Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Saat Hutan Jadi Tempat Pulang, Cara Jepang Redakan Penat
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tips

Saat Hutan Jadi Tempat Pulang, Cara Jepang Redakan Penat

Konsep ini dikenal dengan nama shinrin-yoku atau terapi hutan. Aktivitas tersebut bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan sebuah pengalaman menikmati alam secara penuh dengan melibatkan seluruh indera. Mulai dari mendengar suara burung, mencium aroma tanah dan pepohonan, hingga merasakan semilir angin yang bergerak di sela-sela daun, semuanya menjadi bagian dari proses menenangkan diri.

Nugroho P.
Last updated: Juni 6, 2026 8:07 pm
By Nugroho P.
7 Min Read
Share
ilustrasi lari di hutan,
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Di tengah kehidupan yang makin sibuk dan penuh notifikasi, banyak orang mulai mencari cara sederhana untuk mengembalikan ketenangan pikiran. Menariknya, solusi itu tidak selalu datang dari ruang terapi, pusat kebugaran, atau tempat wisata mewah. Bagi masyarakat Jepang, berjalan santai di tengah hutan justru menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengusir lelah sekaligus mengisi ulang energi yang terkuras oleh rutinitas harian.

Konsep ini dikenal dengan nama shinrin-yoku atau terapi hutan. Aktivitas tersebut bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan sebuah pengalaman menikmati alam secara penuh dengan melibatkan seluruh indera. Mulai dari mendengar suara burung, mencium aroma tanah dan pepohonan, hingga merasakan semilir angin yang bergerak di sela-sela daun, semuanya menjadi bagian dari proses menenangkan diri.

Popularitas terapi hutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya diminati wisatawan, sejumlah tenaga kesehatan di Jepang bahkan ikut mengenalkannya sebagai bagian dari upaya menjaga kebugaran fisik sekaligus kesehatan mental. Di tengah tingginya tekanan hidup modern, metode ini dianggap sebagai cara alami yang mudah dilakukan siapa saja.

Berbeda dengan aktivitas wisata yang menuntut banyak agenda, terapi hutan justru mengajak seseorang untuk memperlambat langkah. Tidak ada target jarak tempuh, tidak ada perlombaan mencapai tujuan tertentu. Yang terpenting adalah menikmati setiap momen selama berada di lingkungan alam yang masih asri dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Bagi pemula, terapi hutan sebenarnya sangat sederhana. Seseorang cukup berjalan santai di jalur hutan, duduk di bawah pepohonan, atau sekadar memperhatikan suara alam di sekelilingnya. Kegiatan yang terlihat sederhana ini ternyata mampu memberikan efek relaksasi yang cukup besar bagi tubuh maupun pikiran.

Saat berada di tengah hutan, perhatian yang biasanya tersita oleh pekerjaan, media sosial, dan berbagai tuntutan kehidupan perlahan mulai berkurang. Suara kendaraan digantikan kicauan burung, sementara pemandangan gedung beton berubah menjadi hamparan hijau yang menyejukkan mata. Perubahan suasana tersebut membuat otak memperoleh kesempatan untuk beristirahat.

Jepang sendiri telah mengembangkan terapi hutan menjadi sebuah aktivitas wisata yang terorganisir. Wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman lebih mendalam dapat mengikuti sesi khusus bersama pemandu profesional yang telah mendapat pelatihan. Dalam program tersebut, peserta diajak menikmati alam dengan pendekatan yang lebih terarah dan meditatif.

Sesi terapi biasanya berlangsung antara dua hingga tiga jam. Selama kegiatan berlangsung, pemandu akan membantu peserta untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Mereka diajak memperhatikan detail kecil yang sering terlewatkan, seperti tekstur batang pohon, aroma dedaunan basah, hingga perubahan cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan.

Meski kini menjadi bagian dari wisata kesehatan yang populer, terapi hutan sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Praktik ini mulai dikenal luas di Jepang sejak era 1980-an, ketika masyarakat menghadapi tekanan besar akibat perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup yang berlangsung sangat cepat.

Pada masa itu, banyak orang mulai mengalami kelelahan mental, stres berkepanjangan, serta berbagai gangguan yang memengaruhi kualitas hidup sehari-hari. Situasi tersebut mendorong para ahli kesehatan untuk mencari pendekatan yang lebih alami dalam membantu masyarakat mengelola tekanan psikologis.

Dari situlah muncul gagasan untuk kembali mendekatkan manusia dengan alam. Hutan yang selama ini hanya dianggap sebagai tempat rekreasi mulai dilihat sebagai ruang pemulihan yang memiliki manfaat kesehatan. Konsep tersebut kemudian berkembang dan mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan akademisi maupun praktisi kesehatan.

Salah satu tokoh yang banyak memperkenalkan manfaat terapi hutan adalah dokter sekaligus peneliti Jepang, Qing Li. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan, ia menjelaskan bahwa kondisi mental yang tidak stabil dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari suasana hati hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.

Menurut berbagai temuan yang dipublikasikan dalam riset terkait terapi hutan, menghabiskan waktu beberapa jam di lingkungan alami dapat membantu tubuh menurunkan tingkat stres. Efek ini terjadi karena suasana alam memberikan kesempatan bagi sistem saraf untuk beristirahat dari tekanan yang terus-menerus muncul dalam kehidupan modern.

