Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Fokus

Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri

T. Budianto
Last updated: Mei 11, 2026 8:51 am
By T. Budianto
4 Min Read
Share
DIALEK SEMARANGAN - Dialek Semarangan bukan sekadar logat bahasa, tapi merupakan identitas.
DIALEK SEMARANGAN - Dialek Semarangan bukan sekadar logat bahasa, tapi merupakan identitas.
SHARE

TAJUK RENCANA

 

KOTA selalu berubah. Gedung bertambah tinggi, jalan makin padat, kafe tumbuh di setiap sudut, dan bahasa ikut berubah diam-diam tanpa banyak orang sadar. Semarang hari ini mungkin terlihat makin modern, makin rapi, makin urban. Tapi di balik geliat kota yang terus berlari itu, ada satu identitas yang perlahan seperti kehilangan rumahnya sendiri: dialek Semarangan.

Dulu, logat Semarang begitu mudah dikenali bahkan hanya dari satu-dua kalimat. Cara bicara warga pesisir yang ceplas-ceplos, santai, egaliter, dan tanpa banyak basa-basi menjadi warna khas kota ini. Ada partikel-partikel kecil seperti “ik ta”, “ok”, “hek-eh”, “ndha”, “ndhes”, sampai intonasi khas yang terdengar akrab di pasar, gang kampung, warung kopi, terminal, hingga obrolan antartetangga.

Dialek Semarang bukan sekadar cara berbicara. Ia adalah identitas sosial. Ada kehangatan di dalamnya. Ada rasa setara tanpa jarak. Orang Semarang dulu bisa akrab hanya lewat logat. Bahkan umpatan pun sering terdengar lucu, bukan kasar. Dialek itu hidup sebagai perekat sosial warga kota. Namun sekarang, suara itu mulai jarang terdengar.

Generasi muda Semarang hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang seragam. Konten media sosial, budaya influencer, bahasa viral TikTok, hingga gaya bicara para kreator Jakarta dan luar negeri perlahan membentuk cara komunikasi baru. Anak-anak muda kini lebih fasih memakai istilah “literally”, “anjay”, “valid”, atau logat Jakarta ketimbang partikel khas Semarang yang dulu begitu akrab di telinga.

Ironisnya, banyak anak muda Semarang justru mulai merasa logat daerah terdengar “ndesa”, kurang modern, atau tidak keren dipakai di ruang publik. Akibatnya, dialek lokal makin tersisih ke ruang-ruang sempit: obrolan orang tua, percakapan tukang becak, atau sisa-sisa percakapan warga kampung yang masih bertahan. Fenomena ini bukan sekadar soal perubahan bahasa biasa. Ini tentang hilangnya identitas kota secara perlahan.

Bahasa dan dialek sejatinya bukan cuma alat komunikasi. Ia menyimpan sejarah, karakter masyarakat, cara berpikir, bahkan mentalitas sebuah daerah. Ketika dialek Semarang hilang, maka yang ikut memudar bukan hanya kosakata, tetapi juga watak sosial masyarakat pesisir yang terbuka, cair, dan egaliter.

Identitas Sosial

Yang lebih menyedihkan, hilangnya dialek ini terjadi justru di kota asalnya sendiri. Semarang perlahan menjadi kota yang modern secara fisik, tetapi kehilangan “bunyi” khas dari warganya. Anak-anak muda mungkin masih hafal spot nongkrong terbaru di Kota Lama, tetapi tak lagi memahami logat khas yang dulu membentuk identitas sosial kota ini.

Padahal di banyak kota besar dunia, identitas linguistik justru dirawat sebagai kebanggaan budaya. Dialek lokal dipakai dalam festival, konten kreatif, film, musik, hingga ruang pendidikan informal. Sementara di Semarang, dialek lokal malah sering dianggap bahan candaan atau simbol keterbelakangan.

Tentu bahasa akan selalu berkembang. Tidak mungkin generasi sekarang dipaksa berbicara persis seperti generasi sebelumnya. Tetapi perkembangan tidak harus berarti kehilangan akar. Modernitas tidak seharusnya membuat masyarakat malu terhadap identitas bahasanya sendiri.

