BACAAJA, SEMARANG – Gelombang kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus bergulir. Kali ini datang dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang yang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Jawa Tengah, Rabu (17/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti pelaksanaan program MBG yang dinilai masih menyisakan banyak persoalan. Mulai dari pengelolaan anggaran hingga manfaat program yang dianggap belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Koordinator aksi, Ahmad Alfani Hasan, mengatakan evaluasi bahkan penghentian program MBG menjadi salah satu tuntutan utama yang dibawa massa dalam demonstrasi tersebut.
Bacaaja: Sidang MK Memanas, MBG Disebut Geser Prioritas Pendidikan
Bacaaja: Demo Bubar tapi Gerakan Belum Kelar, Mahasiswa Semarang Siapkan Konsolidasi Lanjutan
“Program MBG menjadi salah satu fokus kami. Kami melihat masih banyak persoalan yang perlu dievaluasi, baik dari sisi pelaksanaan maupun manfaat yang diterima masyarakat,” ujar Ahmad Alfani di sela aksi.
Lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai kampus di Semarang ikut turun ke jalan dalam aksi tersebut. Mereka berasal dari sejumlah komisariat PMII, mulai dari UIN Walisongo, Universitas PGRI Semarang, Universitas Negeri Semarang, hingga beberapa perguruan tinggi lainnya.
Sepanjang aksi berlangsung, mahasiswa bergantian menyampaikan orasi dan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab persoalan masyarakat.
Nggak cuma soal MBG, massa juga menyoroti penggunaan anggaran negara yang menurut mereka perlu lebih difokuskan pada program-program yang dampaknya bisa langsung dirasakan rakyat.
Menurut Ahmad, keresahan mahasiswa muncul karena masih banyak persoalan sosial dan ekonomi yang dianggap belum mendapatkan perhatian serius.
Karena itu, demonstrasi yang dilakukan saat ini disebut bukan aksi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian gerakan yang kemungkinan masih akan berlanjut.
“Demonstrasi tidak cukup dilakukan sekali. Ini adalah bentuk tindak lanjut dari kegelisahan mahasiswa terhadap kondisi yang terjadi saat ini,” katanya.
PMII bahkan ngasih sinyal bahwa gelombang aksi berikutnya bisa kembali digelar dalam waktu dekat apabila tuntutan mereka belum mendapat respons dari pemerintah maupun DPRD Jawa Tengah.
Bagi mereka, turun ke jalan bukan sekadar agenda rutin mahasiswa. Aksi tersebut dianggap sebagai cara untuk memastikan suara dan keresahan masyarakat tetap terdengar di tengah berbagai kebijakan yang sedang berjalan.
Artinya, meski aksi hari ini telah selesai, tekanan dari kalangan mahasiswa terhadap program-program pemerintah, khususnya MBG, tampaknya masih belum akan berhenti dalam waktu dekat. (dul)

