BACAAJA, KEBUMEN – Benteng Van der Wijck di Gombong, Kebumen, tak mau cuma jadi tempat foto-foto atau wisata sejarah. Kawasan ikonik ini mulai didorong menjadi titik temu pariwisata, UMKM, budaya, dan ekonomi kreatif warga.
Semangat itu terlihat dalam gelaran Kebumen Travel Mart (KTM) dan Gombong Festival of Culture 2026. Acara yang digelar di kawasan benteng pada Kamis, 27 Agustus 2026, tersebut ramai didatangi warga dan tamu undangan.
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat melihat momen ini sebagai kesempatan untuk membawa produk lokal Kebumen naik level. Menurutnya, UMKM dan ekonomi kreatif punya peluang besar untuk menembus pasar nasional bahkan global.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Koperasi RI Ferry Joko Juliantono, Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, serta Dandim 0709/Kebumen Letkol Inf Eko Majlistyawan Prihantono.
Ribuan warga dan undangan ikut meramaikan kegiatan yang menampilkan beragam potensi Kebumen. Mulai dari wisata, budaya, produk UMKM hingga geliat ekonomi kreatif mendapat panggung dalam acara tersebut.
Achiruddin mengatakan Kebumen sebenarnya punya modal yang komplet untuk mengembangkan ekonomi daerah. Kekayaan alam, sejarah, budaya, destinasi wisata, sampai produk UMKM bisa dikemas menjadi kekuatan ekonomi baru.
“Kita semua patut bersyukur, Kebumen dikaruniai kekayaan alam, warisan sejarah yang bernilai tinggi, serta produk UMKM unggulan yang berdaya saing di pasaran,” ujar Achiruddin.
Menurutnya, pemilihan Benteng Van der Wijck sebagai lokasi acara juga punya nilai strategis. Bangunan bersejarah tersebut bukan hanya menarik dari sisi wisata, tetapi juga bisa menjadi ruang bertemunya pelaku pariwisata dengan pelaku usaha lokal.
Kebumen Travel Mart dan Gombong Festival of Culture dinilai bisa menjadi ajang untuk mengenalkan lebih jauh berbagai potensi daerah. Bukan hanya kepada wisatawan, tetapi juga kepada pelaku industri pariwisata dan calon mitra usaha.
Namun, menurut Achiruddin, pariwisata tidak bisa berjalan sendirian. Kehadiran UMKM dan ekonomi kreatif yang punya produk berkualitas menjadi bagian penting agar geliat wisata ikut menghasilkan perputaran ekonomi bagi warga.
“Oleh karena itu, melalui kesempatan yang baik ini, saya mengajak kita semua untuk mendukung UMKM dan ekonomi kreatif untuk terus berkreasi, menjaga mutu, serta beradaptasi dengan zaman,” katanya.
Generasi muda juga diminta ikut mengambil peran. Achiruddin mendorong anak-anak muda Kebumen berani mengemas identitas lokal menjadi sesuatu yang lebih modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Menurut dia, budaya lokal justru bisa menjadi pembeda saat produk dan kreativitas Kebumen dibawa ke panggung yang lebih luas. Identitas daerah bisa menjadi modal untuk bersaing, bukan sesuatu yang harus ditinggalkan.
“Khusus kepada generasi muda Kebumen, jadikan identitas lokal sebagai modal untuk tampil modern dan kompetitif di kancah global tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur daerah,” ujarnya.
Achiruddin berharap pengembangan Benteng Van der Wijck dan destinasi wisata lain di Kebumen dilakukan secara bareng-bareng. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat perlu mengambil peran agar dampaknya tidak berhenti pada ramainya wisatawan.
“Harapannya, tentu kawasan ini dan potensi wisata lainnya dapat terus dikembangkan sehingga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, khususnya warga Gombong dan sekitarnya,” katanya.
Dari sisi ekonomi kerakyatan, Menteri Koperasi RI Ferry Joko Juliantono ikut menyoroti pentingnya penguatan koperasi dan UMKM. Menurutnya, dua sektor tersebut punya posisi penting karena langsung bersentuhan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Potensi sumber daya lokal juga dinilai bisa lebih maksimal jika dikelola melalui koperasi dan UMKM yang kuat. Karena itu, pengembangan sektor tersebut perlu terus didorong agar manfaat ekonominya makin terasa.
“Kegiatan ini menjadi etalase wisata dan ekonomi yang layak untuk dikembangkan dikemudian hari,” kata Ferry.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani menambahkan, Gombong Festival of Culture bukan sekadar panggung pertunjukan atau ajang promosi destinasi. Festival tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
Menurut Lilis, pertemuan berbagai pihak itu penting untuk membangun jejaring sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata di Kebumen.
“Festival ini bukan hanya tentang pertunjukan budaya, tetapi juga bagaimana seluruh potensi yang ada dapat dipertemukan dan dikembangkan bersama,” kata Lilis.
Dengan konsep tersebut, Benteng Van der Wijck diharapkan tidak cuma dikenal karena sejarahnya. Kawasan ini juga bisa menjadi salah satu motor baru yang menggerakkan wisata, UMKM, budaya, dan ekonomi kreatif Kebumen. (*)

