BACAAJA, MALANG – Penutupan kawasan Gunung Bromo ternyata bukan cuma berdampak ke wisatawan. Para pelaku usaha yang selama ini menggantungkan pemasukan dari ramainya kunjungan juga ikut merasakan sepinya order.
Salah satunya Muhammad Nizar Aditya, pemilik jasa penyewaan jeep wisata di Malang. Sejak akses menuju Bromo dari pintu Jemplang ditutup pada Senin (3/8/2026), ia mengaku pemasukan usahanya langsung turun cukup tajam.
Dalam hitungannya, omzet kini merosot sekitar 40 persen. Kondisi ini terasa makin berat karena Bromo merupakan salah satu magnet wisata utama di Jawa Timur, termasuk bagi wisatawan asing.
“Dampaknya sangat-sangat terasa, karena Bromo tujuan utama wisata di Jatim. Untuk penurunan omzet sekitar 40 persen,” kata Nizar kepada Kompas.com, Senin (17/8/2026).
Banyak Pesanan Wisata Berujung Refund
Sepinya bisnis jeep terjadi karena sejumlah wisatawan membatalkan perjalanan yang sebelumnya sudah dipesan. Hingga saat ini, hampir 60 wisatawan tercatat meminta pengembalian uang atau refund.
Dalam kondisi normal, jasa jeep milik Nizar bisa melayani sekitar lima sampai enam trip menuju Bromo setiap pekan. Saat long weekend atau musim liburan, jumlahnya bahkan bisa melonjak menjadi 10 hingga 15 trip dalam sepekan.
Jika dihitung dari jumlah perjalanan yang hilang, Nizar memperkirakan penurunan omzetnya saat ini mencapai sekitar Rp8 juta.
Situasi tersebut jelas bikin pelaku usaha harus memutar otak. Sebab, ketika kawasan wisata utama ditutup, rantai bisnis yang ikut terdampak bukan hanya penyedia jeep, tetapi juga sektor wisata lain yang bergantung pada kedatangan pengunjung.
Wisatawan Dialihkan, Bromo Tetap Jadi Primadona
Untuk menjaga agar wisatawan tidak kehilangan pilihan, Nizar dan pelaku usaha lainnya mencoba menawarkan sejumlah destinasi alternatif. Beberapa di antaranya Tumpak Sewu, Teras Semeru, Air Terjun Kapas Biru, hingga Kawah Ijen.
Namun, strategi tersebut belum sepenuhnya berhasil menggantikan daya tarik Bromo. Apalagi bagi wisatawan mancanegara yang biasanya sudah menyusun rencana perjalanan sejak jauh hari.
“Walaupun wisatawan sudah kami alihkan ke wisata alam lain, tapi mereka masih penasaran dengan Gunung Bromo, terutama wisatawan asing,” ujar Nizar.
Penutupan juga terjadi bertepatan dengan musim liburan musim panas. Periode tersebut biasanya menjadi salah satu momen ramainya wisatawan asing berkunjung ke Jawa Timur.
“Berhubung ini summer holiday, biasa tamu bule sedang ramai-ramainya. Sekarang jadi sepi,” katanya.
Jeep Bromo Pilih Setop Sementara
Sampai Minggu (16/8/2026), kawasan wisata Bromo belum sepenuhnya kembali dibuka. Informasi yang diterima Nizar menyebut akses wisata yang masih bisa digunakan hanya menuju Seruni Point dari wilayah Probolinggo.
Karena pilihan wisatanya terbatas, Nizar akhirnya memilih menghentikan sementara layanan jeep menuju Bromo. Ia memilih menunggu kepastian pembukaan kawasan daripada memaksakan operasional dengan kondisi yang belum normal.
“Kalau hanya Seruni Point saja, sepertinya wisatawan banyak yang kurang minat. Jadi sementara kita close dulu, sembari menunggu informasi pembukaan akses wisata,” ujarnya.
Bromo Ditutup Gegara Karhutla
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebelumnya mulai membatasi akses wisata Gunung Bromo sejak 3 Agustus 2026. Pembatasan awal diberlakukan melalui pintu Jemplang di Kabupaten Malang dan Senduro di Kabupaten Lumajang.
Situasi kemudian berubah setelah kebakaran hutan dan lahan meluas. Mulai Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB, seluruh akses masuk kawasan wisata Bromo ditutup.
Pintu yang ikut ditutup mencakup Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang.
Penutupan dilakukan untuk membantu proses pemadaman sekaligus menjaga keselamatan wisatawan. Api kemudian dinyatakan padam total pada Jumat (14/8/2026) pagi.
Meski begitu, petugas masih memantau sejumlah titik panas atau hotspot. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kawasan belum langsung kembali normal, sementara pelaku usaha wisata seperti Nizar masih menunggu kabar kapan Bromo bisa kembali menerima wisatawan. (*)

