BACAAJA, SEMARANG – Vertigo sering bikin orang waswas buat beraktivitas seperti biasa. Soalnya, serangan pusing berputar itu bisa datang mendadak dan membuat tubuh terasa kehilangan keseimbangan dalam hitungan detik.
Banyak yang mengira vertigo adalah sebuah penyakit tersendiri. Padahal, kondisi ini sebenarnya merupakan gejala dari berbagai gangguan kesehatan yang memengaruhi sistem keseimbangan tubuh.
Karena itu, memahami penyebab vertigo jadi langkah penting supaya penanganannya tidak asal dan bisa disesuaikan dengan sumber masalah yang sebenarnya.
Dokter spesialis THT sekaligus ahli saraf keseimbangan di UCI Health, Hamid Djalilian, menjelaskan bahwa vertigo umumnya berkaitan dengan gangguan pada telinga bagian dalam.
Menurutnya, organ keseimbangan di telinga bisa mengalami stimulasi yang tidak normal sehingga memicu munculnya sensasi ruangan terasa berputar.
“Biasanya, ada stimulasi pada organ keseimbangan telinga bagian dalam yang menyebabkannya,” ujar dr. Hamid Djalilian, seperti dikutip dari Prevention.
Ia menjelaskan, sinyal yang muncul dari telinga bagian dalam kemudian dikirim ke otak dan diterjemahkan sebagai sebuah gerakan, meskipun tubuh sebenarnya sedang diam.
Otak lalu mengirim perintah kepada mata untuk menyesuaikan dengan persepsi gerakan tersebut. Saat otak menyadari tidak ada pergerakan nyata, koreksi sinyal kembali dilakukan secara berulang.
“Namun, otak menyadari bahwa gerakan itu tidak terjadi dan kemudian mengoreksi kembali gerakan mata tersebut. Ini bisa berulang beberapa kali atau berkali-kali. Gerakan mata itulah yang menciptakan sensasi gerakan bagi pasien,” jelasnya.
Salah satu penyebab vertigo yang paling sering ditemui adalah Benign Paroxysmal Positional Vertigo atau BPPV.
Dokter penyakit dalam di Medical Offices of Manhattan, Jared Braunstein, mengatakan BPPV berkaitan dengan pergeseran kristal kalsium karbonat yang berada di telinga bagian dalam.
Kristal tersebut punya fungsi penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Ketika posisinya berubah akibat gerakan kepala tertentu, sensasi vertigo bisa langsung muncul.
“BPPV terjadi ketika kristal kalsium karbonat di telinga bagian dalam, yang membantu menjaga keseimbangan, bergeser karena gerakan kepala tertentu,” kata dr. Braunstein.
Selain BPPV, ada juga kondisi vestibulopati yang bisa memicu vertigo. Gangguan ini terjadi saat sistem vestibular di salah satu telinga tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Akibatnya, otak terus menerima sinyal seolah kepala sedang bergerak, padahal tubuh berada dalam posisi normal dan tidak berpindah tempat.
Penderita vestibulopati biasanya merasakan gejala yang lebih berat ketika berdiri atau berjalan dibandingkan saat sedang duduk atau beristirahat.
Migrain juga ternyata bisa menjadi pemicu vertigo. Jenisnya dikenal sebagai migrain vestibular yang memengaruhi area telinga bagian dalam.
“Migrain vestibular adalah bentuk migrain yang memengaruhi telinga bagian dalam dan dapat menyebabkan gejala episode vertigo singkat atau panjang,” ujar dr. Djalilian.
Selain migrain, infeksi dan peradangan di telinga bagian dalam juga sering mengganggu sistem keseimbangan dan memunculkan sensasi berputar yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penanganan vertigo pun berbeda-beda, tergantung penyebab yang mendasarinya. Untuk kasus BPPV, salah satu metode yang sering dipakai adalah manuver Epley.
Teknik tersebut dilakukan dengan mengatur posisi kepala secara tertentu agar kristal di telinga bisa kembali ke tempat semula dan keseimbangan tubuh pulih.
“Dalam beberapa kasus, orang bisa belajar melakukan gerakan ini dengan aman di rumah,” kata fisioterapis Daniel Flaherty.
Sementara itu, penderita vestibulopati biasanya menjalani rehabilitasi vestibular. Tujuannya melatih otak agar tidak lagi salah menafsirkan sinyal dari sistem keseimbangan.
Bagi penderita migrain vestibular, pengobatan umumnya melibatkan kombinasi obat, suplemen, hingga perubahan pola hidup agar frekuensi serangan bisa ditekan.
“Kondisi ini terjadi lebih sering menjelang masa menopause, sehingga terkadang pasien mungkin memerlukan terapi penggantian hormon untuk membantu memperbaiki gejala mereka,” jelas dr. Djalilian.
Dokter juga mengingatkan bahwa vertigo dalam kondisi tertentu bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit Meniere, cedera kepala, atau bahkan tumor.
Karena itu, jangan menunda pemeriksaan jika vertigo disertai gangguan pendengaran, penglihatan kabur, wajah terasa menurun sebelah, atau kesulitan berbicara.
“Vertigo dapat menyebabkan jatuh, kecelakaan, dan penurunan kualitas hidup. Periksakan ke dokter jika kamu mengalami gejala yang konsisten dengan vertigo,” tegas Daniel Flaherty. (*)

