BACAAJA, SURAKARTA- Kebakaran di TPA Putri Cempo, Surakarta, sudah berlangsung dua pekan. Sejak 2 September hingga 15 September, api belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Aktivis Walhi Jateng, Nur Colis mengatakan, dampak kebakaran bahkan sudah melebar ke wilayah Kabupaten Karanganyar. Kondisi ini membuat warga sekitar masih harus menghirup asap dari kawasan TPA.
Menurutnya, kebakaran berulang di Putri Cempo tidak bisa hanya dianggap sebagai akibat cuaca panas. Fenomena ini dinilai menunjukkan adanya persoalan dalam sistem pengelolaan sampah.
Baca juga: Asap Putri Cempo Bikin Warga Batuk dan Sesak
“Berulangnya insiden ini kembali membuktikan bahwa persoalan di Putri Cempo bukanlah sekadar masalah cuaca panas musiman,” kata Colis, Selasa (15/9/2026).
Walhi menilai persoalan tersebut merupakan akumulasi dari tata kelola sampah yang bermasalah. Kondisi itu disebut membuat warga terus menanggung dampak lingkungan, termasuk paparan asap dari kebakaran TPA.
Kelompok Rentan
Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia disebut menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka harus menghadapi ancaman kesehatan sekaligus terbatasnya ruang aman akibat kepungan asap.
Tak hanya warga sekitar, para pemulung yang mencari nafkah di kawasan TPA juga ikut terdampak. Aktivitas mereka menjadi semakin sulit karena kondisi kawasan yang dipenuhi asap.
Baca juga: TPA Putri Cempo Masih Terbakar, Pemprov Siapkan Modifikasi Cuaca
“Warga tidak seharusnya terus-menerus dibiarkan menanggung beban berlapis akibat tata kelola sampah yang buruk,” ujarnya. Karena itu, Walhi Jateng mendesak pemadaman dilakukan secara total dan secepatnya. Ia juga meminta pemerintah turun langsung menemui warga yang terdampak.
Sebab, ketika api belum benar-benar padam, asap terus menyebar dan warga masih menjadi pihak yang menghirup dampaknya. Dua pekan terbakar, jangan sampai masalahnya ikut dianggap sebagai sesuatu yang biasa. (bae)

