BACAAJA, MAGETAN – Sebanyak 28 SMP negeri di Kabupaten Magetan belum berhasil memenuhi kuota peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027. Kondisi ini membuat Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) setempat mendorong sekolah untuk tampil lebih kreatif agar kembali menarik minat masyarakat.
Sekretaris Dikpora Magetan, Dian Astuti Purwandani, menilai sekolah tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam menarik calon siswa. Persaingan kini semakin ketat sehingga setiap sekolah perlu memiliki ciri khas yang membedakannya dari sekolah lain.
Menurut Dian, masyarakat kini jauh lebih selektif saat memilih tempat belajar bagi anak-anaknya. Orangtua tidak hanya melihat status sekolah negeri atau swasta, tetapi juga mempertimbangkan kualitas program yang ditawarkan.
Karena itu, setiap sekolah diminta menggali potensi terbaik yang dimiliki. Keunggulan di bidang olahraga, literasi, pendidikan karakter, maupun kegiatan keagamaan bisa menjadi nilai tambah yang menarik perhatian calon siswa.
Dikpora berharap program unggulan tersebut dipromosikan dengan lebih baik sehingga masyarakat mengetahui bahwa setiap sekolah memiliki kelebihan masing-masing, bukan hanya sekolah yang selama ini dianggap favorit.
Selain mendorong inovasi di tingkat sekolah, pemerintah daerah juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Dewan Pendidikan, PGRI, MGMP hingga organisasi perangkat daerah lainnya. Tujuannya agar kualitas pendidikan terus meningkat secara merata.
Dian optimistis langkah tersebut bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri. Ia menegaskan persoalan minimnya jumlah siswa tidak bisa diselesaikan oleh sekolah sendirian, melainkan membutuhkan kerja sama semua pihak.
Sebelumnya, sebanyak 28 dari total 39 SMP negeri di Magetan gagal memenuhi daya tampung pada penerimaan siswa baru tahun ini. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan.
Persaingan dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan pondok pesantren menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, jumlah lulusan sekolah dasar juga terus menurun karena faktor demografi.
Sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran juga menghadapi tantangan tersendiri. Lokasi yang jauh dari pusat kota membuat sebagian orangtua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dianggap lebih favorit.
Ketimpangan antara jumlah kursi yang tersedia dengan jumlah lulusan SD turut memperparah keadaan. Akibatnya, banyak sekolah kesulitan mendapatkan peserta didik sesuai target.
Untuk mengurangi kekosongan tersebut, Dikpora Magetan membuka pendaftaran jalur luar jaringan atau offline di sekolah-sekolah yang masih kekurangan murid. Langkah ini diambil agar lebih banyak anak tetap bisa melanjutkan pendidikan dan angka putus sekolah dapat ditekan.
Meski masa pengenalan lingkungan sekolah sudah dimulai, puluhan SMP negeri itu hingga kini masih belum berhasil memenuhi kuota siswa yang telah ditetapkan. Pemerintah berharap pembenahan dan inovasi sekolah dapat menjadi solusi agar kondisi serupa tidak terus berulang pada tahun-tahun mendatang. (*)

