BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang ngga main-main ngawasin koridor Jalan Prof Hamka, terutama di kawasan rawan Tanjakan Silayur. Lewat pemasangan portal pembatas setinggi 3,4 meter dan penjagaan rutin di kawasan Kedungpane sampai Simpang Jrakah, sedikitnya 50 kendaraan berat setiap hari dicegah masuk jalur tersebut.
Aturannya jelas. Kendaraan dengan tonase di atas 8 ton dilarang melintas mulai pukul 05.00 sampai 23.00 WIB. Selama jam itu, sopir truk yang nekat masuk bakal diminta putar balik atau nunggu sampai jam pembatasan selesai.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Semarang, Dody Febrianto mengatakan, pengawasan dilakukan setiap hari setelah beberapa insiden kecelakaan di kawasan Silayur bikin jalur itu makin disorot.
Baca juga: Silayur Itu Bukan Jalan, Tapi “Ujian Mental” Pengendara
“Rata-rata dalam sehari ada sekitar 50 kendaraan berat yang kami putarbalikkan,” ujar Dody, kemarin. Mayoritas kendaraan berat itu datang dari luar kota, mulai Jakarta, Surabaya, sampai luar Pulau Jawa.
Menurut Dody, banyak sopir ternyata belum tahu kalau jalur Prof Hamka sekarang punya pembatasan ketat. Makanya selain berjaga di lapangan, Dishub juga mulai gencar sosialisasi supaya pengemudi logistik nggak asal masuk jalur.
Dua Titik
Petugas Dishub sendiri berjaga bergantian di dua titik utama, yakni portal Wates Kedungpane dan portal Simpang Jrakah. Portal di Jrakah yang sebelumnya sempat rusak kini juga sudah diperbaiki supaya pengawasan lebih maksimal.
Bukan cuma truk, bus besar yang hendak melintas ke Jalan Prof Hamka juga ikut diarahkan cari jalur alternatif atau menunggu sampai aturan pembatasan selesai.
Yang menarik, Pemkot juga mulai waspada soal efek “kabur jalur”. Jangan sampai truk-truk gede yang dilarang lewat Prof Hamka malah pindah masuk ke kawasan Gunungpati menuju Boja yang jalannya sempit dan menanjak. Karena itu, patroli rutin juga diterjunkan di jalur tersebut.
Baca juga: Pasang Portal, Cara Pemkot Jinakkan “Zona Horor” Silayur
“Kami patroli untuk memberikan imbauan agar kendaraan berat tidak melintas ke jalur Gunungpati karena kondisi jalannya cukup rawan,” jelas Dody. Pemkot menegaskan pengamanan di koridor Prof Hamka ini bukan sekadar reaksi sesaat.
Pengawasan bakal terus dilakukan sebagai bagian dari penataan lalu lintas jangka panjang demi mencegah kecelakaan serupa terulang lagi di Tanjakan Silayur.
Kadang yang bikin jalan berbahaya bukan tanjakannya, tapi rasa “masih bisa lewat” dari kendaraan yang sebenarnya sudah jelas-jelas terlalu berat. (tebe)

