Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor

T. Budianto
Last updated: Mei 17, 2026 12:26 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
RUTINITAS MUSIMAN: Sampai kapan banjir dan longsor di Kota Semarang dianggap sebagai rutinitas musiman yang “wajar” terjadi?
RUTINITAS MUSIMAN: Sampai kapan banjir dan longsor di Kota Semarang dianggap sebagai rutinitas musiman yang “wajar” terjadi?
SHARE

Tajuk Rencana

 

HUJAN deras yang mengguyur Kota Semarang pada Jumat, 15 Mei 2026 kembali meninggalkan cerita lama yang terus berulang. Kawasan Ngaliyan dan Tugu kembali terendam banjir.

Jalan rusak, tanggul jebol, talut longsor, rumah warga dipenuhi lumpur, hingga aktivitas masyarakat lumpuh dalam hitungan jam. Bahkan di tengah situasi itu, ada warga yang hanyut dan meninggal.

Data BPBD Kota Semarang mencatat 556 kepala keluarga terdampak akibat bencana tersebut. Di sejumlah titik, warga harus berjibaku membersihkan rumah, menyelamatkan barang, hingga bergotong royong menutup longsoran dan tanggul yang jebol dengan alat seadanya. Sebagian warga bahkan memilih berjaga semalaman karena khawatir longsor dan banjir susulan kembali terjadi.

Ironisnya, peristiwa seperti ini bukan lagi kejadian baru bagi warga Semarang, khususnya di wilayah Ngaliyan dan Tugu. Hampir setiap musim hujan datang, masyarakat kembali dihadapkan pada pola bencana yang sama.

Air meluap, drainase tak mampu menampung debit hujan, jalan rusak, lalu pemerintah turun melakukan penanganan darurat. Setelah situasi mereda, kekhawatiran warga perlahan tenggelam hingga hujan besar berikutnya kembali datang membawa persoalan yang sama.

Di titik inilah publik perlu bertanya secara serius: sampai kapan banjir dan longsor dianggap sebagai rutinitas musiman yang “wajar” terjadi?

Semarang memang memiliki tantangan geografis yang kompleks. Wilayah atas rawan longsor, sementara kawasan bawah rentan banjir dan rob. Namun kondisi geografis seharusnya tidak menjadi alasan untuk membiarkan masyarakat hidup berdampingan dengan ancaman bencana tanpa solusi jangka panjang yang jelas.

Banjir di Ngaliyan dan Tugu tidak bisa hanya dilihat sebagai akibat hujan deras semata. Ada persoalan tata ruang, alih fungsi lahan, kapasitas drainase, sedimentasi saluran air, hingga lemahnya pengendalian pembangunan di kawasan rawan yang harus dievaluasi secara menyeluruh.

Infrastruktur Rentan

Kerusakan tanggul di Bringin, longsor di Karonsih Selatan, rusaknya jalan di Silayur dan Purwoyoso menjadi sinyal bahwa infrastruktur pengendalian bencana di beberapa titik masih rentan menghadapi cuaca ekstrem. Saat hujan dengan intensitas tinggi datang beberapa jam saja, dampaknya langsung meluas ke permukiman dan fasilitas publik.

Pemerintah Kota Semarang memang patut diapresiasi atas respons cepat dalam penanganan darurat. Distribusi bantuan logistik, pengerahan petugas lapangan, penyedotan genangan, hingga pembersihan lumpur dilakukan relatif cepat. Warga terdampak setidaknya tidak merasa dibiarkan sendirian menghadapi bencana.

Namun penanganan darurat tidak boleh menjadi satu-satunya pola kerja yang terus diulang setiap tahun. Kota sebesar Semarang membutuhkan langkah mitigasi yang lebih terukur, terencana, dan berani.

Evaluasi besar terhadap sistem drainase perkotaan harus dilakukan secara serius, terutama di kawasan yang selama ini menjadi titik langganan banjir. Pemerintah juga perlu mempercepat normalisasi saluran, penguatan talut dan tanggul, serta memperketat pengawasan pembangunan di daerah rawan longsor.

Selain itu, edukasi mitigasi kepada masyarakat juga penting diperkuat. Cuaca ekstrem kini menjadi ancaman nyata yang frekuensinya semakin meningkat akibat perubahan iklim. Sistem peringatan dini, kesiapsiagaan lingkungan, hingga jalur evakuasi harus mulai menjadi bagian dari budaya masyarakat perkotaan.

Yang tidak kalah penting, pemerintah perlu membangun komunikasi yang terbuka kepada publik terkait peta kerawanan bencana dan progres penanganannya. Sebab warga bukan hanya membutuhkan bantuan setelah bencana datang, tetapi juga kepastian bahwa ada upaya serius agar bencana serupa tidak terus berulang.

Semarang tentu tidak bisa sepenuhnya bebas dari hujan deras. Tetapi Semarang seharusnya bisa mengurangi risiko ketika hujan datang. Kota yang baik bukan kota yang tidak pernah terkena bencana, melainkan kota yang siap menghadapi bencana dengan sistem yang kuat dan perlindungan yang jelas bagi warganya.

Karena yang paling berbahaya dari banjir dan longsor bukan hanya genangan air atau tanah yang runtuh. Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai terbiasa hidup dalam ancaman bencana dan menganggap semua itu sebagai hal yang normal. (*)

 

You Might Also Like

Sumur Pertamina di Subang Bocor dan Meledak, Dua Pekerja Jadi Korban

Hantavirus Lagi Rame, Semarang Masih Aman tapi . . . .

Oplosan Elpiji Beromzet Miliaran Terbongkar di Semarang

DPRD Minta Plaza Simpang Lima Dihidupkan Lagi

Tukar Botol Jadi Lumpia: Semarang Pecah Rekor Dunia

TAGGED:banjir semarangbpbd semarangheadlinepemkot semarangpemprov jatengtajuk rencana
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kerusakan Jalan Pascabanjir di Silayur Langsung Diperbaiki
Next Article Bajir Lumpur Terjang Purwoyoso Ngaliyan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Benarkah Petani Jateng Makin Sejahtera? NTP Juni 2026 Tembus 118,27

Harta Karun 134 Tahun Pulang ke Semarang, Pemkot Siapkan Museum Maritim

Bidik Relokasi Industri Vietnam, Jateng Bersolek Perkuat Pelabuhan

Semarang Pulangkan Jejak Sejarahnya

Tembok Baru Mahesa Jenar! PSIS Resmi Boyong Andy Setyo

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Hingga Akhir 2025

Oktober 1, 2025
Unik

Kuota Terbatas, Kota Semarang Butuh Tambahan SLB Negeri

Juni 23, 2025
APRESIASI DARI KBRI - Wakil Duta Besar KBRI Tokyo, Maria Renata, pada Jumat (1/5/2026) secara resmi melepas 3 pengemudi tangguh asal Indonesia lulusan JIDS: Azzam Al Antar, Dwi Harjanto, dan Seto Ramadhan Siswadi, yang akan bertugas untuk Meitetsu Bus di Toyota, Aichi. Ketiganya masuk jajaran sopir asing pertama yang bekerja di sektor transportasi publik di Aichi.
Info

KBRI Tokyo Kasih Apresiasi, Tiga Lulusan JIDS Jadi Driver Bus Asing Pertama di Aichi Jepang

Mei 5, 2026
SEKRETARIS DPD - Sekretaris DPD PDIP Jateng, Sumanto.
Politik

PDIP Sragen Pasang Target Tinggi di 2029: Rebut Lagi Kursi Bupati, Borong 20 Kursi DPRD

Mei 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?