BACAAJA, BANJARNEGARA – Fenomena embun upas kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng saat musim kemarau 2026. Lapisan putih yang menempel di rumput dan dedaunan sukses mencuri perhatian wisatawan sekaligus ramai dibagikan di media sosial.
Banyak orang menyebut pemandangan tersebut sebagai salju tropis. Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan lapisan putih itu bukan salju, melainkan embun beku atau frost.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, menjelaskan embun upas merupakan fenomena alam yang memang rutin terjadi di kawasan Dieng setiap musim kemarau.
Secara ilmiah, embun beku terbentuk ketika suhu udara turun sangat rendah hingga embun yang menempel di permukaan rumput, daun, maupun tanaman berubah menjadi kristal es.
Proses itu berbeda dengan salju. Salju terbentuk dari butiran es yang berasal dari awan dan kemudian jatuh ke permukaan bumi sebagai presipitasi.
Karena bentuknya sama-sama berwarna putih, banyak orang mengira embun upas adalah salju. Padahal keduanya terbentuk melalui proses yang sangat berbeda.
BMKG menjelaskan kemunculan embun upas biasanya mulai terlihat sejak Mei. Namun intensitasnya akan semakin sering terjadi pada Juni hingga September, dengan puncaknya berlangsung sekitar Agustus.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan musim kemarau yang dipengaruhi oleh Monsun Australia. Saat itu, angin dari Australia membawa udara yang lebih kering ke wilayah Indonesia.
Minimnya tutupan awan membuat sinar matahari memanaskan permukaan bumi secara maksimal pada siang hari. Namun ketika malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan tanah cepat terlepas ke atmosfer.
Akibatnya, suhu udara turun cukup drastis menjelang dini hari. Jika suhu mencapai titik beku atau bahkan lebih rendah, embun yang sudah terbentuk akan berubah menjadi kristal es.
Kondisi geografis Dieng yang berada di dataran tinggi juga ikut mendukung terbentuknya embun upas. Kelembapan udara yang cukup tinggi membuat proses pembekuan embun berlangsung lebih mudah.
Meski terlihat cantik, embun upas bisa berdampak pada sektor pertanian. Suhu yang terlalu dingin berpotensi merusak tanaman, terutama sayuran yang banyak dibudidayakan di kawasan Dieng.
Di sisi lain, fenomena ini justru menjadi magnet wisata setiap musim kemarau. Banyak wisatawan sengaja datang sejak dini hari demi menyaksikan hamparan rumput yang berubah putih diselimuti kristal es.
Momen terbaik menikmati embun upas biasanya berlangsung sesaat setelah matahari terbit. Ketika sinar matahari mulai menghangat, lapisan es perlahan mencair dan kembali menjadi embun.
BMKG pun mengingatkan wisatawan agar tetap mempersiapkan diri sebelum berkunjung ke Dieng. Jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan, dan perlengkapan hangat lainnya sangat disarankan karena suhu udara bisa turun hingga di bawah 0 derajat Celsius.
Selain menjaga tubuh tetap hangat, pengunjung juga diminta berhati-hati saat berada di area yang tertutup embun beku. Permukaan rumput maupun jalan setapak bisa menjadi lebih licin sehingga berisiko menyebabkan terpeleset.
BMKG memastikan embun upas bukanlah fenomena cuaca yang luar biasa ataupun berbahaya selama masyarakat memahami karakteristiknya. Justru, keunikan inilah yang membuat Dieng selalu memiliki pesona tersendiri setiap musim kemarau tiba. (*)

