses harmoninya itu semakin lama tidak memudarkan budaya kita sebagai masyarakat Jawa di Kota Semarang,” tegasnya.

Agustina mencontohkan Warak Ngendog yang menjadi simbol percampuran budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa. Menurutnya, keberagaman semacam itu justru menjadi kekuatan Semarang.

Karena itu, pelestarian budaya tidak berarti membekukan tradisi. Sebaliknya, budaya harus tetap memiliki akar, tetapi diberi ruang untuk berkembang mengikuti zaman.

Tak berhenti pada urusan budaya, Agustina melihat kegiatan seperti Festival Kota Lama juga memiliki efek ekonomi. Ketika pertunjukan budaya mampu menarik masyarakat dan wisatawan, kawasan perdagangan ikut bergerak. Pelaku UMKM, kuliner, hingga sektor wisata pun mendapat peluang dari ramainya aktivitas kota.

Baca juga: Festival Kota Lama 2025 Siap Pecah Banget! Dari Musik, Fashion, Sampai Kuliner Nostalgia, Semua Ada!

Pengalaman Wayang Orang Ngesti Pandowo tampil di Rotterdam, Belanda, menjadi salah satu bukti bahwa seni tradisi Semarang sebenarnya memiliki panggung yang lebih luas. Tantangannya tinggal bagaimana keberlanjutan seni tersebut dijaga melalui regenerasi dan dukungan kebijakan.

Agustina pun memberi perhatian pada keterlibatan generasi muda dan komunitas. Sebab, tanpa regenerasi, wayang berisiko hanya menjadi cerita tentang masa lalu.

“Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang,” kata Agustina.

Lewat Wayang On The Street, Pemkot Semarang ingin budaya tidak berhenti sebagai pertunjukan yang selesai ketika lampu panggung dimatikan. Wayang diharapkan menjadi bagian dari pengalaman kota, menghibur warga, menarik wisatawan, menggerakkan ekonomi, sekaligus mengingatkan bahwa Semarang boleh modern, tetapi tak perlu kehilangan akar budayanya. (tebe)

You Might Also Like

Lomba Mau Diulang, Sekolah Ini Pilih Mundur Terhormat Saja

Order Seret, Pabrik Bulu Mata Purbalingga Mulai Lepas Ratusan Karyawannya

Wadidaw, Razia Gedean di Lapas, HP Disita, Narkoba Pun Kena

Hari Lahir Pancasila, Sekjen PDIP Tegaskan Pentingnya Kritik untuk Demokrasi Sehat

Tabrakan di Runway LaGuardia, Pesawat dan Damkar Berujung Tragis

TAGGED:agustina wilujengfestival kota lamaheadlinepemkot semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article HALAL FEST--Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meninjau pameran UMKM di Semarang Halal Fest 2026. (ist) MTQ Nasional Jadi Jalan UMKM Semarang Kenalkan Produk ke Pasar Nasional
Next Article Klinik Ibunda Klampok Sabet Faskes JKN Terbaik

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Empat Aturan Masuk “Bengkel” DPRD Semarang

RAZIA SEL--Petugas menggeledah barang milik warga binaan dalam razia di area Lapas Semarang, Selasa (15/9/2025). (ist)

Senjata Rakitan hingga Alat Pemanas, Temuan saat Razia Sel Napi Lapas Semarang

Lulus Sekolah Rakyat, Habis Itu Mau ke Mana?

Persiapan Biliar Porwanas, Wartawan Joglosemar Adu Skill di Sleman

Dokter Spesialis Tak Lagi Nunggu di RS, Jateng Bidik Wisata Medis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

SAMPAIKAN TUNTUTAN - Peserta aksi massa memanjat gerbang kantor Gubernuran Jateng, di Semarang, Senin (13/6/2026). Massa menyampaikan 5 tuntutan rakyat, serta menyorot peran TNI-Polri yang banyak menduduki jabatan sipil, sebagai bagian dari gejala militerisme. (dul)
Info

Ribuan Mahasiswa Semarang Raya Kepung Gubernuran, Sampaikan Panca Tuntutan Rakyat

Juni 15, 2026
Info

Dari Jateng untuk NTT: 16 Relawan dan Ribuan Paket Bantuan Dikirim

Agustus 17, 2026
Info

HIV Tak Berkutik, Jejak Langka Perempuan Ini Bikin Takjub

Juni 9, 2026
Info

Nunggak Puasa Bertahun-tahun, Gimana Cara Bayarnya Biar Tenang?

Februari 20, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Agustina: Wayang Sudah Jadi Napas Kota Semarang
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?