Sudah saatnya dialek Semarang kembali diberi ruang hidup. Bukan hanya lewat nostalgia, tetapi lewat keberanian menghidupkannya dalam keseharian. Konten kreator lokal, media, komunitas seni, sekolah, hingga pemerintah kota seharusnya mulai melihat dialek Semarang sebagai aset budaya yang layak dirawat, bukan sekadar logat pinggiran.

Sebab, kota tanpa dialek lokal lambat laun akan kehilangan suaranya sendiri. Semua akan terdengar sama, datar, dan seragam. Dan ketika itu terjadi, Semarang mungkin masih punya bangunan tua, wisata estetik, dan pusat kuliner yang ramai. Tetapi identitas paling jujur dari warganya justru sudah tenggelam lebih dulu.

Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Semarang hanya akan mengenal kata “ik ta” atau “hek-eh” dari unggahan arsip media sosial dan cerita generasi tua. Saat itu terjadi, kita baru sadar bahwa yang hilang ternyata bukan sekadar logat, melainkan jiwa sebuah kota yang perlahan lupa cara berbicara dengan dirinya sendiri. (*)

You Might Also Like

Semarang Zoo Kasih HTM 10 Ribu + Pelajar Masuk Gratis

Semarang Kebanjiran (Lagi), Pakar: Jangan Cuma Ribut di Hilir

Pilot Asing Ditangkap di Bandara Soetta, Bawa 70 Ribu Butir Ekstasi dalam Koper

Semarang Jadi “Meja Rapat” ASEAN: Efektivitas MBG Jadi Fokus

KPK Tanggapi Kabar OTT Bupati Pati Sudewo, Jubir: Kami akan Sampaikan

TAGGED:dialek semaranganheadlinepemkot semarangtajuk rencana
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Seluruh Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan
Next Article DAPUR MARHAEN - Warga antusias mendatangi Dapur Marhaen di Kantor DPD PDIP Jateng, Minggu (10/5/2026). Dapur Marhaen digelar di seluruh kantor PDIP di Jawa Tengah pada tanggal 10, setiap bulan. (dul) Bagi Rakyat Kecil, Dapur Marhaen Bukan Cuma Soal Makan Gratis: Kami Merasa Diperhatikan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang

Wayang Jadi Jurus Dakwah Sunan Kalijaga

Warga Takut Kasus Geotermal Dieng Terulang di Gunung Ungaran

CEK KESEHATAN RUTIN - PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah mendorong seluruh personel untuk mengenali kondisi tubuh melalui pelaksanaan Daily Health Checking. Pemeriksaan rutin kesehatan ini dilakukan bagi personel sebelum memulai aktivitas kerja.

PLN Icon Plus Dorong Penerapan Budaya HSSE melalui Daily Health Checking

AKSI DI GUBERNURAN--Warga yang melakukan aksi jalan kaki dari Gedong Songo membaur dengan massa aksi Jateng Guyub di depan Gubernuran, Semarang, Kamis (24/9/2026). (bae)

Jalan Kaki dari Gedong Songo, Warga Suarakan Penolakan Geotermal di Gubernuran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tumbuh

Agustina Gaspol Atasi Sampah Organik Lewat Program Gumregah

September 14, 2025
Keseruan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). Acara seperti ini menjadi langkah penting untuk sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah.
Info

Meet & Greet SMAN 6 Semarang, Densus: 22 Pelajar Jateng Terpapar Paham Radikal, Banyak dari Medsos

Februari 10, 2026
Hukum

Pasang Portal, Cara Pemkot Jinakkan “Zona Horor” Silayur

April 27, 2026
TERDAKWA KORUPSI--Bupati Pati nonaktif, Sudewo, dikawal relawannya saat keluar dari ruang sidang Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (22/6/2206). (bae)
Hukum

Kuasa Hukum Bupati Sudewo Minta Hakim Batalkan Dakwaan Rp6,3 Miliar

Juni 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Dialek Semarang yang Kian Tenggelam di Kota Sendiri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?