BACAAJA, SEMARANG – Kritik soal birokrasi ribet, hukum yang tajam ke bawah, sampai sulitnya ekonomi rakyat kecil dikemas dengan cara nyeleneh lewat pertunjukan teater Latar “Lawak Teater” bertajuk Keraton Siluman di Universitas PGRI Semarang.
Pementasan yang digelar Sabtu (23/5/2026) malam itu mengangkat kisah satir tentang Negeri Wacanda, negeri fiktif yang penuh intrik kekuasaan dan realita sosial yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Cerita berpusat pada tokoh Mulyadi, seorang peternak kambing yang berani melawan penguasa setelah menyadari bahwa negeri yang dipimpin rajanya ternyata dikendalikan oleh Keraton Siluman.
Bacaaja: Catat Tanggal Mainnya! Keraton Siluman, Lawakan Berisi Kritik Sosial dan Sindiran Menohok
Bacaaja: Gladi Resik Keraton Siluman, Jarwo Kwat Akui Main Teater Lebih Ribet tapi Lebih Seru
Namun perjuangannya justru berakhir di penjara. Dari situlah muncul sindiran tajam tentang hukum yang dianggap lebih berpihak pada orang berkuasa dan punya uang dibanding rakyat kecil.
Salah satu dialog yang paling mencuri perhatian berbunyi: “Silakan kalian bersorak senang karena merasa sudah menang. Kubuat kalian tidak tenang, sebab sesungguhnya kami belum tumbang.”
Pementasan berdurasi dua jam itu turut menghadirkan komedian senior seperti Jarwo Kwat, Denny Chandra, dan Furry Setya.
Sutradara pertunjukan, Atut Ayam, mengatakan kritik sosial dalam teater ini sengaja dibungkus dengan komedi supaya tetap ringan dinikmati tanpa kehilangan pesan yang ingin disampaikan.
“Kami mengkritik tanpa harus menjatuhkan,” ujarnya.
Dalam cerita tersebut, Denny Chandra memerankan Raja Paksa, sosok pemimpin yang disebut “terpaksa dipilih” karena dianggap jadi satu-satunya pilihan.
Sementara Jarwo Kwat tampil sebagai Patih Serigalau, patih kerajaan yang terus dibuat bingung oleh tingkah sang raja.
Ada juga tokoh Raja Siluman yang diperankan Ian Bukan Kasela. Karakter ini digambarkan sebagai “penguasa di balik penguasa”.
“Atas siapa pun yang memimpin, hasilnya akan tetap sama karena ada raja di balik raja,” kata Atut.
Jarwo Kwat mengaku menikmati pengalaman tampil di teater tersebut karena terasa berbeda dibanding lawakan televisi biasa.
Menurutnya, banyak adegan yang terasa relate dengan kondisi komunikasi antara pemimpin dan rakyat.
Sementara itu, Denny Chandra menilai unsur komedi sengaja dimasukkan supaya masyarakat lebih tertarik menonton teater.
“Kalau cuma teater serius kadang susah menarik penonton. Makanya kami hadirkan komedi tanpa menghilangkan marwah teater,” katanya.
Ian Bukan Kasela menambahkan, Keraton Siluman bukan cuma menyentil penguasa, tapi juga kebiasaan masyarakat sehari-hari yang kadang terasa lucu jika dilihat dari atas panggung.
“Kami merespons fenomena sekitar. Ada kebiasaan masyarakat yang ketika diangkat ternyata menggelitik,” ujarnya.
Lewat pertunjukan ini, para seniman berharap teater bisa kembali dekat dengan masyarakat sekaligus menjadi ruang refleksi sosial yang tetap menghibur. (*)

