BACAAJA, SEMARANG – Maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus dan pesantren bikin mahasiswa hingga dosen di Jawa Tengah angkat suara.
Mereka yang tergabung dalam Scholars Against Sexual Violence (SASV), yang merupakan aliansi dari Gerakan Mahasiswa S3 Universitas Islam Negeri Walisongo (Gemas UIN WS) mendesak pemerintah dan lembaga pendidikan buat nggak lagi tutup mata terhadap kasus-kasus kekerasan seksual yang terus bermunculan.
Aliansi ini berisi mahasiswa doktoral UIN Walisongo Semarang bersama sejumlah akademisi, kiai, aktivis perempuan, dan dosen dari berbagai kampus di Jawa Tengah. Mulai dari Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo, UIN Sunan Kudus, Sekolah Tinggi Islam Kendal, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam Pati.
Bacaaja: Korban Jangan Takut Bicara, UIN Walisongo Bentuk Tim Investigasi Dugaan Kekerasan Seksual
Bacaaja: Pria Begitar di Balik Dugaan Pelecehan Mahasiswi UIN Walisongo, Kampus Bentuk Tim Gabungan
Koordinator SASV Gemas UIN WS, Indar Wahyuni, mengatakan pihaknya prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di dunia pendidikan.
“Yang jelas kami menyatakan keprihatinan mendalam terhadap maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus maupun pesantren,” tegas Indar, dosen STAI PAti, Jumat (22/5/2026).
Menurut Indar, SASV Gemas UIN WS menilai kampus dan pesantren seharusnya jadi ruang aman untuk belajar dan berkembang, bukan malah jadi tempat munculnya kekerasan.
Aliansi juga menegaskan kalau tindakan oknum pelaku nggak boleh sampai merusak citra seluruh pendidik.
“Masih banyak guru, dosen, kiai, dan ustaz yang menjaga integritas serta mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, dan mengutuk keras segala bentuk kekerasan seksual,” ucap pengurus ISNU Jateng itu.
Sampaikan 4 tuntutan
Dalam pernyataannya, SASV Gemas UIN WS menyampaikan empat tuntutan utama kepada perguruan tinggi dan lembaga pendidikan:
- Membentuk dan memperkuat satgas pencegahan serta penanganan kekerasan seksual yang independen dan berpihak pada korban.
- Menindak tegas pelaku kekerasan seksual tanpa pandang jabatan, status sosial, maupun otoritas keagamaan.
- Membangun budaya pendidikan yang aman, sehat, beretika, dan menghormati martabat manusia.
- Mengedepankan edukasi soal etika, relasi kuasa, dan perlindungan peserta didik sebagai tanggung jawab moral lembaga pendidikan.
Aliansi juga mendesak pemerintah supaya lebih serius mengawasi kampus dan pesantren, termasuk memberi sanksi tegas kepada pelaku maupun lembaga yang dianggap lalai.
“Kami percaya ilmu pengetahuan tidak bisa tumbuh di ruang yang penuh ketakutan dan kekerasan,” ujarnya.
Menurut SASV Gemas UIN WS, pendidikan yang sehat hanya bisa lahir dari lingkungan yang aman, manusiawi, dan berakhlak. (*)

