Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang. Ia sudah pernah menerbitkan kumpulan cerpen. “Seharusnya Malam Ini Saya Jatuh Cinta” judulnya.
Ada kalanya kita tertawa bukan karena sesuatu itu lucu. Tapi karena tidak tertawa bisa mendatangkan masalah.
Ada yang bilang, kunci hubungan harmonis adalah saling kompromi. Saya coba menerapkannya dan banyak hal mengejutkan kemudian terjadi. Saya pernah ikut mencicipi kerupuk seblak ketika pacar saya menawari. Bahkan ia sangat antusias, tatapan matanya menyala-nyala ketika mengatakan saya harus mencobanya.
Setahu saya kenikmatan makan kerupuk itu karena bunyinya yang khas saat dikunyah, dan kita pasti enggan makan kerupuk yang sudah melempem. Tapi saya tidak berkomentar apa-apa ketika makanan yang lembek dan becek mirip ubur-ubur itu masuk ke mulut saya.
Sebab menurut saya, rasa makanan bisa ditoleransi, dan agaknya tidak membutuhkan perenungan yang mendalam untuk sekedar mengatakan enak.
Tapi bagaimana jika kamu harus tertawa untuk menyenangkan hati pasangan? Masalahnya sensitivitas humor saya dan pacar saya memang sedikit berbeda. Saya juga termasuk jenis manusia yang kurang pandai berekspresi secara gestur. Dan terkadang itu memicu perdebatan kecil di antara kami. Awalnya, hal itu memang lumayan merepotkan.
Pernah pacar saya memperlihatkan video pendek di tiktok. Reaksi saya cuma datar. Dan rupanya dia kurang senang sambil memberi ancaman tidak akan memperlihatkan video apa pun lagi. Terus terang, kecantikannya memang tidak berkurang sekalipun sedang cemberut.
Tapi saya menyesal sudah membuatnya kecewa. Seharusnya saya tertawa atau paling tidak tersenyum sebagaimana ketika dia mengirimkan video lucu lewat pesan, saya bisa membalasnya dengan stiker konyol.
Saya jadi teringat cerita Abu Nawas. Suatu hari, Baginda Raja membuat lelucon garing dan para pengawal yang tidak tertawa akan dihukum. Abu Nawas justru tertawa terpingkal-pingkal sampai berguling-guling. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia bukan menertawakan lelucon Baginda, melainkan menertawakan nasib para pengawal yang harus pura-pura tertawa agar tidak masuk penjara.
Itu pukulan yang merdu buat sang raja. Sayangnya saya tidak memiliki kecerdasan setingkat Abu Nawas, dan hukuman yang diberikan pacar saya memang bukan penjara. Melainkan wajah cemberut dan mood yang berantakan.
Jika hal itu terjadi, saya biasanya kerap menjadi sasaran kekesalahnnya, apa yang saya lakukan di matanya semuanya mendadak salah.
Perkara tertawa, jika dipikir-pikir kadang memang cukup rumit. Ia melibatkan pikiran, pengalaman hidup, perasaan, dan bahkan situasi sosial. Sesuatu yang menurut kita remeh bisa membuat orang lain terpingkal-pingkal karena menyentuh pengalaman yang pernah mereka alami.
Begitupun ketika bosmu menceritakan kejadian yang dianggapnya lucu. Saya berani mempertaruhkan telinga kiri saya. Kamu tetap akan tertawa sekalipun menurutmu kering dan kosong makna.
Mungkin pada akhirnya kita tak perlu menyamakan selera humor. Cukup belajar menghargai untuk menyenangkan hati orang lain. Sebab dalam hidup, ada kalanya kita tertawa bukan karena sesuatu itu lucu. Tapi karena tidak tertawa bisa mendatangkan masalah. Jadi, silakan selamatkan dirimu dengan tertawa. Apa pun situasinya. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

