BACAAJA, KARANGANYAR– Ketua DPRD Jateng, Sumanto mengungkap alasan mengapa regenerasi petani di Jateng berjalan sangat lambat. Menurutnya, generasi muda bukan tidak mau bertani, tetapi mereka belum melihat sektor pertanian sebagai profesi yang menjanjikan secara ekonomi.
Hal itu disampaikan Sumanto saat menggelar acara Temu Tani Desa bersama ratusan petani di Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini.
Dalam dialog tersebut, sejumlah petani mengeluhkan minimnya anak muda yang tertarik menggarap sawah. Akibatnya, mayoritas petani saat ini didominasi kelompok usia di atas 50 tahun.
Menanggapi keluhan itu, Sumanto mengatakan persoalan regenerasi tidak cukup diselesaikan dengan ajakan atau slogan semata. “Anak muda itu akan mau turun ke sawah kalau hasilnya menjanjikan. Sayangnya, realita selama ini menunjukkan penghasilan petani kita masih minim, bahkan sering kali lebih rendah dibanding UMR buruh pabrik,” ujarnya.
Menurut Sumanto, ada tiga persoalan utama yang membuat profesi petani kurang diminati generasi muda. Pertama, modal bertani yang cukup besar, mulai dari pembelian benih, pupuk hingga obat-obatan.
Baca juga: Petani Tembakau Jateng Kirim Sinyal Bahaya ke Istana, Presiden Jangan Abai!
Kedua, tingginya risiko gagal panen akibat serangan hama maupun cuaca yang sulit diprediksi. Ketiga, harga hasil panen yang kerap jatuh saat musim panen raya sehingga keuntungan petani menjadi sangat tipis.
“Dulu saat panen raya tiba, harga komoditas sering anjlok sehingga hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan,” katanya.
Karena itu, Sumanto menilai pemerintah harus mengubah pola pertanian konvensional menjadi pertanian modern yang lebih efisien, didukung teknologi serta kepastian harga pasar.
Tanpa Dipaksa
Menurutnya, jika bertani mampu memberikan pendapatan lebih tinggi dibanding bekerja di kota, generasi muda akan datang dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa.
“Pertanian harus diubah menjadi sektor bisnis yang keren dan menguntungkan. Kalau hasilnya lebih besar dari kerja di kota, anak muda pasti mau kembali ke desa,” tegasnya.
Selain membahas regenerasi petani, Sumanto juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong untuk usaha sampingan yang bernilai ekonomi. Salah satu yang ia contohkan adalah budidaya kangkung.
Menurutnya, kangkung memiliki masa panen cepat dan permintaan pasar yang stabil sehingga bisa menjadi sumber pendapatan harian bagi keluarga petani.
Ia memaparkan simulasi usaha di lahan sekitar 1.000 meter persegi. Dengan pola tanam bergilir, lahan tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 ikat kangkung setiap hari.
Baca juga: Jateng Gaspol Regenerasi Petani
Dengan asumsi harga jual Rp1.000 per ikat, omzet harian bisa mencapai Rp600 ribu. Setelah dikurangi biaya operasional sekitar Rp180 ribu, laba bersih diperkirakan masih berada di kisaran Rp420 ribu per hari atau sekitar Rp12,6 juta per bulan.
“Ini bisa dikerjakan sendiri tanpa harus mempekerjakan buruh tani. Cukup dua jam setiap hari dan dilakukan secara konsisten,” jelasnya. Bagi Sumanto, contoh tersebut membuktikan sektor pertanian masih menyimpan peluang besar jika dikelola secara kreatif dan berorientasi pada kebutuhan pasar.
Anak muda sebenarnya tidak alergi lumpur sawah. Mereka hanya sedang mencari profesi yang membuat masa depan ikut tumbuh, bukan sekadar padi yang dipanen sekali musim. (tebe)

