Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup

Lampu masih menyala, musik masih berdentum, dan pengunjung belum benar-benar kabur dari tempat hiburan malam di Kota Semarang. Tapi ada satu yang mulai berubah: isi dompet konsumen.

T. Budianto
Last updated: September 4, 2026 3:31 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
Ilustrasi suasana klub malam di salah satu tempat hiburan di Kota Semarang. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG– Industri hiburan malam di Semarang sedang menghadapi persoalan yang tidak kelihatan dari luar. Tempat masih ramai, tetapi pendapatan tidak otomatis ikut ramai.

Kevin, pengelola usaha klub malam di kawasan Semarang Barat mengatakan, jumlah konsumen memang belum mengalami penurunan drastis. Namun, nilai transaksi yang mereka hasilkan terasa jauh lebih kecil.

Ia mencontohkan satu rombongan sekitar 12 orang yang datang ke tempatnya. Bukannya mengambil paket dengan harga normal, rombongan tersebut memilih program promo sebelum pukul 23.00 dan bahkan mempertahankannya sampai tempat tutup.

Di situlah problemnya. Traffic ada, orang ada. Tapi revenue belum tentu ikut ada. Bagi bisnis hiburan, kondisi tersebut jelas bukan kabar bagus. Tekanan berikutnya datang dari biaya operasional.

Cukai, royalti, tenaga kerja, entertainment, hingga kebutuhan operasional lainnya mengalami kenaikan. Masalahnya, semua kenaikan itu tidak bisa begitu saja dibebankan kepada konsumen.

Baca juga: Bapenda: Pajak Hiburan 40 Persen Amanat UU, Pemkot Sudah Beri Masa Transisi bagi Pelaku Usaha

Pasar Semarang dikenal cukup sensitif terhadap harga. Pengusaha menaikkan harga sedikit saja, konsumen bisa berpikir ulang. Apalagi kompetitor menawarkan paket lebih murah. “Kalau harga naik sedikit saja, pengaruhnya besar. Masyarakat Semarang memang mencari harga yang murah, tetapi jumlahnya banyak,” ujar Kevin.

Dilema itu paling terasa dalam bisnis minuman. Persaingan harga makin agresif. Bahkan, menurut pengamatan pelaku usaha, ada outlet yang menjual produk tertentu dengan harga sangat rendah dan dinilai berada di bawah harga pokok pembelian.

Pengusaha dengan struktur biaya tinggi akhirnya terjebak di tengah. Harga diturunkan, margin tergerus. Harga dipertahankan, konsumen pindah. Sementara biaya tetap jalan terus.

Kemudian datang persoalan pajak. Pelaku usaha menyoroti adanya perbedaan penerapan tarif di lapangan yang dinilai membuat persaingan tidak sepenuhnya seimbang.

Mengurangi Transaksi

Salah satu pengelola mengaku memilih menerapkan tarif sekitar 21 persen dengan mempertimbangkan kondisi pasar. Sebab, jika tarif diterapkan terlalu tinggi, konsumen dikhawatirkan semakin mengurangi transaksi.

“Kalau kita berlakukan 40 persen, konsumen langsung protes. Sekarang saja ketika tarifnya lebih rendah, masih ada yang protes karena di tempat lain belum menerapkan hal yang sama,” katanya.

Bagi pengusaha, persoalan pajak sebenarnya bukan semata soal besar-kecilnya persentase. Masalah utamanya adalah kemampuan bisnis menghasilkan revenue.

Kalau pendapatan turun sementara biaya dan kewajiban pajak naik, ruang keuntungan otomatis makin sempit. Efek dominonya juga panjang. Ketika tempat hiburan mengurangi aktivitas, pekerja terdampak.

Musisi kehilangan panggung. Event organizer kehilangan pekerjaan. Pemasok dan distributor ikut terkena imbas. Artinya, yang dipertaruhkan bukan cuma keberlangsungan satu venue.

Yang menarik, ancaman industri hiburan kini bukan cuma datang dari pajak atau kompetitor. Lawan barunya bisa jadi justru lapangan olahraga. Pelaku usaha melihat perubahan gaya hidup generasi muda.

Baca juga: Hiburan Makin Ngegas, Tapi Pajak Bikin Deg-degan

Sebagian konsumen yang sebelumnya menghabiskan waktu dan uang untuk hiburan malam kini mulai mengalokasikan pengeluaran untuk olahraga dan komunitas.

Saat ini padel menjadi salah satu contoh paling gampang dilihat. “Sekarang anak muda mulai bergeser ke sport. Padel juga ramai. Itu pengaruhnya besar,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri hiburan tidak lagi sekadar berkompetisi dengan klub, karaoke, bar atau tempat hiburan lainnya. Mereka sekarang berkompetisi dengan seluruh industri lifestyle.

Uang konsumen bisa berpindah ke kuliner, traveling, olahraga, komunitas, konser, hingga aktivitas yang dianggap lebih sehat dan Instagramable. Media sosial ikut mempercepat perubahan itu. Gaya hidup sehat dan olahraga komunitas dengan mudah berubah menjadi tren ketika terus muncul di lini masa. (tebe)

You Might Also Like

204 Siswa SMPN 1 Blora Keracunan MBG, 20 Dirawat di RS

Sepuluh Ide Cuan 2026 Buat Modal Tipis Aja

Pengamat Bilang PDIP Pede Kawal Suara Rakyat, Makanya Nolak Pilkada Lewat DPRD

Luthfi Ajak Kadin Jateng Perangi Kemiskinan

PDIP Balik Serang Isu BEM UBK Terima Uang

TAGGED:bapenda kota semarangheadlineklub malampagersemarpajak hiburan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bukan Cuma Garam, Jetis Punya “Harta” dari Bibir Pantai Purworejo
Next Article Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno.

Pohon Tumbang 2 Nyawa Pengguna Jalan di Semarang, MTI: Bukan Sekadar Musibah

10 Perda Surakarta Dicek, Ada yang Harus “Dipensiunkan”

KAMAR MAYAT - Korban tewas diantar ke ruang jenazah. (grafis/wahyu)

Polisi Ungkap Identitas Korban Tertimpa Pohon Tumbang di Pandanaran

Semarang Mau Tangguh sampai 2045, Tapi Sampah Masih Suka Nyangkut

Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

TANGGUL JEBOL - Kondisi Tanggul Jembawan 1 yang ambrol, Jumat (15/5/2026). Tanggul tersebut ambrol diterjang arus setelah hujan deras pada Kamis (14/5/2026). (dul)
Info

Warga Waswas Banjir Datang Lagi, Tanggul Sungai Jembawan 1 Ambrol Dihantam Arus Deras

Mei 16, 2026
Info

Libur Akhir Tahun, Kapolda Turun Gunung Cek Posyan Tawangmangu

Desember 24, 2025
DaerahInfo

“Kalau Mau Sukses, Muliakan Rakyat”, Pesan Ulama ke Gubernur

Maret 27, 2026
Ilustrasi siswa sedang menyantap MBG.
Info

Kasus Keracunan MBG 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Selesai? Kepala SPPG Minta Maaf

September 4, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dunia Hiburan Semarang, Lampu Masih Nyala, Tapi Bisnis Mulai Redup
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?