BACAAJA, SEMARANG – Pesan toleransi terasa kuat di perayaan Natal 2025 di Salatiga. Kota ini lagi-lagi nunjukin kalau hidup rukun itu bisa dipraktikkan, bukan sekadar jargon acara. Datang ribuan orang, ibadah digelar sejak fajar di ruang terbuka.
Lapangan Pancasila jadi saksi kebersamaan. Orang dari berbagai daerah tumplek blek ikut misa Natal bareng. Pemandangan kayak gini rasanya makin langka, tapi di Salatiga justru jadi hal biasa.
Ansyel Wulantika Anthe, mahasiswa asal Maluku Utara, ikut merasakan hangatnya Natal di kota ini. Ini kali pertama dia merayakan Natal bareng di Salatiga. Jauh dari keluarga, tapi nggak merasa sendirian.
Dia datang bareng temannya dari NTT. Sejak pagi mereka sudah di lapangan, ikut ibadah bersama ribuan jemaat. Rindu rumah memang ada, tapi suasana kebersamaan bikin hati adem.
Menurut Ansyel, toleransi di Salatiga bukan cerita karangan. Di kampus dan lingkungan sehari-hari, perbedaan sudah jadi hal lumrah. Nggak ada drama, yang ada saling menghormati.
Cerita serupa datang dari Supardi, warga Salatiga yang sudah puluhan tahun tinggal di kota ini. Natal bersama seperti ini, kata dia, sudah lama berlangsung. Dan selalu ramai, damai, tanpa ribut identitas.
Anak-anak, orang tua, jemaat dari luar kota semua kumpul jadi satu. Nggak ada sekat, nggak ada kecurigaan. Rasanya sederhana, tapi justru itu yang bikin Salatiga beda.
Salatiga sendiri memang baru saja dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia. Pengakuan itu terasa masuk akal kalau lihat langsung warganya. Di sini, toleransi bukan proyek pencitraan.
Di tengah banyak kota sibuk pamer slogan persatuan, Salatiga memilih jalan sunyi: memberi contoh. Nggak banyak teriak, tapi konsisten menjaga hidup rukun. Kadang, yang paling dewasa memang yang paling tenang.
Perayaan ini juga dibarengi pembagian ribuan kado Natal untuk anak-anak. Ada juga doa bersama untuk saudara-saudara yang terdampak bencana. Toleransi di sini bukan cuma soal beda iman, tapi juga soal empati.
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), bilang, setiap insan harus memunculkan sikap saling menghormati antar umat beragama. Kebersamaan masyarakat Kota Salatiga jadi contoh nyata.
“Kita saling menghormati, kita saling mendukung, menjaga, dan salah satunya ada di kota Salatiga yang saat ini menjadi kota paling toleran se-Indonesia,” katanya. (bae/*)

