BACAAJA, SEMARANG- Kemacetan lalu lintas di Kota Semarang seakan menjadi “teman harian” bagi para pekerja jalanan. Bagi sebagian orang mungkin hanya soal terlambat beberapa menit, tapi bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari kecepatan, macet bisa berarti berkurangnya pemasukan.
Arif (32), pengemudi ojek online asal Bawen yang kini tinggal di Ngaliyan, merasakan betul dampaknya. Hampir setiap hari ia harus berjibaku dengan kemacetan, terutama di kawasan Ngaliyan hingga Krapyak saat jam pulang kerja.
“Kalau dari arah kota itu macetnya lumayan parah, apalagi sore. Kadang bikin orang sampai misuh,” katanya sambil tersenyum tipis, Rabu (6/5/2026). Bagi Arif, waktu adalah uang.
Baca juga: Macet, Lalai, dan Minim Sistem: Ujian Nyata Keselamatan Berkendara di Semarang
Semakin lama di jalan, semakin besar peluang kehilangan orderan. Ia harus pintar membagi waktu untuk menjemput pelanggan sekaligus mengejar target harian.
“Biasanya jemput kustomer dari Pamularsih itu 10 menit. Tapi kalau sore bisa jadi 15 sampai 20 menit. Kalau macetnya cuma 5 menit sih masih wajar, tapi ini seringnya lebih dari itu,” jelasnya.
Kondisi tersebut tak jarang membuatnya harus mengikhlaskan orderan lain yang terlewat. Dampaknya pun langsung terasa pada penghasilan. “Ya jelas berpengaruh. Kita ini kan dikejar target juga. Jadi kalau macet begini, penghasilan ikut kena,” ujarnya.
Keluhan Pelanggan
Ia hanya berharap ada solusi nyata agar kemacetan tidak terus berulang setiap hari. “Harapannya sih ada jalan keluar, biar kerja juga lebih enak,” tambahnya.
Cerita serupa datang dari Adit (29), kurir makanan asal Pekalongan yang kini berdomisili di Kalipancur. Ia mengaku pernah berada di posisi yang tidak mengenakkan saat harus menghadapi keluhan pelanggan akibat keterlambatan.
“Saya pernah dimarahi customer karena lama nganter makanan. Padahal ya karena macet,” ungkapnya. Meski sempat tertekan, Adit memilih menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Baca juga: Fix, Tambah Macet! Turunan Gombel Lama Resmi Ditutup untuk Perbaikan Jalan
“Saya jelasin baik-baik kalau lagi macet, dan akhirnya customer ngerti. Soalnya ini bukan sepenuhnya salah kurir. Kita juga sudah berusaha cepat, tapi memang kondisi jalannya begitu,” katanya.
Kemacetan di sejumlah titik di Semarang seperti Ngaliyan, Krapyak memang kerap terjadi, terutama saat jam sibuk. Bagi para pekerja seperti Arif dan Adit, situasi ini bukan sekadar gangguan, melainkan tantangan harian yang harus dihadapi. Di tengah padatnya lalu lintas, mereka tetap melaju, mengejar waktu, sambil berharap suatu hari jalanan bisa lebih bersahabat.
Di kota yang katanya terus berkembang, jalanan justru makin “diam di tempat”. Yang ngebut malah bukan kendaraan, tapi tagihan hidup yang terus jalan, sementara roda di aspal sering kali cuma bisa pasrah ikut antre. (dul)

