BACAAJA, SEMARANG – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir ternyata bukan cuma bikin warga kesal. Di kalangan peternak ayam, kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran serius karena berpotensi menyebabkan kerugian hingga jutaan rupiah.
Bagi peternak ayam pedaging (broiler), listrik bukan sekadar kebutuhan penerangan kandang. Pada masa awal pemeliharaan atau brooding, saat anak ayam berusia 1 hingga 14 hari, pasokan listrik menjadi faktor krusial untuk menjaga suhu kandang tetap hangat.
Ketika listrik padam, terutama pada malam hari, ribuan anak ayam bisa mengalami stres akibat suhu yang turun drastis. Dalam kondisi gelap dan dingin, anak-anak ayam biasanya akan bergerombol mencari sumber kehangatan. Situasi inilah yang kerap berujung pada kematian karena saling berhimpitan.
Bacaaja: Dolar Melesat Rupiah Ambruk, Pelanggan Warteg Mulai Tinggalkan Lauk Ayam
Bacaaja: Peternak Unggas Curhat ke Luthfi, MBG Diminta Jadi Penyelamat
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah, Susilo, mengatakan risiko tersebut menjadi momok tersendiri bagi peternak, khususnya yang masih mengandalkan listrik tanpa cadangan genset.
“Kalau listrik mati saat masa brooding, anak ayam akan berkumpul di satu titik karena gelap dan dingin. Akibatnya banyak yang mati karena bertumpuk. Itu yang kami sebut deplesi,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Susilo, peternak skala besar umumnya sudah memiliki genset sebagai sumber listrik cadangan sehingga dampaknya bisa diminimalkan. Namun kondisi berbeda dialami peternak kecil yang belum tentu memiliki kemampuan untuk menyediakan peralatan tersebut.
“Kalau peternak besar rata-rata sudah punya genset. Yang jadi masalah peternak kecil karena mereka belum tentu punya cadangan listrik,” katanya.
Ia menjelaskan, tingkat kematian anak ayam akibat pemadaman listrik bisa sangat tinggi apabila berlangsung cukup lama dan tidak ada sumber listrik pengganti. Dalam kondisi terburuk, angka deplesi bahkan bisa mencapai setengah dari total populasi kandang.
“Kalau tidak punya genset dan pemadaman terjadi cukup lama, terutama malam hari, kematiannya bisa sampai 50 persen,” jelasnya.
Kerugian yang ditimbulkan tentu tidak sedikit. Dengan harga DOC (day old chick) atau anak ayam umur sehari yang saat ini berkisar Rp6.000 per ekor, kematian seribu ekor ayam saja sudah membuat peternak kehilangan sekitar Rp6 juta.
Padahal, kapasitas kandang peternak umumnya berkisar antara 5.000 hingga 10.000 ekor ayam. Bahkan untuk kandang modern, jumlahnya bisa jauh lebih besar.
“Kalau yang mati seribu ekor saja sudah Rp6 juta. Padahal kapasitas kandang bisa ribuan sampai puluhan ribu ekor,” ungkapnya.
Meski belum ada laporan resmi terkait jumlah kerugian yang dialami peternak di Jawa Tengah akibat pemadaman listrik, Susilo mengaku sudah menerima sejumlah keluhan dari peternak yang mulai khawatir jika kondisi ini terus berlanjut.
Bagi para peternak, pemulihan pasokan listrik menjadi hal yang sangat dinantikan. Sebab dalam masa pemeliharaan anak ayam, pemadaman selama beberapa jam saja bisa berdampak besar terhadap tingkat kematian ternak dan berujung pada kerugian yang tidak sedikit.
Karena itu, mereka berharap kondisi kelistrikan segera kembali stabil agar aktivitas peternakan bisa berjalan normal tanpa dibayangi risiko kehilangan ribuan ekor ayam dalam semalam.
Ada gangguan teknis
Di sisi lain, PLN memastikan pemadaman yang terjadi merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem kelistrikan. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya gangguan teknis pada sejumlah pembangkit yang menyebabkan pasokan listrik berkurang.
Manager Komunikasi PLN UID Jawa Tengah, Prayudha Fasya Perdana, mengatakan pihaknya saat ini tengah mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem sekaligus mempercepat proses pemulihan.
“PLN saat ini tengah mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan menyusul adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik,” ujarnya.
Menurutnya, manajemen beban yang dilakukan bersifat sementara untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik di wilayah Jawa Tengah.
PLN juga terus mengoptimalkan suplai dari pembangkit lain sembari mempercepat proses perbaikan agar kondisi sistem kembali normal. (dul)

