BACAAJA, SEMARANG – Unik nih. Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kampung Wisata Kandri, Gunungpati, Kota Semarang, menggunakan Bahasa Jawa.
Suasana pagi ini, Senin (17/8/2026), ramai. Warga dari tujuh RT di RW 1 Kandri, berdiri berbaris di depan gerbang masuk kampung.
Para ibu mengenakan caping, kain jarik, hingga membawa sayuran. Sementara sebagian warga lainnya tampil dengan busana yang menggambarkan keseharian petani.
Bacaaja: HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen
Bacaaja: Pimpin Upacara HUT RI di Sekolah Partai, Megawati Perintahkan Kader PDIP Bantu Korban Gempa NTT
Di tengah barisan, nuansa Jawa semakin terasa ketika prosesi upacara disampaikan menggunakan bahasa Jawa.
Perintah “hormat grak” berganti menjadi “samtiko tandyo”, sedangkan “tegak grak” menjadi “jigek tandyo”.
Konsep tersebut sengaja dipilih warga Kandri untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa Jawa, terutama di kalangan anak muda.
Pembina upacara sekaligus Ketua RW 01 Kelurahan Kandri, Masudi, mengatakan upacara dengan konsep bahasa Jawa tersebut rutin digelar warga setiap tahun.
“Upacara ini dikatakan unik karena kita berbahasa Jawa. Bahasa Jawa sekarang sudah banyak ditinggalkan,” kata Masudi.
Menurutnya, penggunaan bahasa Jawa dalam upacara bukan berarti warga ingin menutup diri dari perkembangan zaman. Justru, budaya lokal dinilai perlu tetap dikenalkan kepada generasi muda.
“Harapannya anak-anak bisa berbahasa Jawa dan bisa ditanamkan akhlakul karimah,” ujarnya.

Masudi menjelaskan, pertanian menjadi tema utama dalam upacara tahun ini. Bukan tanpa alasan. Kandri dikenal sebagai kawasan desa wisata yang masih memiliki aktivitas pertanian cukup kuat.
“Konsep untuk tema daripada upacara ini adalah pertanian. Pertanian menjadi ikon kita di desa wisata ini,” jelas Masudi.
Ia menyebut sekitar 70 persen warga Kandri masih berkaitan dengan sektor pertanian. Lahan pertanian yang ada juga masih mencapai sekitar 50 hektare.
Karena itu, menurut Masudi, tema pertanian sekaligus menjadi pesan soal pentingnya ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
“Makanya ibu-ibu, bapak-bapak memakai atribut ala petani. Petani itu adalah kita, sesuai dengan pemerintah yang mencanangkan ketahanan pangan,” katanya.
Upacara tersebut juga diikuti sekitar 400 kepala keluarga. Seluruh kegiatan digelar secara swadaya oleh warga. (bae)

