BACAAJA, YOGYAKARTA – Langkah kecil dari kamera ponsel ternyata bisa jadi pintu masuk ke dunia kesehatan gigi yang lebih praktis. Di tengah kebiasaan serba digital, inovasi berbasis Artificial Intelligence mulai merambah ke hal-hal yang sebelumnya terasa ribet, termasuk urusan cek kondisi gigi yang biasanya identik dengan kursi klinik dan alat-alat medis.
Dari lingkungan kampus vokasi, muncul sebuah terobosan yang cukup bikin penasaran. Seorang dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Sekolah Vokasi UGM, Muhammad Fakhurrifqi, berhasil mengembangkan platform skrining kesehatan gigi berbasis AI yang diberi nama Denteksi. Konsepnya sederhana, tapi dampaknya terasa besar.
Denteksi memungkinkan pengguna cukup memotret gigi dari beberapa sudut menggunakan kamera ponsel. Dari situ, sistem akan langsung menganalisis kondisi gigi dan memberikan gambaran umum kesehatan mulut secara keseluruhan. Praktis, cepat, dan bisa dilakukan dari mana saja tanpa harus langsung datang ke dokter.
Tingkat akurasinya juga tidak main-main. Untuk skrining gigi sehat, platform ini mampu mencapai sekitar 90 persen akurasi. Sementara untuk mendeteksi karies atau gigi berlubang, akurasinya sudah menembus angka lebih dari 80 persen, angka yang cukup tinggi untuk tahap skrining awal.
Cerita di balik lahirnya Denteksi ternyata berawal dari masa sulit saat pandemi Covid-19. Kala itu, pembatasan sosial bikin banyak layanan kesehatan, termasuk pemeriksaan gigi, jadi terbatas. Interaksi antara dokter dan pasien ikut terhambat, memunculkan kebutuhan solusi jarak jauh.
Dari situlah ide awal muncul. Rifqi bersama dua rekan dari Puskesmas Kebayoran Baru Jakarta Selatan, drg. Dewi Arifahni dan drg. Dhinintya Hyta Narissi, mulai mengembangkan konsep teledentistry berbasis aplikasi chat. Pasien bisa berkonsultasi tanpa harus tatap muka langsung.
Seiring waktu, minat masyarakat ternyata meningkat. Hal ini mendorong tim untuk mengembangkan sistem yang lebih canggih berbasis computer vision. Teknologi ini memungkinkan analisis visual dari foto gigi yang dikirim pengguna.
Perubahan signifikan pun dilakukan. Jumlah foto yang awalnya banyak disederhanakan jadi tiga sudut utama: depan, atas, dan bawah. Selain itu, ditambahkan juga panduan standar pengambilan gambar agar hasil analisis lebih konsisten dan akurat.
Tidak berhenti di situ, Denteksi kini juga dilengkapi fitur odontogram digital. Fitur ini mampu menampilkan rekam medis gigi lengkap dengan posisi gigi yang bermasalah, jenis gangguan, hingga rekomendasi tindakan lanjutan yang bisa diambil pengguna.
“Kalau dulu periksa gigi harus ketemu dokter satu per satu, sekarang cukup foto bagian depan, atas, dan bawah, langsung kelihatan hasilnya,” ujar Rifqi saat menjelaskan perkembangan platform tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa versi terbaru Denteksi sudah dilengkapi berbagai algoritma tambahan. Hasilnya, laporan yang dihasilkan jadi lebih detail, sistematis, dan akurasinya pun meningkat dibanding versi awal.
Meski begitu, Rifqi tetap menekankan bahwa teknologi ini bukan pengganti dokter. Denteksi berfungsi sebagai alat skrining awal untuk mendeteksi potensi masalah, bukan untuk penegakan diagnosis final.
“Kalau ada indikasi masalah, tetap disarankan konsultasi langsung ke dokter gigi. Diagnosis itu tetap butuh tenaga ahli,” jelasnya, menegaskan batasan penggunaan AI dalam dunia medis.
Menariknya, inovasi ini sudah mendapat banyak respons positif dari para pakar. Dukungan terus mengalir, menandakan bahwa teknologi seperti ini mulai diterima sebagai bagian dari masa depan layanan kesehatan.
Sejak pertama kali dirilis pada Agustus 2022, Denteksi sudah mencatatkan sejumlah prestasi. Saat masih menggunakan nama Senyumin, platform ini berhasil meraih penghargaan dalam Indonesia Health Innovation Award 2022 untuk kategori mutu pelayanan kesehatan.
Tidak berhenti di situ, di tahun yang sama Denteksi juga menyabet Juara 1 pada Konvensi Mutu Tingkat Provinsi DKI Jakarta. Ini menjadi bukti bahwa inovasi berbasis teknologi lokal juga bisa bersaing di level kompetisi.
Perjalanan berlanjut ke tahun berikutnya. Denteksi kembali mendapat pengakuan melalui Jakarta Innovation Awards 2023 yang diselenggarakan oleh Bappeda DKI Jakarta, semakin menguatkan eksistensinya di dunia inovasi kesehatan.
Di balik deretan penghargaan tersebut, ada kredibilitas produk yang terus dijaga. Platform ini berada di bawah naungan PT Senyum Cerdas Indonesia yang memastikan pengembangan dan implementasi berjalan secara profesional.
Dalam praktiknya, Denteksi bahkan mampu melakukan skrining massal dengan cepat. Dalam satu sesi, sekitar 100 anak bisa diperiksa dalam waktu kurang dari tiga jam, efisiensi yang sulit dicapai dengan metode konvensional.
Beberapa daerah sudah merasakan manfaatnya, mulai dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Nusa Tenggara Barat. Meski kolaboratornya belum terlalu luas, akses platform ini sudah dibuka untuk publik secara online.
Hal ini membuka peluang besar bagi masyarakat yang ingin melakukan pengecekan awal tanpa ribet. Apalagi di daerah dengan keterbatasan dokter gigi, solusi seperti ini bisa jadi jembatan penting.
Rifqi pun mengaku terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai pihak ke depannya. Ia melihat Denteksi bukan sekadar aplikasi, tapi sebagai bagian dari solusi jangka panjang untuk pemerataan layanan kesehatan gigi di Indonesia.
Dengan terus berkembangnya teknologi AI, bukan tidak mungkin ke depan Denteksi akan jadi asisten digital yang makin pintar. Bukan untuk menggantikan dokter, tapi untuk membantu mempercepat dan mempermudah akses layanan kesehatan.
Pada akhirnya, inovasi seperti ini membawa harapan baru. Cek kesehatan gigi yang dulu terasa repot, kini bisa dimulai dari hal sederhana: satu jepretan kamera di genggaman. (*)

