BACAAJA, SEMARANG – Kehamilan sering membawa banyak perubahan pada kulit. Ada yang tiba-tiba wajahnya berjerawat, kulit jadi lebih berminyak, muncul flek hitam, sampai terasa kering dan gatal karena pengaruh hormon.
Di tengah banyaknya produk skincare yang beredar, ibu hamil sebaiknya tidak asal ikut tren atau tergoda promosi. Sebab, ada beberapa kandungan yang aman dipakai, tetapi ada juga yang sebaiknya dihindari selama masa kehamilan.
Dokter spesialis kulit mengingatkan, memilih produk skincare saat hamil bukan sekadar soal hasil yang cepat terlihat. Keamanan bagi ibu dan janin tetap harus menjadi prioritas utama.
Perubahan kulit selama kehamilan memang merupakan hal yang wajar. Naiknya kadar hormon estrogen, progesteron, dan androgen dapat memengaruhi produksi minyak, warna kulit, hingga elastisitas kulit.
Akibatnya, sebagian ibu hamil lebih mudah mengalami jerawat. Di sisi lain, ada juga yang justru merasakan kulit semakin kering, bersisik, atau muncul stretch mark seiring membesarnya perut.
Tak sedikit pula yang mengalami melasma atau bercak gelap di wajah. Kondisi ini biasanya akan terlihat lebih jelas jika kulit sering terpapar sinar matahari tanpa perlindungan.
Meski perubahan tersebut termasuk proses alami, bukan berarti kulit dibiarkan begitu saja. Perawatan tetap diperlukan agar kulit tetap sehat dan rasa tidak nyaman bisa berkurang.
Dokter spesialis kulit Anna Chacon menyarankan ibu hamil memilih produk yang memang dirancang aman digunakan selama kehamilan. Produk dengan label hipoalergenik, bebas paraben, dan tanpa pewangi umumnya menjadi pilihan yang lebih baik.
Beberapa kandungan dinilai relatif aman digunakan selama masa kehamilan. Salah satunya adalah hyaluronic acid yang membantu menjaga kelembapan kulit sehingga tidak mudah kering.
Ada juga shea butter yang dikenal mampu melembapkan sekaligus membantu mengurangi rasa tertarik pada kulit akibat peregangan selama kehamilan.
Untuk mengatasi kulit kusam atau jerawat ringan, glycolic acid dalam kadar yang sesuai juga sering menjadi pilihan. Kandungan ini kerap digunakan sebagai alternatif dibanding retinol.
Sementara bagi ibu hamil yang mengalami jerawat atau flek hitam, azelaic acid juga cukup sering direkomendasikan oleh dokter karena dinilai lebih aman digunakan selama masa kehamilan.
Jangan lupa memakai tabir surya setiap hari, terutama jika sering beraktivitas di luar ruangan. Sunscreen berbahan mineral seperti zinc oxide atau titanium dioxide dapat membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet sekaligus mengurangi risiko melasma semakin parah.
Dokter spesialis kulit Ashley Magovern menyebut glycolic acid menjadi salah satu bahan yang cukup banyak direkomendasikan. Menurutnya, kandungan tersebut bisa membantu membuat kulit terlihat lebih cerah dan halus dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, ada beberapa bahan aktif yang sebaiknya dihindari selama kehamilan. Yang paling sering menjadi perhatian adalah retinoid atau retinol.
Bahan tersebut tidak dianjurkan karena dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan janin apabila terserap tubuh dalam jumlah tertentu. Karena itu, ibu hamil sebaiknya menghentikan penggunaan produk berbahan retinol dan berkonsultasi dengan dokter jika ragu.
Produk dengan kombinasi bahan aktif berkonsentrasi tinggi juga sebaiknya tidak digunakan sembarangan. Jika memang diperlukan, penggunaannya perlu mendapat saran dari dokter.
Selain memilih skincare yang tepat, kebiasaan sederhana juga berperan besar menjaga kesehatan kulit. Rutin memakai pelembap, minum air putih yang cukup, serta melindungi kulit dari sinar matahari menjadi langkah yang tidak kalah penting.
Rutinitas perawatan saat hamil sebenarnya tidak perlu rumit. Semakin sederhana dan sesuai kebutuhan kulit, biasanya justru lebih aman dijalani.
Jadi, sebelum membeli skincare karena sedang viral di media sosial, pastikan dulu kandungannya aman untuk ibu hamil. Kulit tetap bisa terawat tanpa harus mengambil risiko yang tidak perlu bagi ibu maupun calon buah hati. (*)

