BACAAJA, SEMARANG – Feed media sosial belakangan sering dipenuhi pemandangan dari atas gunung. Foto lautan awan, sunrise, sampai pose di jalur pendakian kerap dibungkus dengan cerita soal healing dari penatnya rutinitas.
Fenomena ini bikin naik gunung makin populer sebagai cara melepas stres. Tapi pertanyaannya, apakah mendaki memang bisa membantu tubuh dan pikiran lebih rileks, atau kita sebenarnya cuma ikut tren karena takut ketinggalan alias Fear of Missing Out (FOMO)?
Kalau dilakukan dengan persiapan yang matang dan tujuan yang tepat, aktivitas di alam memang punya sejumlah manfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Namun, pengalaman healing itu bisa berubah jadi sumber stres baru kalau pendakian dilakukan cuma demi konten atau mengejar eksistensi di media sosial.
Alam Hijau Bisa Bantu Redakan Stres
Berada di ruang terbuka dengan banyak pepohonan bukan cuma bikin mata lebih segar. Aktivitas fisik di lingkungan alami dikaitkan dengan penurunan respons stres, termasuk kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan kondisi stres.
Lingkungan hijau juga memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk keluar sejenak dari suasana perkotaan yang padat. Jalan kaki sambil menikmati pepohonan, udara terbuka, dan suasana yang lebih tenang bisa menjadi kombinasi yang menyenangkan setelah rutinitas panjang.
Sinyal Hilang, Otak Ikut Istirahat
Salah satu bonus naik gunung adalah koneksi internet yang biasanya nggak sekencang di kota. Di beberapa jalur, sinyal bahkan bisa hilang sama sekali.
Kondisi ini justru bisa menjadi kesempatan untuk mengurangi paparan layar. Notifikasi pekerjaan, pesan yang terus masuk, sampai kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial bisa ditinggalkan sementara.
Jadi, nggak ada salahnya sesekali membiarkan ponsel masuk mode santai. Fokus menikmati perjalanan bisa membuat waktu di alam terasa lebih utuh.
Pemandangan Gunung Bisa Bikin Pikiran Lega
Pernah melihat sunrise dari ketinggian lalu mendadak merasa takjub? Perasaan tersebut dikenal sebagai awe, yakni emosi yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan sesuatu yang terasa sangat luas, indah, atau luar biasa.
Pemandangan gunung, hamparan awan, langit malam, atau bentang alam dari ketinggian bisa memunculkan rasa takjub tersebut. Dalam pengalaman seperti ini, seseorang dapat merasa dirinya menjadi bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Efek psikologisnya bisa membuat masalah yang sebelumnya terasa berat menjadi terlihat dari sudut pandang berbeda. Setidaknya, pikiran mendapat ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Mendaki Juga Bikin Tubuh Aktif
Jangan lupa, naik gunung tetap merupakan aktivitas fisik. Jalan menanjak selama berjam-jam membuat tubuh bekerja lebih keras dibanding sekadar jalan santai.
Aktivitas fisik diketahui berkaitan dengan pelepasan endorfin yang dapat membantu memperbaiki suasana hati. Olahraga juga dapat memberikan manfaat bagi kualitas tidur dan kebugaran tubuh secara keseluruhan.
Makanya, rasa capek setelah pendakian kadang justru dibarengi perasaan puas. Kaki boleh pegal, tetapi kepala bisa terasa lebih plong.
Jangan Sampai Healing Malah Jadi Petaka
Namun, ada satu hal yang perlu diingat: naik gunung bukan obat ajaib untuk semua masalah. Kalau tujuan utamanya cuma mengejar tren, pengalaman yang didapat bisa berbeda.
Pendaki yang terlalu fokus mengejar foto bagus atau konten viral berisiko mengabaikan kondisi fisik, cuaca, medan, dan perlengkapan keselamatan. Bukannya rileks, perjalanan malah bisa berujung panik atau membahayakan diri sendiri.
FOMO juga bisa muncul ketika seseorang merasa harus ikut mendaki karena teman-temannya sudah lebih dulu melakukannya. Padahal, setiap orang punya kondisi fisik, pengalaman, dan kesiapan berbeda.
Jadi, kalau mau menjadikan gunung sebagai tempat healing, nggak perlu sibuk memburu foto paling estetik. Nikmati saja langkah demi langkah, jaga keselamatan, dan biarkan alam menjadi ruang untuk rehat sejenak dari riuhnya kehidupan sehari-hari.
Intinya, naik gunung bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk menyegarkan pikiran. Tapi efeknya bakal jauh lebih terasa kalau datang untuk menikmati perjalanan, bukan sekadar mengejar puncak dan jumlah likes. (*)

