BACAAJA, SEMARANG– Tradisi dan budaya kembali mewarnai Kota Semarang menjelang datangnya Bulan Suro dan Muharram. Melalui kegiatan Ruwatan Nagari bertajuk “Kolocokro Underaning Jowo” yang digelar di Ponpes Soko Tunggal, Semarang, masyarakat diajak melestarikan warisan budaya sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.
Kegiatan yang diselenggarakan atas prakarsa Gus Nuril selaku pembina tersebut dihadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, anggota DPRD, Asisten II Sekretariat Daerah Kota Semarang, jajaran Forkopimcam Tembalang, serta para tokoh masyarakat.
Baca juga: Semarang Bicara Toleransi: Agustina dan Sinta Nuriyah Kirim Pesan Harmoni
Rangkaian acara diisi dengan doa bersama dan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan seorang dalang perempuan, memberikan warna tersendiri dalam peringatan menyambut Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Ruwatan Nagari menjadi bukti bahwa Kota Semarang merupakan ruang yang terbuka bagi keberagaman budaya maupun agama.
“Kegiatan ini sangat bagus sebagai bukti bahwa Kota Semarang adalah kota yang terbuka terhadap berbagai aspek agama dan budaya,” ujar Agustina, Rabu, (24/6/2026) malam.
Perkuat Toleransi
Dirinya berharap tradisi seperti ini terus dijaga karena tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya lokal, tetapi juga memperkuat nilai toleransi, gotong royong, dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
Pagelaran wayang kulit yang menjadi bagian dari acara juga mendapat perhatian pengunjung. Kehadiran dalang perempuan menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya.
Baca juga: Semarang Masuk Tiga Besar Kota Paling Toleran
Melalui kegiatan Ruwatan Nagari, masyarakat diajak menyambut Bulan Suro dan Muharram dengan semangat introspeksi, doa, serta menjaga harmoni sosial yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Kota Semarang.
Di tengah zaman yang serba digital, ternyata suara gamelan masih mampu menyatukan banyak orang. Sebab budaya tak pernah kehilangan tempatnya, selama masih ada yang mau merawat, bukan sekadar mengingatnya. (tebe)

