BACAAJA, SEMARANG– Pemprov Jateng mempercepat transformasi sektor perhubungan melalui serangkaian inovasi berbasis energi bersih dan digitalisasi layanan.
Transformasi tersebut mencakup pengoperasian taksi dan travel listrik, integrasi transportasi umum, digitalisasi layanan terminal, hingga penerapan sistem pembayaran nontunai.
Beragam inovasi itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam acara Grand Launching Transformasi Perhubungan Jawa Tengah 2026 di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Senin (24/8/2026).
Salah satu yang menarik perhatian adalah hadirnya layanan taksi listrik. Ahmad Luthfi bahkan mencoba langsung kendaraan tersebut dengan berkeliling di kawasan Kantor Dishub Jateng.
Usai menjajal kendaraan listrik itu, Luthfi mengaku cukup terkesan dengan kenyamanan yang ditawarkan. “Ini sangat nyaman sekali. Saya coba muter kantor Dishub, argonya tinggal pencet, enggak ada suaranya, tidak polusi udara, dan menghemat energi fosil,” ujarnya.
Baca juga: HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen
Menurut Luthfi, penggunaan energi bersih perlu terus didorong di berbagai sektor. Bukan hanya kendaraan, Pemprov Jateng juga mulai memanfaatkan energi surya pada sejumlah gedung perkantoran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan energi terbarukan sekaligus mendukung konsep ekonomi hijau di Jateng. Terkait kemungkinan penggunaan kendaraan listrik untuk layanan Bus Rapid Transit atau BRT, Luthfi mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap kajian.
Menurutnya, pengembangan transportasi tidak boleh hanya berhenti pada hadirnya teknologi atau aplikasi baru. Inovasi harus mampu memberikan jawaban atas persoalan nyata masyarakat, terutama dalam mobilitas orang dan distribusi barang.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jateng, Arif Djatmiko mengatakan, peluncuran taksi listrik dan travel listrik merupakan bagian dari delapan inovasi yang dikembangkan dalam Transformasi Perhubungan Jawa Tengah 2026.
Selain elektrifikasi kendaraan, transformasi juga menyasar layanan terminal melalui penerapan sistem pembayaran nontunai atau cashless. Uji coba sistem tersebut telah dilakukan di Terminal Sukoharjo.
Non Tunai
Ke depan, sistem pembayaran digital direncanakan diterapkan di 22 Terminal Tipe B yang dikelola Pemerintah Provinsi Jateng. Penerapan pembayaran nontunai diharapkan membuat transaksi lebih transparan dan akuntabel karena pembayaran dapat langsung masuk ke kas daerah.
Dishub Jateng juga mengembangkan sistem digital untuk monitoring dan pengawasan operasional Terminal Tipe B. Sistem berbasis data itu nantinya digunakan untuk memantau kendaraan sekaligus mendukung pengelolaan dan pelaporan operasional terminal secara lebih terintegrasi.
Transformasi juga menyasar layanan angkutan massal Trans Jateng melalui kolaborasi dengan Gojek. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memudahkan perjalanan masyarakat dari titik awal menuju halte Trans Jateng hingga perjalanan lanjutan menuju tujuan akhir.
Konsep ini dikenal sebagai layanan first mile dan last mile, sehingga pengguna transportasi umum tidak perlu terlalu bingung mencari moda lanjutan setelah turun dari bus.
“Tahun depan kita akan membuat satu tiket antara Gojek dan Trans Jateng. Jadi first mile, last mile sudah tercakup semua,” kata Arif Djatmiko yang akrab disapa Miko.
Baca juga: Pemprov Beri Apresiasi Kru Trans Jateng
Menurut data Dishub Jawa Tengah, jumlah pengguna Trans Jateng sepanjang 2025 mencapai sekitar 10 juta penumpang. Dari jumlah tersebut, sekitar 53 persen disebut merupakan pengguna yang beralih dari kendaraan pribadi ke Trans Jateng.
Peralihan tersebut diperkirakan mampu memberikan penghematan biaya transportasi masyarakat hingga sekitar Rp50 miliar. Selain itu, Pemprov Jateng juga memperluas penggunaan Kartu Multi Trip sebagai metode pembayaran Trans Jateng.
Saat ini, kartu tersebut telah diterapkan pada satu koridor. Ke depan, penggunaannya ditargetkan dapat menjangkau seluruh tujuh koridor Trans Jateng.
Dengan rangkaian inovasi tersebut, transportasi Jawa Tengah diarahkan menjadi lebih terintegrasi, mulai dari kendaraan listrik, pembayaran digital, hingga konektivitas antarmoda.
Satirnya, dulu perjalanan sering dimulai dengan pertanyaan, “Bawa uang receh enggak?” Ke depan mungkin pertanyaannya berubah jadi, “HP-mu sudah cukup baterai belum?” Karena transportasi Jateng perlahan sedang pindah jalur: dari asap, karcis, dan uang tunai menuju listrik, aplikasi, dan satu tiket perjalanan. (tebe)

