BACAAJA, SEMARANG – Siapa sangka, logat khas Semarang yang dulu identik sama tongkrongan angkringan dan obrolan warung kopi sekarang malah makin sering muncul di media sosial.
Di tengah ramainya bahasa gaul di dunia digital yang terus berubah tiap minggu, dialek Semarangan ternyata masih punya tempat sendiri di hati banyak orang.
Bahkan, nggak sedikit perantau yang mengaku langsung kangen rumah setelah dengar logat khas Kota Lumpia lewat video TikTok, Instagram, atau platform media sosial lainnya.
Bacaaja: Dialek Semarangan Bertahan di Tengah Gempuran Bahasa Jaksel dan Slang TikTok
Bacaaja: ‘Ndes’ Mulai Jarang Kedengeran, Dialek Semarangan Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan
Fenomena itu dirasakan langsung Udin Larahan, pemilik Angkringan West Semarang.
Menurut Udin, logat Semarang yang muncul di media sosial justru terasa lebih natural dan dekat di telinga orang-orang.
“Banyak yang komen jadi kangen Semarang setelah dengar logatnya. Apalagi yang merantau ke Jakarta atau luar kota,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Ia sendiri mengaku awalnya nggak menyangka kalau gaya ngomong tongkrongan khas Semarang bisa ramai dan diterima luas di media sosial.
Soalnya, buat warga Semarang, bahasa seperti itu sebenarnya ya bahasa sehari-hari biasa saat nongkrong sama teman.
“Dialek Semarang itu ya ngalir aja. Dari dulu memang bahasa tongkrongan sehari-hari,” katanya.
Menariknya, di tengah gempuran istilah viral ala media sosial, dialek Semarangan justru dianggap punya karakter sendiri. Cara ngomong yang medok, spontan, dan ceplas-ceplos malah bikin suasana obrolan terasa lebih hidup dan akrab.
Kalimat-kalimat khas seperti “ndes”, “pye to”, atau “matamu” sekarang mulai sering muncul lagi di konten-konten video pendek dan malah bikin banyak orang ketawa atau nostalgia.
Menurut Udin, media sosial sekarang jadi tempat baru buat menjaga bahasa daerah tetap hidup. Kalau dulu logat Semarang berkembang lewat tongkrongan, sekarang penyebarannya bisa lewat konten TikTok, reels Instagram, sampai video receh sehari-hari.
“Sekarang anak muda lebih sering lihat konten dibanding nongkrong. Jadi media sosial bisa jadi tempat bahasa Semarang tetap hidup,” jelasnya.
Sebagai pemilik angkringan, Udin juga sering ketemu pengunjung dari luar kota yang datang karena penasaran sama vibe tongkrongan Semarang yang mereka lihat di media sosial.
Nggak sedikit yang sengaja mampir cuma buat ngerasain suasana ngobrol khas Semarang secara langsung.
“Bahasa Semarang itu punya ciri khas sendiri. Kadang orang luar dengar malah merasa unik dan lucu,” ujarnya sambil tertawa.
Meski sekarang mulai ramai lagi di media sosial, Udin tetap berharap anak muda Semarang nggak malu pakai logat daerah sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
Karena buatnya, bahasa daerah bukan cuma soal gaya ngomong, tapi bagian dari identitas kota yang kalau nggak dijaga bisa hilang pelan-pelan.
“Kalau orang Semarang sendiri sudah jarang pakai bahasa Semarang, lama-lama bisa hilang, py to ndes-ndes,” tutupnya. (dul)

