BACAAJA, SALATIGA- Kota Salatiga bakal berubah jadi titik temu para penjaga tradisi Nusantara. Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) ke-7 dipastikan menghadirkan lebih dari 100 raja, sultan, dan pemangku adat dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Ketua Panitia Festival Adat Budaya Nusantara ke-7, Dance Ishak Palit mengungkapkan, hingga kini sudah ada sekitar 37 raja dari luar negeri dan hampir 80 raja dari berbagai kerajaan di Indonesia yang memastikan kehadiran mereka.
“Jumlahnya masih terus bertambah. Kami optimistis festival tahun ini menjadi yang terbesar dibanding penyelenggaraan sebelumnya,” ujarnya usai audiensi dengan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi di Semarang, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: Natal Bersama di Salatiga, Toleransi Bukan Cuma Slogan
Festival ini merupakan hasil kolaborasi Pemkot Salatiga bersama Masyarakat Adat Nusantara (Matra), organisasi yang menaungi 267 kerajaan dan kesultanan di Indonesia sekaligus memiliki jejaring dengan kerajaan-kerajaan dari berbagai negara.
Selama lima hari pelaksanaan, pengunjung bakal disuguhi beragam agenda budaya. Mulai dari Royal Dinner, Festival Putri Keraton yang digelar untuk pertama kalinya, hingga berbagai pertemuan budaya lintas kerajaan.
Piagam Salatiga
Namun yang paling menyita perhatian adalah penandatanganan Piagam Salatiga. Dokumen itu akan menjadi deklarasi bersama para raja, sultan, pemangku adat, dan pemerintah untuk memperkuat peran kerajaan serta keraton dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya bangsa.
“Ketahanan adat dan budaya bangsa ini ada di kerajaan-kerajaan dan keraton-keraton. Karena itu kami menyiapkan Piagam Salatiga yang akan ditandatangani seluruh kerajaan bersama unsur pemerintah,” kata Dance.
Baca juga: Salatiga Rangking Pertama Kota Tertoleran di Indonesia Versi SETARA Institute
Festival Adat Budaya Nusantara sendiri bukan agenda baru. Tahun ini menjadi penyelenggaraan ketujuh setelah sebelumnya sukses digelar di sejumlah daerah, seperti Borobudur, Bali, hingga Jambi.
Sementara itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyatakan dukungan penuh terhadap festival tersebut. Ia juga dijadwalkan hadir dalam rangkaian acara pada 25 Juli 2026 sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga dan mengangkat warisan budaya Nusantara.
Di saat banyak orang sibuk mengejar tren yang berganti setiap pekan, para raja dan penjaga adat justru datang membawa sesuatu yang tak lekang zaman: warisan budaya. Sebab kadang, yang paling modern bukan yang paling baru, melainkan yang tetap mampu bertahan di tengah derasnya perubahan. (tebe)

