BACAAJA, SEMARANG- Deretan seragam sekolah berwarna putih-merah, putih-biru, hingga putih-abu mulai memenuhi rak-rak toko perlengkapan sekolah di toko Grosir Sakura yang berlokasi di kawasan Pasar Johar Kota Semarang.
Memasuki masa penerimaan peserta didik dan menjelang dimulainya tahun ajaran baru, aktivitas belanja perlengkapan sekolah memang mulai meningkat. Namun, suasana tersebut belum sepenuhnya mampu mengembalikan ramainya penjualan seperti tahun sebelumnya.
Pemilik toko, Khilmana Tasyakura (24) mengatakan, permintaan seragam mulai berdatangan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD hingga SMA/SMK. Meski demikian, jumlah pembeli masih belum sebanyak tahun lalu. “Kalau dibandingkan tahun lalu, pembelinya masih lebih banyak tahun lalu. Tahun ini ada peningkatan, tetapi omzetnya masih terasa menurun,” ujarnya. Kamis (9/7/2026).
Baca juga: Pelajar Setingkat SD-SMA di Jateng akan Belajar Koperasi, Mulai Ajaran Baru Tahun Ini
Menurut Khilmana, salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga bahan baku tekstil yang membuat harga jual seragam ikut menyesuaikan. Kenaikan tersebut bervariasi, tergantung jenis bahan dan biaya produksinya. “Kenaikan harga itu menyesuaikan dari bahan. Karena harga tekstil naik, otomatis harga jual juga ikut naik,” katanya.
Di sisi lain, ia menilai persaingan dengan toko online juga memengaruhi pola belanja masyarakat. Banyak konsumen awalnya tergiur harga murah di marketplace, tetapi akhirnya memilih datang langsung ke toko setelah mempertimbangkan kualitas bahan.
“Banyak yang bilang di online lebih murah. Tapi setelah mereka pegang langsung bahannya, mereka jadi paham kalau kualitas premium memang berbeda. Akhirnya banyak yang tetap memilih beli langsung,” jelasnya.
Seragam OSIS dan Pramuka menjadi produk yang paling banyak dicari menjelang masuk sekolah. Selain itu, perlengkapan lain seperti baju adat Jawa juga mulai diminati karena sejumlah sekolah memiliki agenda mengenakan pakaian adat secara berkala.
“Yang paling ramai tetap seragam OSIS dan Pramuka. Selain itu sekarang mulai banyak yang cari baju adat Jawa, seperti lurik, surjan, sampai rok plisket karena dipakai untuk kegiatan sekolah,” tuturnya.
Takut Kehabisan
Salah seorang pembeli, Fitrotul Ainilail (36), mengaku sengaja berbelanja lebih awal agar tidak kehabisan stok maupun terburu-buru menjelang hari pertama sekolah. “Saya beli sekarang karena takut kehabisan, kalau belinya mepet masuk sekolah. Saya beli dua stel seragam, putih abu-abu dan Pramuka,” katanya.
Tak hanya seragam, ia juga menyiapkan perlengkapan sekolah lainnya yang sudah tidak layak digunakan. “Nanti juga beli sepatu karena sudah kekecilan, terus sabuk sama hasduk,” ujarnya.
Meski menyadari harga seragam mengalami kenaikan dibanding sebelumnya, Fitrotul mengaku tetap memilih berbelanja di toko tersebut karena kualitas barang dan pilihan produknya yang lengkap.
Baca juga: RUU Sisdiknas, Wajib Belajar Jadi 13 Tahun
“Kalau kenaikan harga pasti ada. Tapi di sini harganya masih pas, barangnya juga lengkap, jadi bisa sekalian pilih sesuai kebutuhan,” Katanya. Ia juga lebih percaya beli di toko langsung dari pada beli di online. Menurutnya beli ke toko langsung bisa memilih yang sesuai dan yang diinginkan.
Musim sekolah memang selalu punya cerita yang sama. Anak-anak sibuk menyiapkan semangat belajar, orang tua sibuk menghitung isi dompet. Di tengah gempuran diskon marketplace, ternyata banyak yang tetap percaya satu hal: seragam boleh sama, tapi soal kualitas, sentuhan tangan saat meraba masih lebih meyakinkan daripada sekadar melihat foto di layar ponsel. (dul)

