BACAAJA, SEMARANG – Jarwo Kwat biasanya dikenal lewat lawakan spontan di atas panggung. Tapi kali ini, komedian senior itu mencoba tantangan baru dengan ikut bermain dalam pertunjukan teater Keraton Siluman garapan Teater Gemati Semarang.
Buat Jarwo, pengalaman ini terasa berbeda karena dunia teater punya pola permainan yang nggak sama dengan lawak panggung yang selama ini ia jalani.
“Kalau teater itu memang butuh karakter yang kuat, memerankan peran, terus lebih condong ke skrip dengan dialog-dialognya,” tuturnya saat ditemui di Semarang, Jumat (22/5/2026).
Bacaaja: Catat Tanggal Mainnya! Keraton Siluman, Lawakan Berisi Kritik Sosial dan Sindiran Menohok
Bacaaja: Jarwo Kwat hingga Denny Candra akan Tampil di Keraton Siluman, Jangan Lupa Nonton Ya!
Ia mengaku selama ini lebih terbiasa tampil dengan improvisasi spontan. Sementara di teater, pemain harus benar-benar masuk ke karakter dan mengikuti alur cerita yang sudah dibangun.
“Tapi kalau lawak panggung itu kita lebih banyak improvisasinya, spontanitas,” imbuhnya.
Meski begitu, Jarwo justru melihat tantangan itu sebagai sesuatu yang menarik. Menurutnya, perpaduan antara komedi dan teater di Keraton Siluman bisa melahirkan warna pertunjukan yang lebih segar.
“Nah, inilah mungkin ada sesuatu yang baru nantinya di sini. Bagaimana penggabungan teater, kemudian ada pelawak juga ikut bermain,” katanya.
Dalam pertunjukan itu, Jarwo memerankan tokoh Patih yang sering dibuat galau oleh rajanya sendiri. Sang raja digambarkan suka bikin pidato dan kebijakan yang membingungkan rakyat.
Dari situ muncul banyak dialog satir yang menyinggung kondisi sosial masyarakat sekarang. Tapi semuanya dibungkus dengan gaya bercanda khas panggung komedi.
“Saya yakin ini seru Keraton Siluman. Enggak tahu seperti apa nantinya, yang penting ngeri-ngeri sedap kayaknya sih,” ujarnya sambil tertawa.
Jarwo juga mengaku senang bisa ikut terlibat dalam pagelaran teater bersama anak-anak muda Semarang.
Menurutnya, seni pertunjukan seperti ini penting untuk terus hidup karena bisa jadi ruang hiburan sekaligus kritik sosial yang lebih santai dan mudah diterima masyarakat. (bae)

