BACAAJA, SEMARANG- Sengketa kursi panas di PDAM Tirta Moedal belum rampung. Direksi yang kemarin menang gugatan, masih diajak duel lagi karena Wali Kota Semarang ngajuin banding.
Artinya, tiga mantan bos PDAM masih harus melawan keputusan pemecatannya. Pemkot merasa pemecatan kemarin sudah sesuai prosedur evaluasi kinerja yang bener.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti bilang, banding ini diambil supaya tata kelola perusahaan pengolahan air nggak keganggu urusan meja hijau. Pemkot kekeuh kalau pemecatan kemarin adalah hasil evaluasi kinerja demi pelayanan yang lebih prima.
Baca juga: Direksi Baru PDAM Dilantik, Air Harus Lancar, Keluhan Jangan Ngantri
Agustina menjamin kalau ribut-ribut di pengadilan ini nggak bakal bikin air di rumah warga mampet. Dirinya merasa punya tanggung jawab buat mastiin PDAM dipegang tim yang lebih profesional.
“Upaya banding ini merupakan langkah konstitusional kami demi menjaga stabilitas perusahaan dan kepentingan warga Semarang,” tegas Agustina, Jumat (8/5/2026).
Karena ada upaya banding, otomatis putusan pengadilan tingkat pertama belum bisa dijalankan. Jadi, manajemen PDAM yang sekarang menjabat diklaim masih sah dan punya legal standing yang kuat.
Sempat Menang
Padahal sebelumnya, tiga mantan direktur yakni E Yudi Indarto, Indra Gunawan, dan Anom Guritno sempat bernapas lega. Gugatan mereka dikabulin seluruhnya oleh hakim PTUN Semarang karena pemecatan dianggap nggak sah.
Hakim bahkan memerintahkan Wali Kota buat mencabut SK pemecatan dan balikin jabatan mereka. Nama baik ketiganya juga harus direhabilitasi karena dianggap nggak ada kesalahan fatal.
Kuasa hukum eks direksi, Muchtar Hadi Wibowo merasa kliennya dizalimi karena dipecat sangat mendadak. Padahal menurut hasil evaluasi BPKP, kinerja para direktur ini sebenarnya masuk kategori sehat.
Baca juga: Hidran Terkubur Cor, PDAM Gas Evaluasi
“Putusan ini bukti kalau pemecatan kemarin memang tidak sesuai prosedur hukum,” sindir Muchtar.
Meski kubu eks direksi mendesak jabatan segera dibalikin, Wali Kota Semarang milih buat terus melawan. Perseteruan antara penguasa balai kota versus para mantan pejabatnya ini pun dipastikan makin panjang.
Dan seperti banyak drama jabatan lainnya, warga cuma bisa berharap satu hal sederhana: air tetap ngalir, meski ego di atas kursi direksi lagi sama-sama deras. (bae)

