BACAAJA, SEMARANG – Pernah merasa ukuran tempe yang dibeli sekarang sedikit lebih kecil dari biasanya? Kalau iya, ternyata kamu nggak sendirian.
Di tengah harga kedelai yang terus naik, para pengrajin tempe kini harus putar otak agar usaha tetap jalan tanpa membuat pelanggan kabur. Menaikkan harga bukan pilihan yang mudah, karena daya beli masyarakat juga sedang tidak baik-baik saja.
Alhasil, banyak produsen memilih strategi lain: harga tetap, tapi ukuran produk disesuaikan.
Bacaaja: Rupiah Makin Lesu, Perajin Tempe Semarang Ketar-ketir: Bahan Baku Kedelai Masih Impor
Bacaaja: Rupiah Melemah UMKM Menjerit, Pengamat Ekonomi Undip Singgung Tahu dan Tempe
Hal itu diakui Arif, pengusaha tempe di Semarang yang sudah menekuni usaha tersebut selama sekitar 10 tahun terakhir. Menurutnya, hingga kini harga tempe masih dipertahankan agar tetap ramah di kantong pelanggan.
“Harganya masih sama. Kalau tempe itu nggak bisa langsung naik begitu saja,” ujar Arif, Rabu (10/6/2026).
Namun di balik harga yang terlihat stabil, ada penyesuaian yang dilakukan para produsen. Ketika harga kedelai melonjak, ukuran atau berat tempe terpaksa dikurangi agar biaya produksi tetap tertutupi.
“Kalau harga kedelai naik, timbangannya yang menyesuaikan. Jadi ukurannya sedikit berkurang dibanding sebelumnya,” jelasnya.
Bagi pengrajin tempe, langkah ini menjadi jalan tengah yang dianggap paling aman. Sebab jika harga langsung dinaikkan, ada risiko pelanggan beralih ke produk lain. Sementara jika tidak ada penyesuaian sama sekali, keuntungan usaha bisa semakin menipis.
Meski begitu, Arif memastikan pengurangan ukuran dilakukan secara wajar dan tetap mempertahankan kualitas produk yang selama ini menjadi kepercayaan pelanggan.
Menariknya, sebagian besar pelanggan justru cukup memahami kondisi tersebut. Mereka menyadari bahwa kenaikan harga kedelai dan berbagai bahan baku lain memang sedang terjadi di banyak sektor.
“Mereka tahu kondisi sekarang seperti apa, jadi kebanyakan mengerti,” katanya.
Situasi ini membuat para pelaku usaha kecil harus semakin kreatif dalam menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, dan keuntungan. Sebab bagi usaha makanan seperti tempe, menjaga pelanggan jauh lebih penting daripada mengambil keuntungan besar dalam waktu singkat.
Di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, loyalitas pelanggan menjadi modal utama bagi para pengrajin untuk tetap bertahan. Karena itulah, banyak produsen memilih memangkas ukuran terlebih dahulu daripada harus menaikkan harga secara drastis.
Jadi kalau belakangan merasa tempe favoritmu sedikit lebih ramping dari biasanya, bisa jadi itu bukan perasaanmu saja. Ada strategi bertahan hidup para pengrajin di balik setiap potong tempe yang sampai ke meja makan. (dul)

