BACAAJA SEMARANG – Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng didatangi massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (Asmak), Kamis (9/7/2026).
Mereka membawa keresahan soal listrik padam, pajak, hingga menyinggung kasus yang menyeret Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kajagung. Aksi itu dibumbui poster bernada pedas. Di antaranya bertuliskan “Ungkap TPPU Jampidsus Febri Ardiyansyah”, “Tangkap dan Penjarakan Jampidsus”.
Perwakilan massa, Tomas, bilang aksi itu dibuat untuk menyuarakan penderitaan pelaku UMKM yang terdampak blackout. Menurut dia, listrik padam bukan sekadar gangguan teknis, tapi juga memunculkan kecurigaan adanya persoalan lain di belakangnya.
Baca juga: Baru Dilantik, Langsung Dapat PR
“Kami tahu bahwa di balik blackout terjadi sebuah masalah entah korupsi dan sebagainya,” kata Tomas. Asmak juga menyorot penegakan hukum yang diminta jangan tebang pilih. Tomas mengingatkan aparat agar tak melindungi orang dekat atau rekan sendiri.
“Jangan sampai itu lek bolone dewe, temannya sendiri, rekan kerja dan sebagainya itu tidak tersentuh oleh hukum. Poinnya sama, pedang keadilan itu berlaku untuk semua tidak ada tebang pilihnya,” ujarnya.
Keluhan Diterima
Kasi Penkum Kejati Jateng mengatakan, aspirasi massa sudah diterima. Isinya meliputi kekhawatiran soal blackout yang mengganggu usaha warga, keluhan soal pajak, serta dorongan agar penanganan kasus korupsi dilakukan tegas.
“Aspirasi yang disampaikan para pendemo hari ini antara lain terkait pemadaman listrik atau blackout yang dikhawatirkan mengganggu usaha mereka, termasuk pelaku UMKM,” ujarnya.
Baca juga: Saat Pejabat Ramai-ramai Sapa Jemaat Natal di Katedral Semarang
Menurut dia, sebagian tuntutan massa memang bukan kewenangan Kejati Jateng. Karena itu, aspirasi tersebut akan diteruskan ke Kejaksaan Agung. Kebetulan, beberapa perkara yang massa sampaikan memang bukan menjadi kewenangan Kejaksaan Tinggi. Sehingga ia mengakomodir aspirasi massa aksi. “Pada dasarnya, aspirasi ini akan kami teruskan ke Kejaksaan Agung,” bebernya.
Demonstrasi memang selalu menjadi ruang menyampaikan suara publik. Namun pada akhirnya, yang paling dinanti masyarakat bukan sekadar janji bahwa aspirasi akan diteruskan, melainkan kepastian bahwa setiap laporan benar-benar ditindaklanjuti. Sebab, keadilan bukan soal siapa yang paling lantang bersuara, tetapi siapa yang berani membuktikannya dengan tindakan. (bae)

