BACAAJA, SEMARANG – Ketika sendi mulai terasa nyeri, banyak orang langsung menyimpulkan penyebabnya adalah asam urat. Sebagian lainnya menyebut rematik. Padahal, dua penyakit ini tidak sama meski sama-sama menyerang persendian dan menimbulkan rasa sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kesalahan mengenali gejala sering membuat seseorang terlambat mendapatkan penanganan yang sesuai. Akibatnya, keluhan yang awalnya ringan bisa berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Dokter menjelaskan bahwa asam urat dan rematik memiliki penyebab yang berbeda. Karena itu, cara pengobatannya pun tidak bisa disamakan.
Asam urat atau gout terjadi akibat tingginya kadar asam urat dalam darah. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya kristal-kristal kecil yang kemudian menumpuk di area persendian.
Kristal tersebut memicu peradangan sehingga muncul rasa nyeri yang sering kali datang secara mendadak.
Banyak penderita menggambarkan nyeri asam urat seperti ditusuk atau berdenyut sangat kuat, bahkan hanya tersentuh selimut saja terasa menyakitkan.
Salah satu lokasi yang paling sering diserang adalah sendi jempol kaki. Namun bukan berarti sendi lain tidak bisa terkena.
Pergelangan kaki, lutut, hingga jari tangan juga dapat mengalami serangan asam urat apabila kadar asam urat terus tinggi dalam jangka panjang.
Gejala khas asam urat biasanya muncul tiba-tiba, terutama pada malam atau dini hari.
Sendi yang terserang umumnya tampak bengkak, kemerahan, dan terasa hangat saat disentuh.
Serangan bisa berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum akhirnya mereda.
Namun jika penyebabnya tidak dikendalikan, serangan dapat muncul kembali dengan frekuensi yang lebih sering.
Pada kondisi yang sudah berlangsung lama, penumpukan kristal asam urat dapat membentuk benjolan keras yang dikenal sebagai tofi.
Sebaliknya, rematik memiliki mekanisme yang berbeda sama sekali.
Rematik atau rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat di dalam tubuh.
Target utama serangan tersebut adalah lapisan sendi yang disebut sinovium.
Akibatnya, peradangan berlangsung terus-menerus dan dapat merusak struktur sendi secara perlahan.
Berbeda dengan asam urat yang sering menyerang satu sendi, rematik biasanya menyerang beberapa sendi sekaligus.
Pola serangannya juga cenderung simetris. Jika pergelangan tangan kanan terasa sakit, maka pergelangan tangan kiri sering mengalami keluhan yang sama.
Salah satu tanda yang cukup khas pada rematik adalah kekakuan sendi di pagi hari.
Banyak penderita merasa sulit menggerakkan tangan atau kaki setelah bangun tidur dan kondisi tersebut dapat berlangsung lebih dari 30 menit.
Keluhan ini berbeda dengan pegal biasa yang biasanya cepat membaik setelah tubuh bergerak.
Selain nyeri dan pembengkakan sendi, penderita rematik juga dapat mengalami kelelahan berkepanjangan.
Sebagian pasien bahkan merasakan demam ringan, penurunan berat badan, hingga gangguan pada organ lain.
Pada kasus tertentu, peradangan dapat memengaruhi mata, paru-paru, maupun jantung.
Jika tidak ditangani dengan baik, rematik juga berisiko menyebabkan perubahan bentuk sendi secara permanen.
Perbedaan lain terlihat dari pola munculnya nyeri.
Asam urat biasanya datang dalam bentuk serangan yang muncul tiba-tiba lalu menghilang setelah beberapa waktu.
Sementara rematik cenderung berlangsung kronis dan terus berulang karena dipicu gangguan sistem imun.
Faktor risiko kedua penyakit ini pun tidak sama.
Asam urat lebih sering berkaitan dengan konsumsi makanan tinggi purin, obesitas, konsumsi alkohol, serta gangguan metabolisme tertentu.
Sedangkan rematik lebih sering dikaitkan dengan faktor genetik, usia, kebiasaan merokok, dan kondisi autoimun lainnya.
Karena gejalanya sering dianggap mirip, banyak orang melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan informasi yang beredar.
Padahal pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab nyeri sendi yang dialami.
Pemeriksaan laboratorium, evaluasi gejala, hingga pemeriksaan penunjang lainnya dapat membantu dokter menentukan diagnosis secara tepat.
Penanganan asam urat berfokus pada pengendalian kadar asam urat dalam tubuh agar pembentukan kristal dapat dicegah.
Sementara pengobatan rematik lebih diarahkan untuk mengendalikan respons sistem kekebalan tubuh dan mencegah kerusakan sendi yang berlanjut.
Karena itu, saat nyeri sendi mulai sering muncul, jangan terburu-buru menyebutnya asam urat atau rematik. Mengenali perbedaan keduanya sejak dini menjadi langkah penting agar pengobatan yang dijalani tepat sasaran dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.(*)

