BACAAJA, JAKARTA – Rencana Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V terus memantik perbincangan. Banyak yang melihat langkah itu sebagai upaya menguji kekuatan PDIP di wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis utamanya.
Sorotan makin besar karena Dapil Jateng V juga menjadi daerah pemilihan Puan Maharani. Pertemuan dua nama besar itu dinilai berpotensi menghadirkan persaingan yang bakal menyita perhatian publik menjelang Pemilu 2029.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai ramainya respons publik muncul karena banyak orang menganggap Kaesang sedang masuk ke “kandang banteng”. Istilah itu merujuk pada citra kuat PDIP di kawasan tersebut.
Menurut Adi, anggapan itu memang wajar muncul di ruang publik. Namun, ia mengingatkan bahwa pertarungan dalam pemilihan legislatif tidak sesederhana perang citra atau nama besar tokoh.
Ia menjelaskan bahwa peta politik menjelang Pemilu masih sangat mungkin berubah. Partai yang kini terlihat dominan belum tentu tetap perkasa beberapa tahun ke depan, begitu pula sebaliknya.
Dalam kontestasi pileg, kata Adi, kekuatan politik terus bergerak mengikuti dinamika di lapangan. Kerja partai, konsolidasi kader, hingga strategi mendekati pemilih akan menjadi penentu utama.
Adi juga menepis anggapan bahwa Kaesang otomatis memiliki jalan mulus menuju Senayan hanya karena merupakan putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Faktor keluarga, menurutnya, bukan tiket instan untuk memenangkan kursi legislatif.
Meski Jokowi berasal dari Solo yang berada di Jawa Tengah, hal itu belum tentu langsung berbanding lurus dengan dukungan suara bagi Kaesang. Pemilih tetap memiliki pertimbangan masing-masing saat menentukan pilihan.
Ia menilai kemenangan dalam pileg lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kandidat membangun kedekatan dengan masyarakat. Popularitas memang membantu, tetapi tidak selalu menjadi penentu hasil akhir.
Selain figur calon, kekuatan mesin partai juga memegang peran penting. Kandidat harus mampu bergerak bersama struktur partai agar dukungan di lapangan benar-benar terbentuk.
Di sisi lain, kualitas komunikasi politik juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Kandidat dituntut mampu menawarkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah pemilihannya.
Karena itu, Adi menilai pertarungan di Dapil Jateng V masih terlalu dini untuk diprediksi. Banyak variabel yang bisa berubah sebelum hari pencoblosan tiba.
Ia menyebut kontestasi legislatif selalu penuh kejutan. Kandidat yang awalnya diunggulkan bisa saja kehilangan momentum, sementara nama yang kurang diperhitungkan justru mampu melesat.
Persaingan menuju Senayan, lanjutnya, tidak cukup hanya mengandalkan efek popularitas keluarga ataupun status politik. Kerja nyata di lapangan tetap menjadi modal paling menentukan.
Dengan begitu, langkah Kaesang di Jateng V memang menarik untuk disimak. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada kemampuan membangun dukungan politik secara nyata, bukan semata-mata karena membawa nama besar keluarga. (*)

