BACAAJA, SEMARANG – Rencana pengembangan bus listrik untuk layanan Trans Jateng mendapat dukungan dari Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan transportasi publik yang lebih modern, nyaman, dan ramah lingkungan.
Saleh menilai penggunaan bus listrik bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi upaya nyata untuk mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas layanan transportasi massal di Jawa Tengah.
“Pengembangan bus listrik merupakan langkah yang baik untuk mendukung transportasi massal yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik,” ujar Saleh di Semarang, kemarin.
Bacaaja: Kursi SMA Negeri Cuma 40 Persen, Mohammad Saleh: Jangan Ada “Jalur Belakang”
Bacaaja: Jutaan Sampah di Jateng Bisa Diolah, M Saleh: Kalau Serius Bisa Jadi Sumber Listrik
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri telah menyiapkan 14 unit bus listrik untuk mendukung pembukaan koridor baru Trans Jateng yang akan melayani rute Temanggung–Kota Magelang–Kabupaten Magelang. Koridor tersebut direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2027 mendatang.
Tak hanya untuk koridor baru, sebanyak 14 unit bus listrik lainnya juga disiapkan untuk program peremajaan armada Trans Jateng di koridor Bawen–Semarang yang selama ini menjadi salah satu jalur dengan mobilitas tinggi.
Menurut Saleh, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengembangkan sistem transportasi berkelanjutan yang lebih bersih dan efisien.

Meski begitu, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu mengingatkan bahwa kehadiran bus listrik harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur pendukung. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai titik strategis.
“Kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting. Jangan sampai armadanya sudah tersedia, tetapi fasilitas pendukungnya belum memadai,” tegasnya.
Selain infrastruktur, Saleh juga mendorong adanya kajian yang matang terkait sistem operasional dan skema pengadaan bus listrik agar implementasinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Saat ini, rencana pengembangan armada bus listrik Trans Jateng masih dalam tahap kajian untuk menentukan model penerapan yang paling efektif dan berkelanjutan.
Menurut Saleh, modernisasi transportasi publik seperti ini juga bisa menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
“Kalau transportasi publik semakin nyaman, modern, dan mudah diakses, tentu masyarakat akan lebih tertarik menggunakan angkutan umum,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai pengembangan transportasi berbasis listrik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan mobilitas masyarakat.
“Harapannya, transportasi publik di Jawa Tengah semakin maju, nyaman, dan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (*)

