BACAAJA, SEMARANG – Kota Semarang dilintasi jalur sesar yang membentang dari wilayah Kabupaten Kendal hingga Kabupaten Semarang. Jalur itu melintasi sejumlah kecamatan di bagian barat, selatan, hingga tengah.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Siti Ismaillyaningsih, mengatakan keberadaan tiga jalur sesar itu bisa dilihat dengan mengacu pada peta geologi karya Van Bemmelen tahun 1949.
Jalur pertama membentang dari wilayah Boja, Kabupaten Kendal, lalu memasuki Kota Semarang melalui Kecamatan Mijen, tepatnya di Kelurahan Jatisari, Tambangan, dan Purwosari. Dari sana jalur sesar berlanjut ke Kecamatan Gunungpati melintasi Cepoko, Mangunsari, dan Pakintelan, kemudian melewati Pudakpayung di Kecamatan Banyumanik sebelum tersambung ke wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang.
Bacaaja: Semarang Ternyata Punya Sesar Aktif, Agustina Siapkan Jurus “Paku Bumi”
Bacaaja: Seram! Permukiman di Gunungpati Ini Berdiri di Tanah Labil, Banyak Rumah Mulai Retak
Jalur kedua juga berawal dari arah Mijen, namun melewati Kelurahan Kedungpane. Selanjutnya sesar melintasi Kecamatan Gunungpati di wilayah Sadeng dan Sukorejo, lalu menerus ke Kecamatan Banyumanik melalui Tinjomoyo, Sumurboto, Pedalangan, serta Jabungan. Jalur ini juga melewati Kecamatan Tembalang, tepatnya Kelurahan Tembalang dan Kramas, sebelum terhubung ke Ungaran.
Sementara jalur ketiga memiliki bentangan lebih pendek. Jalur ini melewati Kecamatan Ngaliyan, yakni Kelurahan Ngaliyan, Bambankerep, dan Kalipancur, kemudian melintas ke Kecamatan Gajahmungkur dan terputus di wilayah Sukorejo, Kecamatan Gunungpati.
Meski demikian, Ismaillyaningsih mengingatkan tidak semua lokasi yang rawan tanah bergerak berada di jalur sesar. Menurutnya, masih banyak daerah yang berpotensi mengalami pergerakan tanah karena faktor geologi lain.
Ia menjelaskan, dalam ilmu geologi terdapat perbedaan antara sesar dan patahan atau lurusan.
Sesar merupakan zona rekahan pada kerak bumi yang sudah terbukti mengalami pergeseran, sedangkan lurusan baru berupa indikasi struktur bawah permukaan yang belum tentu merupakan sesar aktif.
“Kalau sesar ya seperti yang saya katakan tadi, karena adanya unsur geologinya. Jadi sesar itu karena lempengan yang bergeser,” ujarnya.
Ia menambahkan, dugaan adanya patahan di suatu wilayah belum bisa langsung dipastikan sebagai sesar. (bae)

