BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran HIV melalui edukasi dan layanan konseling yang lebih mudah diakses masyarakat.
Langkah tersebut disampaikan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi saat menanggapi pertanyaan mengenai upaya pemerintah daerah menyikapi persoalan perilaku berisiko yang dikaitkan dengan peningkatan kasus HIV.
Menurut Luthfi, pencegahan menjadi langkah utama yang akan diperkuat. Ia menilai upaya tersebut harus dimulai sejak dini dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari lingkungan pendidikan hingga sektor kesehatan. “Dinas kita perintahkan betul melakukan kegiatan-kegiatan pencegahan,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Angka HIV di Semarang Tembus 240 Kasus
Ia mengatakan, pendidikan menjadi salah satu pintu masuk untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sebelum muncul perilaku yang berisiko terhadap kesehatan. “Pencegahan itu harus dilakukan sejak dini, mungkin dari sekolah,” katanya.
Selain menggandeng Dinas Pendidikan, pemerintah juga meminta Dinas Kesehatan meningkatkan peran dalam memberikan pendampingan dan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan konsultasi. “Dinas kesehatan juga akan melakukan langkah-langkah ke depan,” ucapnya.
Aplikasi Logis
Salah satu layanan yang kini disiapkan Pemprov adalah aplikasi Logis, yang menyediakan konsultasi psikologis secara gratis dan dapat diakses masyarakat di seluruh kabupaten/kota. “Kita punya terobosan gratis yaitu Logis,” kata Luthfi.
Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat berkonsultasi secara daring mengenai berbagai persoalan psikologis maupun perilaku tanpa dipungut biaya. “Bisa konsultasi secara online di 35 kabupaten/kota,” jelasnya.
Baca juga: Ngeri, Kasus HIV di Jateng Sampe 40 Ribu
Saat ditanya mengenai kemungkinan diterbitkannya surat edaran khusus terkait isu tersebut, Luthfi menegaskan belum ada rencana untuk mengeluarkan kebijakan baru. Menurutnya, layanan yang tersedia saat ini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat. “Enggak usah, aplikasinya sudah ada,” pungkasnya.
Virus memang tidak memilih korbannya. Tapi stigma sering kali memilih siapa yang harus disalahkan. Padahal, informasi yang benar dan ruang konsultasi yang aman jauh lebih ampuh mencegah penyebaran HIV daripada sekadar menghakimi tanpa memahami. (dul)

