BACAAJA, PURBALINGGA — Gunung Slamet kembali menyisakan kabar duka. Sepanjang 2026, setidaknya dua pendaki tercatat meninggal dalam insiden berbeda di kawasan gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
Dua kejadian itu terjadi dengan cerita yang berbeda. Satu pendaki ditemukan setelah berhari-hari hilang di jalur pendakian, sementara korban lainnya jatuh ke kawah saat berada di area puncak.
Catatan ini jadi alarm buat para pendaki. Gunung Slamet bukan cuma soal mengejar sunrise atau sampai puncak, tapi juga medan berat, cuaca yang bisa berubah cepat, hingga risiko serius di sekitar kawasan kawah.
Syafiq Hilang Saat Turun
Kasus pertama melibatkan Syafiq Ridhan Ali Razan, 18, pendaki asal Magelang. Ia mendaki Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Pemalang, bersama rekannya, Himawan Khaidar Rahman.
Keduanya berangkat pada 27 Desember 2025 dengan rencana tektok, alias naik gunung lalu turun tanpa bermalam. Namun, saat perjalanan turun, keduanya justru terpisah.
Himawan berhasil selamat, sedangkan Syafiq dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian secara intensif selama 17 hari.
Syafiq akhirnya ditemukan pada 14 Januari 2026 sekitar pukul 10.22 WIB. Lokasinya berada di punggungan sisi selatan Gunung Slamet, tak jauh dari kawasan Watu Langgar dengan ketinggian sekitar 3.150 meter di atas permukaan laut.
Saat ditemukan, sejumlah barang milik korban seperti dompet, trekking pole, senter, dan emergency blanket berada di sekitar lokasi. Syafiq sudah dalam kondisi meninggal dunia.
Hasil pemeriksaan luar tidak menunjukkan adanya tanda kekerasan. Tim SAR memperkirakan korban meninggal sekitar empat sampai lima hari sebelum ditemukan, dengan dugaan kuat mengalami hipotermia berat.
Meski jasadnya ditemukan pada Januari 2026, perkiraan waktu kematiannya berada di akhir Desember 2025. Karena itu, kasus Syafiq sebenarnya bermula sebelum periode rekap kejadian fatal sepanjang 2026.
Fahri Jatuh ke Kawah
Insiden berikutnya terjadi pada 18 Agustus 2026 dan menimpa M. Fahri Maulana, 16, warga Sirampog, Brebes. Korban mendaki melalui jalur Sawangan atau Bosapala di kawasan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
Sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan mulai turun dari kawasan puncak. Fahri memilih turun belakangan dan masih berada di sekitar bibir kawah Gunung Slamet.
Situasi berubah dalam hitungan detik. Tanah di area yang dipijak korban diduga rapuh hingga tiba-tiba ambrol.
Fahri kemudian terperosok ke dalam kawah dengan kedalaman diperkirakan mencapai 30-50 meter. Kondisi lokasi yang terjal dan berisiko membuat proses pencarian tidak bisa dilakukan sembarangan.
Tim SAR gabungan harus menggunakan teknik high-angle rescue. Petugas juga menyiapkan alat bantu pernapasan SCBA untuk mengantisipasi kemungkinan paparan gas berbahaya dari kawah aktif.
Setelah proses evakuasi yang cukup rumit, korban berhasil ditemukan pada Selasa malam dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah kemudian dievakuasi menuju jalur bawah untuk penanganan lebih lanjut.
Jangan Anggap Enteng Gunung
Dua insiden tersebut jadi pengingat bahwa mendaki bukan sekadar urusan fisik kuat atau punya pengalaman. Kondisi Gunung Slamet bisa berubah cepat, sementara kawasan puncak juga menyimpan sejumlah risiko yang wajib diperhitungkan.
Pendaki sebaiknya tetap menggunakan jalur resmi dan melakukan registrasi di basecamp. Jangan nekat mengambil jalur alternatif hanya demi memangkas waktu atau mengejar spot tertentu.
Area bibir kawah juga bukan tempat yang aman untuk bermain-main. Apalagi sekadar demi foto atau konten media sosial yang risikonya bisa jauh lebih besar daripada hasil yang didapat.
Perlengkapan juga harus disiapkan dengan serius, mulai dari pakaian hangat, perlindungan cuaca, penerangan, hingga perlengkapan darurat. Kondisi fisik sebelum berangkat pun perlu benar-benar diperhitungkan.
Yang tak kalah penting, jangan memaksakan diri jika kondisi tubuh atau cuaca mulai tidak mendukung. Tetap bersama rombongan dan jangan sampai terpisah ketika berada di medan yang sulit.
Pada akhirnya, target mencapai puncak boleh tinggi, tapi keselamatan tetap harus jadi prioritas utama. Sebab, gunung akan tetap ada untuk didaki lain waktu, sementara satu keputusan ceroboh bisa berujung fatal. (*)

