BACAAJA, SEMARANG – Memasuki usia 20-an sering dianggap sebagai masa paling seru untuk menjalin hubungan. Namun, di balik momen-momen romantis, fase ini juga dipenuhi tantangan karena banyak orang masih sibuk membangun masa depan sekaligus mencari jati diri.
Psikoterapis Maggie Martinez mengatakan komunikasi yang terbuka menjadi modal paling penting agar hubungan bisa bertahan. Menurutnya, pasangan perlu sejak awal saling jujur soal tujuan dan harapan masing-masing.
Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah perbedaan niat dalam menjalin hubungan.
Ada yang ingin mencari pasangan hidup, tetapi ada juga yang sekadar ingin menikmati hubungan tanpa komitmen. Jika tidak dibicarakan sejak awal, perbedaan itu bisa berujung pada kekecewaan.
Tantangan berikutnya datang dari arah tujuan hidup yang mulai berubah.
Di usia 20-an, ada yang fokus mengejar karier, melanjutkan kuliah, membangun usaha, atau bahkan sudah memikirkan pernikahan. Ketika prioritas tidak sejalan, hubungan sering kali ikut diuji.
Era aplikasi kencan juga membawa tantangan baru. Bertemu orang baru memang jauh lebih mudah, tetapi banyaknya pilihan kadang membuat seseorang sulit membangun hubungan yang benar-benar mendalam.
Sebagian orang terus merasa masih ada sosok yang “lebih cocok” di luar sana, sehingga enggan memberi kesempatan pada hubungan yang sedang dijalani.
Kesibukan mengejar karier juga sering menjadi sumber persoalan.
Awal dunia kerja biasanya menyita banyak waktu dan tenaga. Jika komunikasi mulai berkurang, hubungan bisa terasa makin renggang meski tidak ada masalah besar.
Tak sedikit pula yang mengalami rasa takut kehilangan kesempatan lain atau dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).
Perasaan itu membuat seseorang ragu untuk berkomitmen karena khawatir melewatkan pengalaman baru atau kesempatan bertemu orang lain.
Di sisi lain, usia 20-an juga merupakan masa ketika seseorang masih terus mengenal dirinya sendiri.
Cara berpikir, tujuan hidup, hingga nilai-nilai yang diyakini bisa berubah seiring bertambahnya pengalaman. Perubahan itu kadang membuat pasangan yang dulu terasa cocok justru mulai berjalan ke arah berbeda.
Hubungan jarak jauh juga semakin umum terjadi karena banyak orang harus pindah kota demi kuliah atau pekerjaan.
Teknologi memang mempermudah komunikasi, tetapi menjaga kedekatan emosional tetap membutuhkan usaha dari kedua belah pihak.
Media sosial pun sering memperumit keadaan.
Melihat unggahan pasangan lain yang tampak selalu bahagia bisa memunculkan ekspektasi yang tidak realistis. Padahal, yang terlihat di layar biasanya hanya momen terbaik, bukan keseluruhan cerita.
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menganggap chemistry sebagai satu-satunya penentu hubungan.
Rasa nyaman dan ketertarikan memang penting, tetapi hubungan jangka panjang juga membutuhkan kesamaan nilai, tujuan hidup, dan kemampuan menyelesaikan masalah bersama.
Pendapat teman terkadang ikut memengaruhi keputusan dalam berpacaran. Mendengar masukan memang tidak salah, tetapi terlalu bergantung pada opini orang lain justru bisa membuat seseorang mengabaikan penilaiannya sendiri.
Memasuki akhir usia 20-an, tekanan untuk segera menikah biasanya mulai berdatangan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Tekanan itu kadang membuat seseorang mempertahankan hubungan yang sebenarnya tidak sehat atau terburu-buru mengambil keputusan besar.
Menurut Martinez, semua tantangan tersebut bukan berarti hubungan di usia 20-an sulit bertahan. Kuncinya tetap sama, yakni komunikasi yang jujur, saling memahami tujuan masing-masing, dan tumbuh bersama tanpa harus kehilangan jati diri. Dengan fondasi itu, hubungan punya peluang lebih besar untuk berkembang menjadi lebih dewasa dan langgeng. (*)

