BACAAJA, TEMANGGUNG – Rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan mulai bikin petani tembakau di Temanggung deg-degan. Pasalnya, dalam aturan yang masih dibahas itu muncul usulan pembatasan kadar nikotin yang dikhawatirkan bisa berdampak besar ke nasib tembakau lokal.
Kekhawatiran itu disampaikan langsung Bupati Temanggung, Agus Setyawan, saat menghadiri Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 di Pendopo Pengayoman Temanggung, Rabu (3/6/2026).
Di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan sejumlah kepala daerah lainnya, Agus meminta dukungan Pemprov Jateng untuk ikut mengawal aspirasi para petani tembakau.
Bacaaja: Wiwitan di Lereng Sumbing: saat Doa dan Benih Tembakau Bertemu di Awal Musim Tanam
Bacaaja: Nyadran Ageng Bhumi Phala, Eskpresi Syukur dan Cinta Kasih Petani Temanggung kepada Alam
Menurut Agus, tembakau khas Temanggung memang punya karakter nikotin alami yang cukup tinggi. Bahkan, beberapa jenis tembakau bisa memiliki kadar nikotin jauh di atas batas yang sedang diwacanakan dalam revisi aturan tersebut.
“Temanggung memiliki tembakau dengan kadar nikotin alami sekitar 3 sampai 8 persen. Bahkan ada jenis tertentu yang bisa mencapai 20 hingga 31 persen,” jelas politikus PDIP itu.
Kalau aturan itu diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi tembakau lokal, Agus khawatir hasil panen petani bakal sulit terserap pasar.
“Kalau tidak dipertimbangkan dengan baik, nanti bisa muncul persoalan besar terkait pemasaran hasil panen petani,” katanya.
Bagi masyarakat Temanggung, tembakau bukan sekadar tanaman musiman. Komoditas ini sudah menjadi penopang ekonomi utama warga, terutama di wilayah pegunungan yang kerap kesulitan air saat musim kemarau panjang.
Di tengah cuaca yang makin tidak menentu, tembakau justru menjadi salah satu tanaman yang masih bisa bertahan dan menghasilkan pendapatan bagi petani.
Karena itu, Agus berharap pemerintah tidak hanya melihat aturan dari sisi kesehatan semata, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.
“Kami berharap kebijakan yang disusun tetap memperhatikan keberlanjutan ekonomi petani yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor tembakau,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa beberapa perwakilan petani tembakau dari Temanggung bahkan sudah diundang ke Jakarta untuk ikut menyampaikan kondisi nyata di lapangan kepada kementerian terkait.
Selain membahas isu tembakau, Agus juga mengapresiasi pelaksanaan Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 yang digelar di Temanggung. Menurutnya, forum tersebut penting untuk menyelaraskan program pembangunan antara pemerintah provinsi dan daerah agar pembangunan lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi masyarakat. (*)