Tidak sedikit orang yang mengaku merasakan perubahan suasana hati setelah menjalani terapi hutan. Rasa cemas yang sebelumnya mendominasi perlahan berkurang, sementara pikiran menjadi lebih jernih. Meski bukan pengganti pengobatan medis, pengalaman tersebut dinilai mampu menjadi pendukung yang positif bagi kesehatan mental.

Terapi hutan juga sering dibandingkan dengan praktik meditasi zen yang telah lama menjadi bagian dari budaya Jepang. Keduanya sama-sama mengajarkan seseorang untuk hadir sepenuhnya pada momen yang sedang dijalani tanpa terburu-buru memikirkan masa lalu ataupun masa depan.

Jika meditasi zen dilakukan dengan duduk tenang dan memusatkan perhatian pada diri sendiri, terapi hutan menawarkan pendekatan yang lebih dinamis. Seseorang dapat berjalan perlahan sembari menyerap berbagai pengalaman sensorik yang hadir dari lingkungan sekitar.

Penelitian yang dilakukan di Jepang menunjukkan adanya berbagai manfaat yang berkaitan dengan terapi hutan. Selain membantu mengurangi tingkat stres, aktivitas ini juga dikaitkan dengan peningkatan kualitas tidur, perbaikan suasana hati, serta kemampuan konsentrasi yang lebih baik.

Manfaat tersebut membuat terapi hutan semakin diminati oleh masyarakat perkotaan yang sehari-hari harus berhadapan dengan tekanan pekerjaan dan lingkungan yang serba cepat. Banyak orang melihat aktivitas ini sebagai cara sederhana untuk melakukan “reset” sebelum kembali menjalani rutinitas.

Kini sejumlah kawasan alam di Jepang menawarkan pengalaman terapi hutan yang bisa diikuti wisatawan dari berbagai negara. Program tersebut dirancang agar peserta tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam.

Beberapa lokasi yang cukup terkenal untuk menikmati terapi hutan antara lain kawasan Pegunungan Alpen Jepang, area kuil yang berada di Semenanjung Kii, hingga jalur hijau di sekitar Taman Nasional Yoshino-Kumano. Setiap lokasi menawarkan suasana yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan ketenangan melalui alam.

Di akhir sesi, peserta biasanya diajak menikmati secangkir teh hangat sebagai penutup perjalanan. Momen sederhana itu menjadi simbol bahwa terkadang ketenangan tidak perlu dicari terlalu jauh. Cukup melangkah ke tengah hutan, memperlambat ritme hidup sejenak, lalu membiarkan alam melakukan pekerjaannya dengan cara yang paling alami. (*)

You Might Also Like

Lima Daun Herbal Ampuh Redakan Ambeien Secara Alami

Nikah Saat Hamil Zina, Benarkah Hukumnya Bisa Fleksibel?

Awas Hati-hati, Daging Kurban Kelihatan Segar Belum Tentu Aman Dimakan Besok

Tujuh Kebiasaan Receh Tapi Manjur Bikin Awet Muda

Nyeri Sehabis Makan Santan? Bisa Jadi Empedu Lagi Kasih Kode

TAGGED:olahragastress
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article DATA CENTER - Ilustrasi pusat data atau data center untuk akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Warga Amerika Ramai-ramai Tolak Pembangun Data Center AI, Ada Apa?
Next Article Ijazah Belum Diambil, Thomas Jadi Korban Pengeroyokan hingga Tewas

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

DIVONIS BERSALAH--Gus Yazid didampingi penasihat hukumnya meninggalkan ruang sidang usai divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (9/9/2026). (bae)

Bantu Letjen Widi Samarkan Duit Korupsi BUMD Cilacap, Gus Yazid Dibui

CEK KESIAPAN MTQ - Dirjen Kemenag, Abu Rokhmad, Setelah menghadiri rapat checking terakhir kesiapan Provinsi Jawa Tengah sebagai Tuan Rumah MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (9/9/2026). (dul)

2.242 Peserta Siap Ramaikan MTQ Nasional di Semarang

JENGUK KORBAN: Menteri HAM RI, Natalius Pigai didampingi KaKanwil Kemenham Jateng, Mustafa Beleng saat meninjau korban dugaan keracunan program MBG di RSUD Dr R Soedjati Soemodiardjo, Grobogan, Selasa (13/1/2026). (ist)

Keracunan MBG Terbesar di Pati? 231 Siswa Tumbang, Operasional SPPG Gembong 1 Dihentikan Sementara

Panggung utama event MTQ Nasional di Lapangan Pancasila, Simpang Lima Semarang. (ist)

12 Venue MTQ Nasional Dilengkapi Posko Kesehatan, 306 Tim Medis Siaga

DIVONIS BERSALAH--Gus Yazid (kemeja hijau) duduk mendengarkan vonis putusan kasus TPPU, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (9/9/2026). (bae)

Gus Yazid Hanya Divonis 1 Tahun dalam Kasus TPPU Lahan Cilacap

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tips

Lagi Ngetren Makanan Kukus, Sehat Beneran atau Cuma FOMO?

Januari 12, 2026
Tips

Deadline Mengejar, Lambung Ikut Kena Imbas

Agustus 14, 2026
Tips

Lagi Puasa Napas Bau, Ini Solusinya!

Februari 24, 2026
Tips

Awas, Leher Wangi Tiap Hari, Dokter Bongkar Mitos Tiroid Kanker

Juni 2, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Saat Hutan Jadi Tempat Pulang, Cara Jepang Redakan Penat
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?