BACAAJA, SEMARANG – Program pengobatan gratis ‘Dapur Marhaen’ di Panti Marhaen, kantor DPD PDIP Jateng, kembali digelar Rabu (10/6/2026). Sejak pagi, warga sudah berdatangan buat memeriksakan kesehatan tanpa perlu keluar biaya sepeser pun.
Di ruang pemeriksaan, warga antre bergantian buat cek tensi, konsultasi dengan tenaga medis, sampai menerima obat sesuai keluhan.
Mayoritas yang datang merupakan lansia dan pekerja sektor informal yang mengaku jarang memeriksakan kesehatan karena terkendala biaya.
Bacaaja: Resmi! Pertamax Ikut Melambung Tinggi, Jadi Rp16.250 dari Sebelumnya Rp12.300
Bacaaja: Bagi Rakyat Kecil, Dapur Marhaen Bukan Cuma Soal Makan Gratis: Kami Merasa Diperhatikan
Salah satunya Winarto. Pria yang sehari-hari mencari cacing dan jangkrik untuk pakan ikan dan burung itu mengaku sudah dua kali memanfaatkan layanan tersebut.
“Menurut saya bagus. Cuma ini loh ya, obatnya cuma obat yang standar-standar saja. Nek maksudnya yang khusus itu kan belum ada,” katanya.
Meski begitu, ia mengaku program ini tetap sangat membantu. Apalagi untuk keluhan ringan yang sering dirasakan di usia yang tak lagi muda.
“Lumayan membantu. Keluhan saya banyak, saya sudah tua,” ujarnya sambil tersenyum.
Warga lainnya, Aminah, juga berharap layanan kesehatan gratis ini terus berlanjut. Menurutnya, program seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat.
“Kalau ada waktu ya bisa dilanjutkan. Bagus,” katanya.
Aminah mengaku datang untuk memeriksakan penyakit gula dan alergi yang dideritanya. Setelah berkonsultasi, ia juga mendapat obat tanpa dipungut biaya.
“Tadi diperiksa, terus dikasih obat. Gratis,” tuturnya.
Sebelumnya, Ketua DPD PDIP Jateng, Dolfie Othniel Frederic Palit, menjelaskan pengobatan gratis dan Dapur Marhaen akan digelar rutin setiap tanggal 10.
Program itu menjadi upaya mendekatkan kantor partai dengan masyarakat sekaligus menjadikan kantor PDIP sebagai rumah aspirasi warga.
Menurutnya, tidak ada syarat khusus untuk mengikuti layanan tersebut. Warga cukup membawa identitas diri agar memudahkan pendataan, termasuk jika nantinya membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Dengan konsep rutin setiap bulan, program ini diharapkan bisa menjadi alternatif layanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama kalangan pekerja informal, lansia, dan warga kurang mampu. (bae)

